Gaya Hidup: Golf Mulai Rambah Anak Muda

KOMPAS

Sabtu, 23 Jun 2007

Halaman: 26

Penulis: R. Adhi Kusumaputra dan Korano Nicolash

Gaya Hidup
GOLF MULAI RAMBAH ANAK MUDA

Oleh R Adhi Kusumaputra dan Korano Nicolash

Golf sejak lama dikenal sebagai olahraga mahal. Pemainnya umumnya
pengusaha, profesional, dan pejabat. Di lapangan golf-lah umumnya
deal-deal bisnis senilai miliaran rupiah, bahkan triliunan rupiah
terjadi. Bahkan muncul pameo: bicara bisnis di lapangan golf, bicara
soal golf di kantor.

Pameo ini setidaknya membuktikan betapa golf sudah menjadi bagian
gaya hidup sebagian masyarakat metropolitan. Namun dalam setahun
terakhir ini, peminat golf sudah merambah ke anak muda. Inilah gaya
hidup baru anak muda Indonesia.

Tren ini muncul setelah program Golf Goes to School diluncurkan
oleh Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia belum lama ini.
Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) memperkenalkan
golf kepada sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya SD, SMP, sampai
SMA di Jabodetabek. Sekolah-sekolah yang dekat dengan padang golf
lebih diprioritaskan.

Mengapa anak muda kini gandrung bermain golf? Keinginan untuk
bermain golf lebih banyak karena pengaruh lingkungan keluarga.
Agnes Retno (17), misalnya. Putri FX Soedjasmin, mantan Wakil
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), ini terjun dalam dunia golf sejak
usia 10 tahun berkat dorongan ayahnya. Retno, siswi kelas 12 Sekolah
Pelita Harapan, menjadi pemain yang kerap mengikuti turnamen.
Agnes mengatakan dapat mengatur waktu antara sekolah dan golf
sehingga dia tidak tertinggal dalam pelajaran sekolah.

Gerry Reuben (10) merasakan hal yang sama. Dia mulai kenal golf
karena diajak ayahnya, Simon Subiyanto, General Manager Imperial Klub
Golf Tangerang, pada usia tiga tahun.
“Waktu itu papa masih kerja di Ciputra Country Club, Surabaya.
Tiap sore aku diajak papa keliling lapangan golf. Tetapi aku baru
mulai bermain golf serius tahun 2003, ketika usiaku lima tahun,”
tutur Gerry, siswa SD St Laurensia, Alam Sutera, Tangerang.

Setelah mempunyai peralatan golf khusus anak, Gerry mulai diajari
ayahnya. Agar dapat melakukan pukulan swing dengan benar, ayahnya
menyediakan guru. “Setiap minggu aku harus ke Imperial Klub Golf,
berlatih pada Rabu dan Jumat. Setiap berlatih paling lama satu jam,
sehingga golf tidak mengganggu pelajaran sekolah,” tuturnya.

“Dalam sebulan, aku dua kali bermain sama papa dan teman di
Padang Golf Gading Raya,” ungkapnya, Kamis (21/6). Karena perbedaan
usia, ayahnya mengawali permainan dari tee box biru, sedangkan Gerry
dan temannya bermain dari tee box merah.

Gerry tak berharap menjadi juara atau pemain pro seperti pegolf
nomor 1, Tiger Woods. “Tapi aku tetap serius. Untuk tahu
perkembangan permainanku, aku mengikuti turnamen Persatuan Golf
Indonesia. Itu pun kalau tak mengganggu sekolah. Seperti turnamen
Yunior Indonesia Open Championship 2007 di Padang Golf Gading Raya,”
jelasnya.

Sementara Ujang Zarem (16), anak seorang kedi di Jagorawi Golf
and Country Club, Bogor, menerima kebaikan hati keluarga Zakir,
pemilik padang golf, sehingga dia memiliki kesempatan bermain. Kini
ia memegang handikap 2,2 sehingga terpilih menjadi pegolf yunior,
bergabung dalam Bank Commonwealth Institute of Golf Jagorawi (BCIOJ).

Ujang bercita-cita menjadi pegolf Indonesia terbaik. “Semua
pegolf yang terpilih masuk ke Bank Commonwealth Institute of Golf
Jagorawi dipersiapkan serius menjadi pegolf profesional. “Mudah-
mudahan 5-10 tahun ke depan Indonesia memiliki pegolf pro yang bisa
berbicara di Asian Tour,” kata Zakir.

Banyaknya anak muda tertarik bermain golf terlihat setelah krisis
ekonomi berakhir. Ini juga imbas dari perkembangan tayangan acara
golf di televisi dengan fenomena Tiger Woods.

Saat ini, artis pun senang bermain golf. Sebut saja Cok Simbara,
Nico Siahaan, anggota DPR Dede Yusuf dan Adjie Massaid.
Ivan Oriza, yang bermain golf sejak usia 10 tahun, mengatakan
bermain golf karena diajak ayahnya, yang waktu itu perwira tinggi
militer. “Kini, dari bermain golf, saya mendapat persetujuan kontrak
bisnis Mega Glodok Kemayoran bernilai triliunan rupiah,” ungkap Ivan.

Filosofi golf
Profesional seperti Danang Kemayan Jati melihat golf memiliki
filosofi hidup yang luar biasa. Dalam golf, pemain harus memuji
lawan. Ini mengandung makna, hidup harus menyenangkan hati orang.

Dalam golf dibutuhkan kejujuran. Pegolf harus jujur sebab bisa saja
bola ditaruh di posisi yang enak karena tak ada yang tahu.
Dalam golf, kata Danang, ada filosofi yang menyatakan hidup itu
tidak pasti. “Sama dengan golf, hari ini main bagus, besok main
buruk. Padahal lapangannya sama dan alatnya sama,” ujar Danang, yang
sudah 15 tahun bermain golf tetapi tetap merasa harus
belajar. “Hidup itu seperti itu juga. Jangan sok pintar, karena
pasti akan ada yang lebih pintar lagi. Harus low profile, selalu
merendah,” kata Danang, anggota Emeralda Golf.

Dalam golf dibutuhkan kejujuran, ketelitian, kepercayaan diri,
dan manajemen. Karena itu, kata Soedjasmin, kalangan eksekutif dan
tentara suka main golf. Sebab, prinsip-prinsip perencanaan,
pelaksanaan, organisasi dan pengawasan, semua ada di sini.

Main golf itu terkait strategi, kita harus lewat mana dan pakai
alat apa. Setiap langkah dalam golf adalah pengambilan keputusan. Dan
lawan kita bermain golf adalah diri kita sendiri, bagaimana mengatasi
rasa lelah, melawan ketidaktelitian, tidak kuat mental. Prinsip ini
berguna bagi perjalanan anak muda.

FOTO di blog ini foto pemandangan lapangan golf Imperial Klub Golf, Lippo Karawaci, Tangerang, Banten. Foto oleh R. Adhi Kusumaputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s