Penyu Sisik Nyaris Punah

Pekan lalu, saya mengunjungi Kepulauan Seribu di utara Jakarta. Selain melakukan scuba diving dan snorkeling di perairan Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun, saya dan dua teman jurnalis lainnya diajak Mas Sumarto (Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu) untuk melepas anakan penyu (tukik) di Pulau Karya. Biota laut yang langka ini dilestarikan di Pulau Pramuka sebagai langkah konservasi yang dilakukan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Berita soal ini dimuat di halaman Metropolitan Kompas.

KOMPAS

Kamis, 14 Jun 2007

Halaman: 26

Penulis: ksp

PENYU SISIK NYARIS PUNAH

Limbah Minyak dan Sampah Plastik Termasuk Penyebab Kematian

JAKARTA, KOMPAS
Penyu sisik (Eretmochelys imbricate), salah satu dari enam jenis
penyu yang hidup di Indonesia, nyaris punah. Populasinya terus
menyusut. Penyebab kematian penyu sisik, antara lain, banyaknya
limbah minyak dan sampah plastik. Upaya melestarikan penyu sisik
dilakukan agar satwa langka itu tidak punah.

Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) Sumarto
mengemukakan itu, Rabu (13/6) pagi, seusai melepas penyu sisik di
Pulau Karya dalam gugus Kepulauan Seribu.

Penyu-penyu itu dilestarikan di Pulau Pramuka dengan bak-bak
penetasan, lalu dilepas di beberapa pulau di kawasan
TNLKS. “Pelestarian dilakukan untuk mengamankan telur penyu dari
gangguan manusia,” kata Sumarto.

Dua puluh tahun silam, sebagian besar pantai berpasir dari 110
pulau di Kepulauan Seribu merupakan tempat peneluran penyu.
Namun, kini tinggal beberapa pulau yang masih dikunjungi penyu
untuk bertelur, yaitu Pulau Peteloran Timur, Peteloran Barat,
Penjaliran Barat, dan Penjaliran Timur, yang lokasinya di utara
kawasan TNLKS.
Lokasi tempat penyu bertelur dipagari agar terhindar dari segala macam predator.

Upaya pelestarian penyu sisik dilaksanakan Dirjen Perlindungan
Hutan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan, bekerja sama dengan
Pemerintah Jepang melalui Japan Bekko Association (JBA).

Kegiatannya, antara lain, penetasan, pembesaran, pemberian tanda,
dan pelepasan penyu sisik. Khusus pelestarian penyu sisik di Pulau
Pramuka dibiayai dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), serta pihak swasta.

Sampah plastik
Sumarto pun prihatin dengan kondisi penyu sisik yang nyaris
punah. Apalagi limbah minyak dan sampah plastik yang semakin banyak
di perairan Kepulauan Seribu, menyebabkan kematian penyu sisik.

Menurut Sumarto, di dalam perut sebagian besar penyu sisik yang
mati terdapat sampah plastik. “Penyu sisik mengira plastik adalah
ubur-ubur, yang memang makanannya. Selain itu, acapkalipenyu sisik
yang mati akibat terbekap plastik. Penyu yang terperangkap masuk
plastik tak bisa mundur lagi,” jelasnya.

Penyu sisik diburu manusia untuk mendapatkan daging dan karapas
(batok) di tubuhnya. Karapas penyu sisik dengan panjang 70-90
sentimeter, dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan yang mahal, serta
untuk gagang kacamata dan perhiasan perempuan. Harga jual satu
karapas penyu itu Rp 300.000. Mahalnya harga karapas membuat banyak
orang memburu penyu sisik. Ini yang membuat hewan itu semakin langka.

Predator penyu sisik juga banyak. Dari 1.000 anak penyu (tukik)
yang lahir, rata-rata hanya satu yang bisa hidup sampai dewasa.
Selain manusia, predator adalah tikus, semut, dan biawak yang memakan
telur penyu. Burung, ikan, dan biawak memburu tukik (anak penyu),
sedangkan ikan besar karnivora melahap penyu dewasa di laut.
Sumarto yakin, dengan upaya pelestarian ini, populasi penyu sisik
akan meningkat. (ksp)

FOTO di blog ini foto tukik, anakan penyu yang dilepas di pantai Pulau Karya di gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s