Sosok: Sumarto dan Masyarakat Kepulauan Seribu

Sumarto sudah memberi banyak kepada masyarakat Kepulauan Seribu. Dia lah yang mengajak masyarakat pulau untuk melakukab budidaya karang hias, budidaya ikan hias, mangrove, yang ternyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, misinya agar ekosistem laut di Kepulauan Seribu terpelihara, berhasil. Wawancara ini dilakukan ketika saya bersama Mas Sumarto di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pekan lalu. Pada saat di pulau itulah Mas Sumarto menerima kabar gembira bahwa dia akan dipromosikan dari eselon III ke eselon II, menjadi Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur. Selamat ya Mas Sumarto. Semoga sukses di tempat baru.

KOMPAS

Kamis, 21 Jun 2007
Halaman: 16
Penulis: R. Adhi Kusumaputra

Sosok

SUMARTO DAN MASYARAKAT KEPULAUAN SERIBU
Oleh R Adhi Kusumaputra

Sejak tahun 2003, Sumarto yang lahir di Surabaya 46 tahun silam
menjadi Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu-di utara
Jakarta. Dia berusaha tak sekadar menjalankan “kewajiban”, tetapi
juga memberdayakan masyarakat pulau sekitar TNLKS agar bisa mandiri
secara ekonomi sekaligus menyelamatkan konservasi sumber daya alam
laut sekitarnya.

Salah satunya dengan menjadikan Pulau Pramuka sebagai permukiman
sekaligus obyek wisata bahari. Pulau yang semula hanya dihuni warga
nelayan itu, pada dua tahun terakhir ini diramaikan oleh kedatangan
wisatawan. Setiap hari sekitar 400-500 orang mengunjungi Pulau
Pramuka. Mereka menikmati “atraksi” wisata bahari yang digelar di
TNLKS.

Sudah lama Kepulauan Seribu dikenal sebagai kawasan wisata.
Namun, tak semua pulau di sini bisa dinikmati pendatang. Kalaupun
bisa, seperti resor yang terletak di Pulau Sepa, Pulau Putri, Pula
Bira, Pulau Pantara, Pulau Matahari, Pulau Bidadari, Pulau Ayer,
Pulau Sebora, dan Pulau Kotok Besar, tarifnya relatif mahal.

Selain itu, industri wisata resor di Kepulauan Seribu
pun “hanya” mampu menyerap 800 tenaga kerja. Dari jumlah itu, 135 di
antaranya penduduk lokal. Itu pun yang bekerja setingkat supervisor
cuma lima orang. Penghasilanmereka sekitar Rp 1 juta per bulan.
Kondisi itulah yang mendorong Sumarto terpikir untuk menjadikan
Pulau Pramuka sebagai obyek wisata bahari sekaligus memberdayakan
masyarakat setempat.

Mengapa Pulau Pramuka? Alasannya, daratan seluas 16 hektar yang
dihuni sekitar 1.500 jiwa itu bisa ditempuh sekitar 60 menit dengan
kapal cepat dari Marina Ancol.

Menjadi pelayan
Awalnya dia membersihkan dan memperindah mes TNLKS di Pulau
Pramuka. Bangunan berkapasitas 90 orang itu dilengkapi pendingin
ruangan dan kasa nyamuk agar nyaman ditempati.

“Pegawai TNLKS dilatih menjadi pelayan, termasuk saya. Ini
supaya kami siap melayani tamu,” kata sarjana Institut Pertanian
Bogor (IPB) yang menyelesaikan pendidikan S-2, magister manajemen, di
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Dia lalu menyiapkan “atraksi” wisata baharinya, antara lain
dengan obyek alam seperti terumbu karang dan padang lamun. Sumarto
juga mengajak warga nelayan yang sebelumnya adalah pencari karang
hias ilegal untuk melakukan budidaya karang hias. Hasilnya? Kini ada
26 kelompok masyarakat yang berbudidaya karang hias.

“Padahal, sebelumnya mereka mencari karang hias menggunakan
(racun) potas yang merusak terumbu karang. Setelah tahu betapa
berharganya karang di laut, mereka berbalik jadi sangat hati-hati,”
ujarnya.

Meski begitu, baru Januari 2007 wilayah Kepulauan Seribu bebas
dari potas. Ini berarti peningkatan kesejahteraan ekonomi untuk
nelayan, sekaligus upaya konservasi sumber daya alam laut pun
tercapai.

Salah satu nelayan yang berhasil adalah Mahmudin (45). Dua tahun
lalu Mahmudin belum punya rumah dan amat bergantung pada
pendapatannya hari itu juga. Kini, dia punya rumah dan berhasil
menjadi pengusaha karang hias. Penghasilan bersihnya kini sekitar Rp
10 juta-Rp 15 juta per bulan.

Sumarto juga membuat pola penanaman mangrove di pulau kecil
berpasir karang. Ini juga dimulainya dari Pulau Pramuka. Selama tahun
2004-2005 sebanyak 1,8 juta mangrove ditanamdi 15 pulau di Kepulauan
Seribu. Kemudian mangrove pun ditanam di 15 pulau lainnya, seperti di
Pulau Panggang, Pulau Karya, Pulau Sepa, Pulau Kotok Besar, Pulau
Semak Daun, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Penjaliran Barat,
Pulau Penjaliran Timur, Pulau Matahari, Pulau Pantara, dan Pulau
Kelapa Dua.

“Pola tersebut menjadi model nasional untuk merehabilitasi
mangrove di pulau kecil dengan media pasir karang,” ungkap mantan
Kepala Subdirektorat Pengamanan Hutan, Departemen Kehutanan (2001-
2003) itu.

Mengemas wisata
Sibuk dengan konservasi, tak berarti Sumarto meninggalkan obyek
wisata bahari Pulau Pramuka. Rintisannya terus berkembang. Agar bisa
dinikmati pendatang dari berbagai kalangan, dia menawarkan berbagai
paket wisata.

Pengunjung bisa memilih mulai dari “sekadar” menikmati terumbu
karang sampai berkenalan dengan biota laut (penyu sisik), mengenali
dan menanam mangrove, serta transplantasi karang hias.

“Tamu juga diajak menikmati panorama alam bahari dan budaya
masyarakat Kepulauan Seribu. Pengunjung yang ingin diving (selam)
atau snorkeling juga dimungkinkan,” kata Sumarto yang juga Ketua
Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kabupaten
Kepulauan Seribu.

Dengan paket wisata yang ditawarkan itu, pengunjung dapat
melancong ke resor wisata Pulau Kotok (lokasi rehabilitasi elang
bondol dan kijang), Pulau Putri (akuarium bawah laut), lokasi
budidaya kelautan (baliho jaring apung), memancing, atau menonton
film tentang TNLKS dan menikmati api unggun.

Kemasan paket wisata bahari yang diciptakan Sumarto ini
menyebabkan kunjungan ke Pulau Pramuka dan sekitarnya meningkat.
Pulau-pulau yang semula tak dilirik orang itu, sekarang bisa
mengundang pengunjung sekitar 300-500 orang pada akhir pekan.

Dengan program yang dikembangkan Sumarto itu, masyarakat
Kepulauan Seribu menjadi peduli terhadap konservasi sumber daya alam
laut, sekaligus berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi penduduk
setempat. Nelayan tak lagi sekadar obyek. Mereka bisa menjadi pekerja
sekaligus pengusaha.

Suami Darmastuti Nugroho (40) ini bercerita, karena istrinya juga
bekerja, maka tak setiap hari mereka bisa bersama-sama. “Tiap akhir
pekan, itulah kesempatan kami untuk berkumpul di pulau. Ini pertemuan
keluarga sekaligus berlibur ha-ha-ha,” ujarnya.

Bisa menikmati pekerjaan adalah faktor yang membuat Sumarto
senang bertugas di Kepulauan Seribu. Meski untuk itu dia harus
berpisah dengan keluarga.

“Di Taman Nasional Laut ini, saya menganggap bekerja sambil
berlibur,” ucap Sumarto yang rutin melakukan scuba diving di
perairan Kepulauan Seribu.

Meski merasa menikmati kehidupan di Kepulauan Seribu, kabar yang
diterimanya Kamis (14/6) lalu membuat dia harus pergi. Sumarto
dilantik menjadi Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa
Timur. Dia harus mulai bertugas di tempat yang baru pada Juli
mendatang.

“Ini kepindahan tugas terberat yang pernah saya alami, karena
saya mencintai Kepulauan Seribu. Mungkin setelah saya pindah ke Jawa
Timur, saya masih akan sering ke Kepulauan Seribu,” tuturnya.

BIODATA
Nama
Sumarto
Lahir : Surabaya, 8 Juli 1961
Pendidikan:
– S-1 Institut Pertanian Bogor
– S-2 Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
Keluarga:
Istri:
Darmastuti Nugroho (40)
Anak:
– Regia Puspa Astari (15)
– Swietenia Puspa Lestari (12)
– Mohammad Tito Sumarto (3)
Organisasi:
– Ketua POSSI Kabupaten Kepulauan Seribu
– Pengurus Besar POSSI tingkat nasional
– Wakil Ketua Palang Merah Indonesia cabang Kepulauan
Seribu
Pekerjaan:
– Kepala Balai TNL Kepulauan Seribu, 2003-2007
– Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa
Timur, mulai bulan Juli 2007

FOTO di blog ini foto Sumarto, diambil ketika baru saja selesai menyelam di perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Foto oleh Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s