Sensasi Menyelam di Perairan Kepulauan Seribu

Menyelam di bawah laut ternyata mengasyikkan. Saya baru kali pertama melakukan diving, tetapi pengalaman baru ini menjadi sangat berkesan, memberiskan sensasi yang luar biasa. Terima kasih kepada Mas Sumarto yang telah memberikan “tantangan” yang menarik, yang mendorong saya berani menyelam di laut. Pengalaman ini tertuang dimuat di Harian Kompas, halaman Metropolitan, 20 Juni 2007.

KOMPAS

Rabu, 20 Jun 2007
Halaman: 27
Penulis: R Adhi Kusumaputra
Hobi
SENSASI MENYELAM DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

Oleh R Adhi Kusumaputra

“Jangan pernah mengaku pernah ke Kepulauan Seribu kalau belum
pernah menyelam di perairan ini,” kata Kepala Balai Taman Nasional
Laut Kepulauan Seribu Sumarto. Kalimat bernada “tantangan” itu
mengena di hati. Menyelam? Scuba diving? Ah, mengapa tidak?

Perjalanan laut dari Dermaga 14 Marina Ancol, Selasa (12/6) pagi,
dengan KM Dephut bermesin 500 PK dan berkecepatan 40 knot itu
ditempuh dalam waktu satu jam, untuk mencapai Pulau Pramuka. Di pulau
inilah kantor Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) berdiri.

Tak jauh dari Pulau Pramuka, pulau yang menjadi kantor Bupati
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu itu ada tempat khusus untuk
menyelam. Tempat yang dibangun sejak dua tahun lalu itu juga
sekaligus sebagai penangkaran ikan hiu. Namun tak perlu cemas, ikan
hiu muda itu tak akan lepas.

Instruktur selam, Umar, Saeran, dan Satibi, semuanya penduduk
asli yang lahir di Kepulauan Seribu. Mereka kenal air sejak kecil,
laut adalah wilayah yang dikuasai. Sebelum mengenakan peralatan
menyelam (scuba diving), peserta selam diwajibkan melakukan
pemanasan, seperti halnya pemanasan olahraga.

Peralatan sudah disediakan, mulai dari masker, snorkel, fins
(kaki katak), sampai tabung oksigen. “Kita mulai dengan melakukan
snorkeling dulu,” kata Umar, instruktur selam. Dengansnorkeling,
keindahan biota laut dapat dilihat dengan berputar- putar di
permukaan laut, tanpa harus menyelam ke bawah laut. Jika hanya
snorkeling tetap kurang puas, karena yang dilihat hanya terbatas.

Tak perlu cemas
Instruktur selam lalu meminta bersiap-siap menyelam. Perasaan
waswas sempat muncul, karena ini kali pertama melakukan menyelam.
Namun, karena niat dan tujuan utama kedatangan ke Kepulauan Seribu
adalah belajar menyelam, rasa waswas pun sirna. Ternyata, tidak perlu
ada yang dicemaskan setelah berada di bawah laut.

Bahkan yang dialami kemudian adalah menikmati sensasi alam bawah
laut yang luar biasa ciptaan Tuhan. Ada dunia lain di bawah laut yang
menakjubkan. Menyaksikan ikan berwarna- warni berseliweran di depan
wajah kita. Tiba-tiba ratusan,mungkin juga ribuan ikan kecil melintas
di dekat kita. Ikan-ikan itu seperti berbaris, ramai-ramai ke atas,
lalu ke bawah lagi.

Ketika menikmati sensasi menyelam di bawah laut, kita pun tak
habis-habisnya kagum dengan ciptaan Tuhan.

Di bawah laut, kita melihat terumbu karang yang menyimpan
keindahan alam. Makin jauh ke dalam, makin banyak sensasi yang
dialami. Ada ikan pari tibatiba lewat lalu bersembunyi di balik
karang di dasar laut. Waw! Sulit sekali melukiskan dengan banyak kata
karena sensasi ini harus dialami sendiri.

Ketika menyelam, instruktur beberapa kali menanyakan apakah
telinga mengalami sakit. Memang benar. Perubahan tekanan udara
menyebabkan telinga kita sakit, tetapi ini dapat diatasi dengan
mudah. “Tak perlu cemas. Tutup saja lubang hidung beberapa saat,”
kata Satibi, instruktur selam kelahiran Pulau Kelapa.

Dalam penyelaman kedua di perairan dekat Pulau Semak Daun, ke
arah utara Pulau Pramuka, Rabu (13/6) pagi, perahu nelayan berhenti
di tengah laut. Dari situlah peserta menyelam ke tempat yang lebih
dalam, lebih jernih, lebih warna-warni.

“Untuk pemula, yang baru kali pertama menyelam, perjalanan
hingga 12 meter sudah sangat baik,” kata Saeran.

Memang, yang dibutuhkan saat menyelam adalah ketenangan. Tak
perlu panik jika, misalnya, air laut masuk ke dalam hidung atau
menyusup masuk masker. Naik perlahan-lahan ke atas permukaan laut,
perbaiki dulu peralatan, kemudian menyelam lagi dengan tenang.

Prasetyo Utomo, fotografer yang ikut scuba diving, mengaku senang
menyelam. “Saya sampai ke kedalaman lebih dari 18 meter,” ungkapnya,
puas.
Nah, jika Anda datang berekreasi ke salah satu pulau di Kepulauan
Seribu, jangan lupa menyelamlah! Jika belum pernah menyelam sama
sekali, jangan khawatir! Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
menyediakan instruktur selam berpengalaman.
Jika Anda pemula dan ingin belajar, ada paket khusus untuk
minimal 10 orang selama tiga hari Rp 15 juta atau Rp 1,5 juta per
orang. “Ini harga paket termurah di dunia,” ungkap Sumarto.

Menyelam bukan olahraga berbahaya. Lebih berbahaya orang
mengendarai sepeda di jalan raya. Sedangkan gangguan kesehatan yang
terjadi hanya dua, yaitu mabuk laut dan kulit terbakar, yang semuanya
dapat diatasi dengan mudah.

Rasa takut orang pada menyelam karena pada dasarnya mereka takut
pada laut. Akan tetapi jika sudah pernah sekali melakukan scuba
diving, yakinlah Anda pasti ketagihan!

FOTO di blog ini foto saya seusai melakukan diving di perairan Pulau Semak Daun di Kepulauan Seribu, sedalam 12 meter. Terima kasih kepada Mas Sumarto yang mengambil gambar ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s