Gaya Hidup: Dari Helimousine Hingga Alfresco Dining

Terbayang nggak sih, dalam satu hari, kita naik heli mewah, terbang di udara, lalu makan siang di resto Jepang di hotel berbintang, sorenya menikmati pemandangan indah di lapangan golf, lalu latihan di driving range, dan malam harinya menikmati makan di alam terbuka di Benton Junction? Ini bisa terjadi dalam liputan jurnalistik.

Bersama sejumlah teman wartawan, saya menikmati perjalanan dengan sensasi baru. Ini memang untuk kalangan berduit, dan tampaknya tujuan PT Lippo Karawaci Tbk mengundang pers, salah satunya untuk menginformasikan kepada khalayak, terutama kelas menengah atas, bahwa di kawasan Lippo Karawaci Tangerang, ada tempat berlibur yang eksotis seperti ini.

Saya tahu persis perkembangan “kota” Lippo Karawaci karena ketika lahan itu masih kebun karet, saya sudah jadi wartawan Kompas. Dulu namanya Lippo Village. Setelah ada aturan semua harus ada nama Indonesia, namanya diganti Lippo Karawaci. Tulisan tentang properti grup Lippo pernah dimuat tahun 1995 silam. http://adhikusumaputra.blogspot.com/search/label/Lippo%20Village


Dalam perjalanan seharian ini, kami ditemani Head of Corporate Communication PT Lippo Karawaci Tbk Danang Kemayan Jati dan stafnya Mbak Jeanny Wulur. Kami bertemu dengan Mbak Adriyana dari Grup Aryaduta Hotel, juga Pak Greg Ernoult, yang menjelaskan konsep alfresco dining di Benton Junction. Saya kenal Pak Greg ketika dia jadi club manager di Imperial Country Club dan saya salah satu membernya.
Nah, tulisan tentang perkembangan terbaru properti Grup Lippo, saya tuangkan dalam tulisan di halaman Metropolitan Kompas, Sabtu 16 Juni 2007 lalu.

KOMPAS
Sabtu, 16 Jun 2007
Halaman: 26
Penulis: Adhi Kusumaputra

Gaya Hidup
DARI “HELIMOUSINE” HINGGA “ALFRESCO DINING”
Oleh R Adhi Kusumaputra

Jam menunjukkan pukul 10.50. Di heliport di kawasan Lippo
Karawaci, Tangerang, Banten, sudah menunggu heli Bell 407 buatan
Amerika Serikat. Pilot heli Capt S Heru Susatyo membawa terbang heli
itu ke helipad gedung Citra Graha dalam waktu 10 menit. Heli itu
membawa penumpang sejumlah petinggi Grup Lippo.

Dalam perjalanan pada Jumat (15/6), heli itu berada di ketinggian
sekitar 1.000 kaki atau 300 meter. Udara Jakarta ternyata kotor
akibat polusi. “Udara Jakarta baru bersih pada pagi hari kalau
misalnya hujan turun malam sebelumnya,” kata Heru.

Heli terbang di antara gedung-gedung jangkung. Namun, sebelumnya
tampak kemacetan panjang di Jalan Tol Kebon Jeruk menuju
Tomang. “Kemacetan parah di tol itu yang membuat para pebisnis
enggan kehilangan waktu berharga mereka,” ujar Heru.

“PT Air Pacific sudah rutin membawa pimpinan korporat Grup
Lippo. Dan salah satu tujuan taksi udara ini diadakan adalah untuk
menunjang mobilitas para petinggi grup Lippo yang berkantor di
Karawaci ke Jakarta, termasuk ke Bandara Soekarno-Hatta,” kata
Marketing Manager PT Air Pacific Maria Goretti Lioba, perusahaan yang
mengoperasikan helimousine itu kepada Kompas, Jumat.

Dalam perkembangannya, pengguna helimousine bukan hanya pimpinan
puncak Grup Lippo, tetapi juga para pengusaha dan pimpinan puncak
perusahaan terkemuka, yang enggan terjebak macet di jalanan
Jakarta. “Taksi udara ini sudah menjadi semacam kebutuhan bagi para
pebisnis Jakarta. Mungkin juga menjadi gaya hidup kalangan jetset,”
tutur Heru Susatyo yang juga Operation Manager PT Air Pacific.

Gaya hidup? Bagi profesional seperti Tung Desem Waringin yang
bertempat tinggal di Lippo Karawaci, naik taksi udara seperti
helimousine merupakan kebutuhan, mengingat mobilitasnya yang
tinggi. “Pak Tung itu pembicara terkemuka yang diundang bicara di
banyak kota. Dia rutin menggunakan helimousine ini,” ucap Maria.

Biaya sewa per jam helimousine ini 1.500 dollar AS plus PPN.
Kalaupun digunakan hanya 10 menit, biaya yang dikenakan tetap biaya
satu jam. Salah satu paket yang diminati adalah shuttle ke bandara,
yang biayanya Rp 3 juta sekali jalan.

Jadi bisa dibayangkan siapa yang bisa menyewa taksi udara ini
kalau bukan pemilik perusahaan, ya pimpinan puncak perusahaan besar.
Akan tetapi ternyata harga bukan menjadi masalah. Sebab bagi
pebisnis, waktu adalah uang. Daripada bermacet-macet di jalanan
Jakarta, lebih baik terbang dengan helimousine, dengan waktu tempuh
sangat singkat.

Taksi udara PT Air Pacific ini beroperasi sejak pukul 06.00
hingga pukul 18.00. Dalam sehari itu bisa delapan sampai 10
kali terbang. “Kami punya helipad di Hotel Aryaduta, Gedung Citra
Graha, dan Aston Sudirman Jakarta,” ungkap Maria. Saat ini sedang
dibangun helipad baru di Plaza Semanggi, Jakarta.

Kebutuhan helimousine ini tidak terlepas dari berkembangnya kota
Lippo Karawaci di Tangerang. Kawasan seluas 3.000 hektar ini sudah
menjadi kota mandiri, di mana sudah tersedia rumah dengan fasilitas
pendukung yang sangat memadai. Mulai dari Supermal Karawaci, Sekolah
dan Universitas Pelita Harapan, Rumah Sakit Siloam, sampai lapangan
golf internasional dan tempat makan di alam terbuka (alfresco dining).

Setelah diajak berkeliling di udara dengan helimousine, heli
termewah di Jakarta, Kompas dan sejumlah wartawan diajak berkeliling
ke Country Club Imperial Aryaduta di Karawaci.

“Dilengkapi kolam renang yang cozy dengan pepohonan rindang, klub
eksklusif yang terbatas untuk anggota ini menjadi salah satu
keunggulan properti PT Lippo Karawaci yang meraih penghargaan sebagai
The Best Developer in Indonesia tahun 2005 dan masuk 10 besar di Asia
Pasifik,” kata Corporate Communication General Manager PT Lippo
Karawaci Danang Kemayan Jati.

Setelah makan siang di Restoran Jepang Hokkaido di Imperial
Aryaduta, rombongan diajak berkeliling ke lapangan golf 18 hole
Imperial Klub Golf seluas 70 hektar dengan golf car. Rumah-rumah
mewah yang memiliki view hijaunya lapangan golf dan danau buatan
tampak begitu asri dan nyaman.
“Hole yang paling digemari adalah
hole 8 yang dinamakan hole Madonna,” kata General Manager Imperial
Klub Golf Simon Subiyanto. Lapangan golf yang dirancang Desmond
Murhead ini bergaya Scottish, memiliki panjang 6.429 meter, sering
digunakanuntuk pertandingan golf internasional.

“Alfresco dining”
Ketika malam sudah tiba, lampu-lampu di kawasan ini mulai
benderang. Alfresco dining di Benton Junction menjadi pilihan utama.
Di sini terdapat 25 resto dan kafe yang tempat makannya di alam
terbuka.

“Konsep alfresco dining populer di Eropa. Kami bangun di
seberang Menara Matahari, Menara Asia, dan Kampus Universitas Pelita
Harapan, ternyata responsnya bagus,” kata Chief Operating Officer
(COO) Aryaduta Hotel Gregory Ernoult.

Suasana alfresco dining di Benton Junction menjadi semarak.
Penyanyi di sebelah Primavera Eurocafe, tempat menyantap steak,
membawakan lagu Hotel California sampai Volare. Kombinasi lampu yang
dipasang di atas, dengan lilin di meja, memberi suasana berbeda
.
FOTO-foto di blog ini foto saya bersama sejumlah teman media dan hotel di dekat heli Bell 407 (atas), foto bersama teman media di rumah yang memiliki view lapangan golf (kedua dari atas), foto bersama peserta Incomparable Weekend Lippo Karawaci (kedua dari bawah) dan foto suasana alfresco dining di Benton Junction, Lippo Karawaci, Tangerang.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s