14 Pulau di Kepulauan Seribu Tercemar

14 Pulau di Kepulauan Seribu Tercemar

Hari Senin (11/6) lalu, saya ditugaskan ke Kepulauan Seribu. Dikabarkan ada pencemaran limbah minyak mentah di Pulau Kotok Besar. Sudah lama saya tidak ke sana, karena itu dengan niat yang besar, saya pun bangun pagi-pagi sekali dan berangkat keMarina Ancol pukul 05.10 pagi dan tiba di sana tepat pukul 06.00. Di sana sudah menunggu Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Pak Sumarto. Hasil perjalanan sehari pergi-pulang itu bersam menjadi berita di halaman Metropolitan:

KOMPAS
Selasa, 12 Jun 2007
Halaman: 26
Penulis: ksp
14 PULAU TERCEMAR
Kawasan Kepulauan Seribu “Sekarat”
JAKARTA, KOMPAS
Sedikitnya empat belas pulau di gugusan Kepulauan Seribu, pantai
utara Jakarta, tercemar limbah minyak. Jika kondisi ini tetap
dibiarkan, kawasan Kepulauan Seribu makin sekarat. Kehidupan biota
laut terganggu dan perkembangan wisata bahari terancam mati.

Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Sumarto pada
hari Senin (11/6) mengungkapkan, limbah minyak mentah itu menyergap
kawasan selatan Pulau Kotok Besar pada hari Minggu pukul 10.00. Garis
pantai sepanjang 1,2 kilometer itu tertutup oleh limbah minyak
berwarna kehitam-hitaman.

“Hari Minggu pukul 15.00, limbah serupa sudah masuk ke Pulau
Opak, sekitar 5 mil sebelah utara-timur Pulau Kotok Besar. Ternyata,
kata Sumarto, ada 14 pulau di sekitar itu yang tercemar limbah,”
ujar Susanto, pemandu.

Keempat belas pulau itu di antaranya Pulau Kotok Besar, Kotok
Kecil, Opak Besar, Opak Kecil, Pulau Harapan, Pulau Kelapa,Gosong
Pandan, Kaliage Besar, Kaliage Kecil, Semut Besar, Semut Kecil, Semak Daun,
Karang Congkak, dan Pulau Kuburan China.

Menurut Sumarto, limbah minyak mentah yang mengotori pulau-pulau
di gugusan Kepulauan Seribu itu diduga berasal dari industri migas di
kawasan itu. “Saat ini terdapat 400-an rig di lepas pantai utara
Jakarta. Sebagian milik China National Offshore Oil Company, yang
berlokasi sekitar Pulau Pabelokan, 20 mil dari Pulau Kotok Besar.

Tahun 2003, menurut Sumarto, pernah terjadi hal serupa, limbah
minyak mengotori 73 pulau. “Waktu itu sudah dinyatakan ada
tersangka. Namun, entah kenapa sampai sekarang kasus pencemaran
limbah minyak di Kepulauan Seribu tak berlanjut,” tutur Sumarto.

Diungkapkannya, saat ini kawasan Kepulauan Seribu dalam kondisi
sekarat. “Ini berlangsung sejak tahun 1995. Indikatornya, kandungan
PCB dalam kerang hijau dari minimal baku mutu 0,03 PPB terkandung 120-
300PPB. Lalu bakteri coli dari minimal 10.000 terkandung 150.000 coli
dari minimal 10.000 terkandung 150.000 PPB.

Pencemaran sebetulnya terjadi sejak tahun 2000-an. Pencemaran
minyak terjadi 5 kali setahun sejak tahun 1990-an. Sedangkan sampah
antara 1.500 dan 2.000 ton per hari.

Berdasarkan pengamatan Kompas dalam perjalanan dari Marina Ancol
menuju Pulau Kotok Besar, selain dikotori limbah minyak, perairan
Kepulauan Seribu juga dikotori sampah rumah tangga.

Saat ini kecenderungannya makin parah. Indikator lingkungan hidup
sudah menyimpulkan, ekosistem Kepulauan Seribu sekarat. Dia memberi
contoh, limbah minyak itu beracun. Sementara kerang punya antibodi,
yang merupakan racun bagi ikan-ikan. Logikanya, makin banyak limbah
minyak, makin banyak pula ikan-ikan yang akan mati.
Kondisi ini merupakan betapa biota laut sangat membutuhkan satu
sama lain. (KSP)

FOTO di blog ini contoh limbah minyak mentah yang dikumpulkan di Pulau Kotok Besar dui gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

2 responses to “14 Pulau di Kepulauan Seribu Tercemar

  1. Hello Adhi,

    Nggak sengaja nemu Blog-mu.
    Please visit http://lebdoto.net/

    Salam,
    Seto (masih ingat nggak ?)

  2. Aboejoewono Aboeprajitno

    Dear bang Adhi,

    Setelah membaca dan mengikuti kisah Anda dengan sensasi diving di Kep.Seribu, saya jadi teringat masa ketika Anda intens sekali mengejar saya untuk persoalan pulau Bira sekitar tahun 96an barangkali ya?
    Ketika itu, tidak sekalipun Anda berkesempatan untuk dapat mengikuti peninjauan dan pembahasan mengenai status pulau itu bersama saya di lapangan; walaupun ada kesempatan lebih dari sekali bersama kelompok wartawan semasa itu, bahkan ada 2 rekan wartawan yang menikah sesudah kunjungan ke pulau Seribu (berkah untuk mereka; sayang, saya sudah lupa antara siapa dengan siapa, tetapi kalau tak salah yang pria dari Republika ; semoga mereka senantiasa berbahagia).
    Setelah sekian tahun berlalu, ketika beberapa hari yang lalu tanggal 5 Juni adalah hari lingkungan hidup, issue keadaan Pulau Seribu ditinjau dari aspek persampahannya menjadi sangat mengemuka. Rupanya bukan hanya pencemaran laut dengan limbahan minyak saja yang mempengaruhi (refer pada tulisan Anda : 14 Pulau di Kepulauan Seribu Tercemar) melainkan sampah darat yang datang setidaknya dari 3 bagian propinsi Banten,DKI Jakarta dan Jawa Barat-pun mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap semakin parahnya pencemaran laut yang telah terjadi.
    Jadi, adakah dari kita semua yang melihat kondisi pencemaran air laut itu setelah sekian lama bukannya semakin menjadi lebih baik, melainkan bahkan lebih parah daripada masa lalu? Apa yang salah dan bagaimana seharusnya kita semua menyikapi kondisi seperti itu?
    Beruntung bahwa bang Adhi masih bisa menyelam di lokasi yang dikenal sebagai daerah zona-inti; tetapi apakah ancaman kelestarian lingkungannya pada masa mendatang dapat juga berpengaruh kesini, bila tidak ada action apapun yang diambil dari sisi darat maupun di laut dan pulau-pulaunya sendiri?
    Saya ingin ulasan atau pandangan bang Adhi terhadap tulisan yang telah dikemukakannya terutama untuk bisa menjawab pertanyaan pada 2 alinea sebelum ini.
    Saya sendiri rasanya sudah bertahun-tahun tidak “melaut”, tapi sempat berdialoog dengan Wabup. Kepulauan Seribu dengan segala masalah dan konsep penanganannya. Nah, mereka yang di darat dan berada di batasan regional itu, bagaimanapun juga berperan untuk bisa mengatasinya. Jangan biarkan kelestarian Pulau Seribu ini dalam keadaan terus terancam, karena sebagian potensinya setidaknya juga sudah dinikmati oleh bang Adhi!

    Salam,

    Aboe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s