Pasar Flohmak, Jangan Malu Beli Barang Bekas

KOMPAS

Metropolitan
Rabu, 16 Mei 2007

Pasar Flohmak

Jangan Malu Beli Barang Bekas

R Adhi Kusumaputra

Pasar Flohmak dibuka sejak sebulan terakhir ini di kawasan Granada Square, BSD City, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang. Pusat jual beli barang bekas itu ternyata diminati. Cukup banyak orang melepas barang-barang mereka di pasar yang dibuka setiap Sabtu dan Minggu itu.
Umumnya pembeli puas mendapatkan barang yang masih layak pakai dengan harga miring.

Konsep Pasar Flohmak diadopsi oleh pendiri Pasar Flohmak, Winarto A Rasul (51), warga Serpong, Tangerang. Winarto yang delapan tahun tinggal di Vienna, Austria, itu melihat di sejumlah negara di Eropa pasar jual beli barang bekas sangat berkembang.

“Banyak orang bilang tinggal di negara-negara di Eropa sangat mahal, tetapi sebetulnya tergantung bagaimana kita mencari barang bagus dengan harga murah,” papar pria kelahiran Yogyakarta itu.

Mengacu pada konsep fleamarket di sejumlah negara di Eropa (dan juga Amerika Serikat), Winarto Rasul yang belum lama kembali ke Indonesia mendirikan PD Pasar Flohmak.

Nama Flohmak diadopsinya dari kata Jerman, flöhmark (pasar barang bekas layak pakai dan koleksi), namun karena orang Indonesia menyebut flöhmark menjadi Flohmak, akhirnya Winarto mengambil nama Flohmak, yang kemudian didaftarkannya sebagai hak paten.

Ketika kali pertama Pasar Flohmak dibuka pada 21 dan 22 April 2007, ada 18 lapak masing-masing berukuran 2 meter x 3 meter yang digelar, mengambil lahan parkir Granada Square. Aneka barang bekas dijual mulai dari pakaian, tas, sepatu, furnitur, buku, sepeda, lukisan, sampai stik golf.

Setelah sebulan berlalu, Winarto mengaku mulai kewalahan. “Sekarang sudah ada 54 penyewa lapak. Saya terpaksa menolak karena tempatnya sudah habis,” kata penulis roman Setangkai Mawar di Donau itu.

Winarto menyewakan setiap lapak seharga Rp 50.000 per hari tanpa mengutip persentase barang yang terjual. Karena itulah banyak orang yang antre menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Bahkan transaksi dilanjutkan di rumah, dan itu milik mereka,” kata Winarto, yang puas dengan perkembangan Pasar Flohmak.

Ny Evita (49), warga Taman Chrysant 1 BSD, sejak awal menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Awalnya iseng-iseng untuk mengisi kegiatan pada Sabtu dan Minggu. Ternyata barang-barang pribadi yang dijajakan di sini 40 persen sudah terjual. Lalu banyak saudara saya yang menitipkan barang-barang mereka untuk dijual di sini,” cerita Ny Evita, yang hanya melanjutkan usaha menjual barang bekas di Pasar Flohmak.

“Saya ditemani putri saya, yang setiap Senin sampai Jumat bekerja di kantor. Sedangkan Sabtu dan Minggu dia menemani saya di sini,” ungkap Evita, yang menjual peralatan rumah tangga dan pakaian.

Pengamatan Kompas, Pasar Flohmak ramai sejak pukul 07.00. Para pembelinya tidak hanya warga Serpong, Tangerang, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Jabodetabek. Penyewa lapak umumnya memiliki mobil.

Sebagian warga Serpong, tetapi ada juga datang dari Cimanggis, Depok; Lebak Bulus, Jakarta; dan Bekasi. Jumlah mobil yang diparkir pun makin banyak.

Seorang penyewa lapak yang punya posisi penting dalam perusahaan pengembang besar menjual mebel dengan harga miring, demikian pula pernak-pernik seperti ikat pinggang, tas, dan dompet. “Dia menyewa lapak sampai dua bulan ke depan, mungkin untuk menghabiskan barang-barang di rumahnya,” tutur Winarto. “Lumayan, saya dapat sofa dan meja mebel bagus, harga per satuannya Rp 300.000,” kata Ida, seorang pembeli di Pasar Flohmak.

Barang-barang yang dijual di Pasar Flohmak ini harganya bervariasi dari Rp 5.000 sampai puluhan juta untuk barang koleksi. Uniknya, Winarto membuka sesi gratis setiap pukul 15.00. Untuk barang-barang tertentu, seperti mainan, sepatu, pakaian, dan pernak-pernik diberikan secara gratis kepada masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat sekitar yang kurang mampu dapat juga menikmati barang-barang di Pasar Flohmak. Dalam waktu singkat, barang yang digratiskan itu sudah habis,” tuturnya menambahkan.

Barang yang dijual antara lain lukisan 8 Bidadari seharga Rp 12 juta. “Lukisan serupa dipajang di Galeri Maria Theresia, Ratu Austria,” kata Winarto.
Ada juga replika pabrik sepeda Alexander Pollock tahun 1883 dijual Rp 1 juta, topi yang mengabadikan kemenangan Michael Schumacher yang kali keenam dalam F1 di Jerman dijual seharga Rp 225.000.

“Saya juga punya koleksi lukisan Jan Mintaraga yang dibuat tahun 1992, imajinasinya tentang BSD. Saya jual Rp 9 juta,” kata Winarto. Banyak lukisan yang dibelinya dari Austria dan negara di Eropa, dijual Winarto sebagai barang koleksi seharga jutaan rupiah.

Winarto A Rasul memang serius menekuni Pasar Flohmak. Dia membeli tanah seluas 250 meter persegi, tak jauh dari lokasi, untuk dijadikannya gudang.
“Kalau ada orang yang mau menitipkan barang-barangnya, saya simpan di gudang itu,” kata Winarto, yang sudah mematenkan nama Pasar Flohmak.

“Saya akan membuka waralaba Pasar Flohmak. Kalau setiap kabupaten atau kota punya satu Pasar Flohmak, ini sangat bagus,” katanya yakin. Begitu Pasar Flohmak dibuka di Granada Square BSD, Winarto langsung dihubungi pihak Gading Serpong agar membuka pasar serupa di kawasan itu.
Winarto melihat berkembangnya Pasar Flohmak karena saat ini masyarakat masih menghadapi situasi krisis ekonomi.

“Saya mengutip kata-kata Sri Sultan Hamengku Buwono X agar jangan malu membeli barang bekas,” kata Winarto yang juga mengaku menjajakan pakaian dan barang-barang bekas milik Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas.

Pakaian bekas Sri Sultan HB X dan istrinya itu akan dilelang Winarto pada Juni mendatang, dan dibuka dengan harga per potong Rp 450.000. “Saya akan ke Yogya dulu, melengkapi koleksi Sri Sultan HB X yang akan dilelang,” ungkapnya. Winarto mengaku, ia beli dari orang dalam Keraton. Sistemnya kalau laku baru dibayar.

Kepala Divisi Sarana dan Prasarana Kota Real Estate Indonesia (REI) Ir Dhony Rahajoe melihat kehadiran Pasar Flohmak yang digagas warga akan menghidupkan sebuah kota karena di sana komunitas terbentuk. “Komunitas seperti inilah yang menghidupkan sebuah kota,” kata Dhony.

Pasar Flohmak memang mengadopsi fleamarket seperti di Salzburg dan Vienna (Austria), Bruges, Brussels, dan Antwerp (Belgia), Zagreb (Kroasia), Copenhagen (Denmark), Lille, Paris (Perancis), Muenchen (Jerman), Dublin (Irlandia), Amsterdam (Belanda), Lisabon (Portugal), Barcelona, Madrid, dan Sevilla (Spanyol), dan banyak negara lainnya.

Antusiasme masyarakat melakukan jual beli di fleamarket sangat besar. Ekonomi rakyat pun makin hidup. Jadi, jangan pernah malu membeli barang bekas, apalagi menjualnya!

FOTO di blog ini, foto suasana Pasar Flohmak yang dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 07.00-17.00 di kawasan niaga Granada Square, BSD City, Tangerang, Banten. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

One response to “Pasar Flohmak, Jangan Malu Beli Barang Bekas

  1. amelitalusia

    artikel yang menarik! semoga cerita yang ringan namun informatif seperti ini selalu hadir di tengah hadangan kisah tentang KDRT, bullying, ketidakjelasan status tanah, gas hilang dari pasaran, harga minyak goreng melambung, artis berseteru, whoah….Lebih asyik lagi kalau bisa menemukan di Jakarta ada toko semacam Goodwill (di AS) atau toko thrift sale.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s