Gaya Hidup: Menikmari Aroma Cerutu Kuba

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 12 Mei 2007

Gaya Hidup

Menikmati Aroma Cerutu Kuba

R Adhi Kusumaputra

Suasana lounge La Casa del Habano di lantai dua Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, tampak semarak. Lagu-lagu bernuansa Latin yang dinamis, memberi kehangatan. Di lounge itu penikmat cerutu berkumpul. Sejumlah laki-laki tampak menikmati cerutu Chohiba sambil meneguk wine Lambrusco.

“Menikmati cerutu ada seninya. Tak perlu diisap sampai ke dalam seperti rokok, tetapi cukup dikumur-kumur lalu dibuang lagi. Kita menikmati, mengeksplorasi aromanya yang spicy, ringan,” kata Edward Sihombing, pebisnis yang ditemui di La Casa del Habano, Selasa (8/5).

Cita rasa penikmat cerutu berbeda-beda. Mereka yang pemula biasanya memulai dengan cerutu Fonseca, lalu Hoyo de Monterrey, naik kelas lagi ke cerutu Monte Cristo, Romeo Julietta, Chohiba, dan Trinidad. “Sekali penikmat cerutu sudah mencoba cerutu Trinidad, sulit bagi mereka untuk turun lagi ke cerutu Fonseca, misalnya. Aturan ini berlaku pada cita rasa individual,” kata Lidya Tamboto, penikmat cerutu sejak 13 tahun silam.

Setiap merek cerutu Kuba ada sejarahnya, seperti Trinidad. Awalnya cerutu ini hadiah dari pemimpin Kuba, Fidel Castro, untuk tetamunya. Trinidad mahal bukan karena aroma dan rasa, tetapi karena faktor Fidel Castro.

Tak tertandingi
Di antara cerutu-cerutu yang dijual di dunia, cerutu Kuba belum terkalahkan. Daun tembakau yang digulung menjadi cerutu berasal dari lahan subur dengan iklim dan curah hujan yang mendukung. Kelebihan Kuba dalam hal cerutu hingga kini belum tertandingi.

Ini diakui Duta Besar Kuba untuk Indonesia Jorge Leon. “Cerutu Kuba tanpa bahan pengawet. Semua alamiah, natural,” ujar Jorge yang menambahkan, cerutu kini menjadi bagian diplomasi negaranya. Di seluruh Kuba terdapat sekitar 100 pabrik cerutu.

Kemahiran menggulung cerutu memang tidak sembarangan. Alfredo Andres (42) asal Havana, Kuba, yang memperagakan keahlian menggulung daun tembakau menjadi cerutu di Hotel Mandarin. Alfredo sudah 17 tahun menjadi penggulung cerutu di perusahaan cerutu terkemuka di Kuba, H Upmann. “Saya menjadi master baru tujuh tahun ini,” katanya.

Cerutu Kuba memang belum ada duanya. Duta Besar Panama untuk Indonesia, Raul Antonio, mengungkapkan, Indonesia sebetulnya memiliki cerutu produk lokal. “Tetapi tidak bisa dibedakan dengan cerutu Kuba, terutama setelah mengisapnya. Tanah Kuba sangat berbeda dengan Dominika ataupun Panama. Kuba sangat spesial,” kata Raul sambil mengisap cerutu Romeo Yulietta.

Ditemani “wine” atau kopi
Lidya Tamboto, pemilik lounge cerutu Havana di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, mulai kenal cerutu sejak 1994. “Waktu itu saya kerja di perusahaan stock broker,” ucapLidya, istri Kastorius Sinaga.

Dalam sehari Lidya melakukan ritual pribadi, menikmati cerutu dua kali. Pada siang hari dia menikmati cerutu Dominika, dan pada malam hari menikmati cerutu Kuba yang lebih berat dengan aroma lebih segar. “Menikmati satu batang cerutu menghabiskan waktu satu jam. Biasanya ditemani red wine atau kopi,” kata Lidya, yang sangat enjoy saat mengisap cerutu.

Presiden Direktur NewsLink Indonesia, perusahaan multinasional yang bergerak dalam pembentukan opini publik, Despen Ompusunggu, mengatakan, gaya hidup bercerutu memang merebak di Jakarta. “Yang kita cari adalah aroma cerutu yang segar. Selain itu, membangun jaringan dalam komunitas penikmat cerutu,” ungkapnya.

Sejak 1997
Manajer La Casa del Habano, Wishnu Bintang (36), menceritakan, lounge cerutu itu dibuka di Hotel Mandarin sejak 1997, dan merupakan yang pertama di Jakarta. “Permintaan (cerutu) waktu itu sangat besar. Dengan dibukanya outlet cerutu ini, ada tempat untuk menginformasikan, memperkenalkan berbagai jenis cerutu, serta perbedaannya,” tutur Wishnu.

Di Kuba terdapat 700-an jenis cerutu, tetapi yang beredar di Indonesia hanya 30-an jenis. Harganya bervariasi, Rp 12.000- Rp 400.000 per batang.
Setelah lounge cerutu dibuka di Hotel Mandarin, menyusul kemudian di hotel-hotel bintang lima lain seperti Borobudur, Shangri-La, Four Seasons, Grand Hyatt, dan Gran Melia. Bukan hanya diplomat, tapi kini pengusaha, politisi, dan profesional Indonesia menikmati cerutu.

Natasha Indra (26) menikmati cerutu sejak masih mahasiswa di Universitas Indonesia. “Saya suka cerutu, suka aromanya. Menikmati cerutu bersama teman atau keluarga, menciptakan suasana intim,” kata perempuan lajang, yang memulai bercerutu bersama sang ayah.

Cerutu, seperti halnya wine, menciptakan komunitas penikmat masing-masing. Menjamurnya lounge cerutu di berbagai hotel bintang lima membuktikan bahwa cerutu makin digemari dan menjadi gaya hidup metropolitan Jakarta.
FOTO di blog ini suasana di lounge cerutu di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s