Wajah Baru Reserse Polda Metro Jaya

KOMPAS

Metropolitan
Kamis, 05 April 2007

Kepolisian

Wajah Baru Reserse Polda Metro Jaya

R Adhi Kusumaputra

Banyak yang berubah dari Markas Direktorat Reserse Umum Polda Metro Jaya. Kalau sudah lama tak datang ke sana dan sekarang ke sana, Anda pasti kaget. Ruang tunggu diciptakan menjadi ruang yang nyaman. Ini agar pencari keadilan yang biasanya stres tidak makin tertekan jika datang ke Reserse Polda Metro Jaya.

Ruang penyidik atau ruang pemeriksaan pun diciptakan agar siapa pun yang masuk tetap merasa nyaman. Tak boleh ada asap rokok. Ruang penyidik dibuat transparan agar orang tahu ada siapa di dalamnya.

Di ruang penyidik, beberapa anggota Reserse Umum Polda Metro Jaya tampak berpakaian rapi. Polisi laki-laki mengenakan dasi, polisi wanita mengenakan blazer. Di depan mereka, ada komputer ramping.

Tak ada lagi suara mesin ketik tik-tak-tik-tak. Tak ada lagi tipp-ex untuk menghapus ketikan yang salah. Semua serba komputer. Namun, yang menarik, komputer itu bukan sekadar alat mengetik, tetapi betul-betul merupakan alat utama sistem informasi dan administrasi penyidik yang canggih.

Dengan sistem ini, sebuah berkas perkara dapat dipantau pimpinan Polda dalam waktu singkat. Dengan sistem ini, sangat sulit bagi penyidik untuk “main-main” karena atasannya dapat mengecek sejauh mana perkembangan suatu laporan polisi dengan segera, hanya dari komputer di meja kerjanya.

Setiap orang yang login, masuk ke dalam sistem ini, langsung tercatat asal usulnya dan waktu kedatangannya. Apabila ada yang berubah, seperti barang bukti ditambah atau dikurangi, sejauh mereka menggunakan sistem ini, semua dapat dilacak dengan cepat.

Bahkan, pimpinan Polda dapat berdialog dengan penyidik melalui pesan singkat antarpengguna. Kepala Polda dapat mengirim pesan langsung ke penyidik dan pesan itu langsung tampil di layar komputernya. Di masa depan, hal ini dapat dikembangkan jadi teleconference.

Dengan teknologi waveline, semua dapat berkomunikasi dari meja masing-masing.

“Ini suatu perkembangan baru di Polda Metro Jaya. Sistem yang dikembangkan Direktorat Reserse Umum ini memudahkan pekerjaan pimpinan,” kata Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Adang Firman kepada Kompas pekan lalu. Adang Firman memuji gagasan Direktur Reserse Umum Komisaris Besar Carlo Brix Tewu mengembangkan sistem ini.

Dalam administrasi manual, butuh waktu relatif lama untuk menjelaskan sejauh mana perkembangan sebuah berkas perkara. Namun, dengan sistem baru yang canggih ini, pimpinan di Polda Metro Jaya dapat mengontrol pekerjaan para penyidik. Misalkan ada pengawas dan pemeriksa yang datang mendadak dan butuh data tiga bulan terakhir, semuanya dapat tersedia dalam waktu singkat dengan mudah.

Penyidik dilengkapi nama pengguna dan kata kunci untuk masuk ke dalam sistem ini. Pekerjaan para penyidik dapat dikontrol Kepala Unit, Kepala Satuan, Wakil Direktur Reserse Umum dan Direktur Reserse Umum. Namun, akses mereka masuk ke dalam sistem ini sesuai dengan jabatan. Dan, yang dapat mengontrol semua sistem ini adalah Kepala Polda dan Wakil Kepala Polda Metro Jaya.

Sistem ini tidak menghilangkan tanda tangan. Setelah laporan dicetak, tanda tangan tetap dicantumkan, termasuk cap lembaga. Jika dicetak, formatnya tidak berbeda dengan format laporan polisi yang sudah ada sekarang.

Semua format dalam sistem informasi dan administrasi penyidik Reserse Umum Polda Metro Jaya sudah disiapkan untuk memudahkan pekerjaan pimpinan Polda Metro Jaya. Ini berbeda dengan aplikasi di Reserse Polda Jawa Timur, yang sistemnya tidak online sehingga kurang membantu pimpinan mengontrol proses penyidikan suatu perkara.

Sistem ini dibuat sedemikian rupa sehingga penyidik yang awalnya gap-tek (gagap teknologi) pun dapat menggunakannya dengan mudah.

Buka 7.900 perundang-undangan
Yang menarik, setiap penyidik dapat membuka 7.900 perundang-undangan di Indonesia yang dibuat sejak tahun 1959. Ini tersimpan dalam server penyidik. Aplikasi perundang-undangan ini sudah ada sejak laporan polisi dibuat sehingga memudahkan penyidik mengecek aturan hukum yang berlaku di Indonesia dari komputernya, tanpa harus membolak-balik buku lagi.

Bagaimana jika ada pelapor yang melaporkan perkara yang sama di polsek dan kemudian ke Polda Metro Jaya? Dalam sistem ini, hal semacam itu tidak dapat terjadi. Jika seseorang sudah melaporkan suatu perkara di polsek, dia tidak dapat melaporkannya lagi di Polda Metro Jaya.

Apakah pelapor dapat melihat perkembangan perkara yang dilaporkannya ke polisi? Sejauh ini pelapor dapat menanyakan kepada petugas SPK, sebatas perkembangan sekilas, tetapi tidak dapat melihat berkas acara pemeriksaan. Untuk lebih jelas, pelapor dapat menghubungi nomor telepon seluler penyidik.

Apa yang dilakukan Direktorat Reserse Umum Polda Metro Jaya ini sejalan dengan kebutuhan Polri saat ini. “Sistem ini akan disempurnakan sehingga terkoneksi ke semua jajaran Polda,” kata Adang Firman.

Bukan hanya dari bangunan fisik, polisi pun harus berubah dari pelayanannya. Hal ini dimulai dari pelayanan saat melapor sampai penyelesaian berkas perkara. Memang, sudah waktunya polisi berubah….

FOTO di blog ini suasana di salah satu ruangan penyidik di Reserse Umum Polda Metro Jaya. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s