Perdagangan Narkotika: Makin Gelap, Makin Meningkat

KOMPAS
Jumat, 11 Dec 1992
Halaman: 10
Penulis: KSP

PENGANTAR REDAKSI
SIDANG Umum ke-61 Interpol-ICPO (International Criminal Police ì
Organization) di Dakar, Senegal, Afrika Barat berlangsung tanggal 4-10 ì
November 1992. Wartawan Kompas Robert Adhi Ksp yang menyertai delegasi ì
Indonesia, menuliskan catatannya dalam tiga tulisan. Satu tulisan di ì
antaranya gambaran mengenai Interpol, yang merupakan catatan hasil ì
kunjungan ke Markas Besar Interpol di Lyons, Perancis.
=================================================================

Perdagangan Narkotika:
MAKIN GELAP, MAKIN MENINGKAT

MASALAH perdagangan narkotika tak habis-habisnya dibahas
dalam berbagai forum internasional, termasuk dalam Sidang Umum ke-61
Interpol – ICPO (International Criminal Police Organization) yang
berlangsung di Dakar, Senegal, 4-10 November 1992. Selain soal
cara dagangnya yang gelap, penyalahgunaannya pun jadi sorotan utama
penegak hukum se dunia. Perjuangan dan perang melawan narkotika
terus diserukan mereka, karena ancamannya makin serius bagi
kehidupan bangsa-bangsa di dunia.

Keseriusan ini terlihat dari munculnya sejumlah skandal atau
kasus kelas dunia. Sebut saja penangkapan Jenderal Manuel Antonio
Noriega oleh pasukan Amerika Serikat 20 Desember 1989 silam
misalnya, atau penangkapan Marion Barry, Walikota Washington DC oleh
agen FBI pada 18 Januari 1990. Juga terbunuhnya Jaksa Agung Kolombia
Carlos Mauro Hoyos pada Januari 1988 silam yang merupakan korban
keganasan sindikat narkotika, contoh nyata betapa merajalelanya
sindikat penjahat ini.

Dalam Sidang Umum ke-61 Interpol yang lalu, banyak negara
anggota Interpol yang mengungkapkan kekhawatiran dan kecemasan
mereka akan perdagangan gelap narkotika yang semakin meningkat.
“Selama tahun 1991, kita menjadi saksi betapa penyediaan kokain di
Eropa meningkat drastis. Bahkan ada usaha menyelundupkannya ke Timur
Tengah. Indikasi menunjukkan, Kolombia sebagai negara sumber heroin.

Hal ini diperkuat dengan laporan Interpol Kolombia yang menyatakan
telah memusnahkan 1.097 hektar tanaman poppy opium, menyita 30 kg
opium dan 17 kg morfin,” kata Sekjen Interpol Raymond E. Kendall.

Selama tahun 1991, wilayah Timur Jauh, Asia Barat Daya, Asia
Tenggara, dan Meksiko tetap merupakan daerah utama penanaman benih
pohon opium secara ilegal. Diperkirakan produksi total opium
berkisar 3.000 ton. Ada beberapa perdagangan opium transnasional
antara Afganistan dan Iran, juga antara Myanmar dan RRC, namun
secara keseluruhan kecenderungan konversi opium termasuk heroin dan
morfin terus berlanjut.

Nilai perdagangan gelap narkotika selama 1990 misalnya,
diperkirakan mencapai 500 milyar dollar AS. Jumlah ini lebih besar
dibandingkan jumlah penjualan minyak dunia, dan kedua setelah hasil
perdagangan senjata.
***

MENGAPA sindikat dan mafia narkotika sulit diberantas?
Beberapa delegasi yang berbicara dalam sidang-sidang komite dan
pleno pada Sidang Umum Interpol mengingatkan, perdagangan gelap
narkotika mau tak mau berkaitan dengan kasus-kasus money laundering
dan penjualan senjata api, yang juga berhubungan dengan terorisme
internasional. Di beberapa negara, sindikat narkotika memiliki
jaringan luas, rumit dan kompleks, yang tidak gampang dilacak.

Narkotika (khususnya opium) memang telah menjadi komoditi
dagang sejak seribu tahun silam. Sindikat perdagangan narkotika
telah menjadi “suatu kerajaan di bawah tanah” dengan kekuasaan dan
dasar politik multinasional. Perdagangan gelap narkotika melibatkan
para pelaku yang tak terhitung banyaknya, terorganisir dalam sistem
atau jaringan ekonomi masyarakat dan pribadi. Bisnis ini pun
memiliki pembagian kerja yang jelas, sistem produksi serta
distribusi domestik dan multinasional.

Sindikat narkotika memiliki perilaku, nilai dan norma yang
kompleks. Selain itu, kelompok ini memiliki hubungan dengan pejabat-
pejabat pemerintah berbagai negara — terutama mereka yang bisa
disuap dengan uang jutaan dollar — demi kelancaran bisnis mereka.

Karena alasan-alasan di atas, Pemerintah AS menurunkan
pasukannya untuk menangkap Jenderal Manuel Antonio Noriega. Menurut
tuduhan Juri Agung Federal di Miami Florida, Noriega menerima jutaan
dollar dari penyelundup narkotika asal AS sebagai imbalan membantu
menyimpan uang hasil penjualan narkotika di bank-bank Panama.
* * *

DI Kolombia, kartel narkotika memiliki ‘kerajaan’ sendiri di
Medellin, barat laut Bogota, lengkap dengan pengawal dan senjata.
Mereka bahkan menyuap pejabat pemerintah dengan uang hasil penjualan
narkotika, dan tidak segan-segan membunuh orang yang menghalang-
halangi kegiatan mereka. Kelompok ini bukan lagi sekadar memiliki
usaha di atas tanah sendiri, melainkan telah menjadi “negara di
dalam negara”, dengan membangun jalan dan gedung di Medellin.

Mereka beroperasi tidak hanya di Kolombia dan di AS, tapi
juga di Bahama, Turki, Pulau Caicos, Panama, dan Kuba. Pablo Escobar
Gaviria, salah satu gembongnya, pernah ditangkap, dan belum lama ini
meloloskan diri. Konon, sekitar 80 persen narkotika yang beredar di
AS berasal dari Medellin, Kolombia.

Begitu juga di AS, ada kelompok bernama La Cosa Nostra dan
Mafia Sicilia, yang didirikan di AS selama tahun 1930-an oleh
imigran Italia. Mafia Sicilia tidak tergantung pada La Cosa Nostra,
namun kedua kelompok ini bekerja sama dan saling mempengaruhi. Kedua
organisasi ini terlibat dalam kejahatan terorganisasi, di samping
perdagangan narkotika. Keduanya bekerja sama dan hidup berdampingan
dengan sindikat narkotika dari Asia dan Kolombia yang berbisnis di
AS.

Ada pula Kelompok Jamaica. Sekitar 40 kelompok penjahat
terorganisasi Jamaica ini beroperasi di AS, Kanada, Inggris, dan
Karibia. Marijuana dan kokain merupakan komoditi utama yang disuplai
Kelompok Jamaica, dan telah menjadikan mereka sebagai pedagang
narkotika yang besar sejak pertengahan tahun 1980-an.

Kelompok-kelompok ini memiliki mobilitas tinggi dan kuat satu
sama lain, mendekati dan menyuap pejabat-pejabat penegak hukum.
Kelompok ini telah mengembangkan jaringan kerja sama dengan
kelompok-kelompok jalanan Kolombia, Kuba, Pantai Barat dan para
pemain lainnya dalam perdagangan narkotika. Di beberapa negara
Amerika Latin lainnya, seperti Peru, Bolivia, Honduras, Costa Rica,
narkotika juga jadi masalah besar.
***

INTERPOL sebagai organisasi kerja sama kepolisian antarnegara
tak henti-hentinya memerangi kejahatan narkotika ini. Berbagai
simposium, latihan dan kursus yang berkaitan dengan kejahatan
narkotika terus-menerus diadakan.

Di Asia, liaison officers yang menangani soal narkotika,
berpangkalan di Bangkok dan Islamabad, bekerja sama dengan negara-
negara yang tergabung dalam FANC (Foreign Anti-Narcotics Community)
mengadakan latihan dan kursus mengenai kejahatan narkotika, yang
dikoordinir Setjen ICPO-Interpol. Negara-negara FANC adalah
Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Itali, Jepang, Belanda,
Selandia Baru, Denmark, Finlandia, Norwegia, Swedia, Inggris dan
Amerika Serikat.

Perdagangan gelap narkotika ini diakui sangat sulit diawasi.
Sistem perdagangan gelap narkotika sangat canggih dan kompleks,
dekat dengan institusi politik dan ekonomi, baik tingkat nasional
maupun multinasional.

Melihat gambaran sindikat narkotika sangat kompleks, rapi,
efisien dan terorganisasi dengan baik sebagai bisnis internasional,
The National Drug Control Strategy — badan pengawasan narkotika di
Amerika Serikat — menyatakan, pihak berwenang harus memiliki
gambaran yang lengkap, akurat dan utuh mengenai seluruh “kerajaan”
pedagang gelap narkotika di negeri itu. Semua bahan dianalisis dan
hasilnya dijadikan masukan guna menyerang langsung ke jantung
sindikat narkotika, tidak lagi sekadar di tepi luar dan ujung-
ujungnya. Tugas ini membutuhkan keuletan luar biasa.
***

BAGAIMANA dengan Indonesia? Jika mendengar laporan Interpol
negara-negara lain, tampaknya Interpol Indonesia masih bisa menarik
napas lega. Ternyata peredaran narkotika dalam jumlah besar, boleh
dibilang belum ditemukan di Indonesia. Namun Mayjen (Pol) Drs IGM
Putera Astaman selaku ketua delegasi Indonesia dalam Sidang Umum ke-
61 Interpol-ICPO menyatakan, tidak tertutup kemungkinan Indonesia
dijadikan tempat transit sindikat internasional.

John Steven Fagan, gembong narkotika AS yang sudah lama diburu
Interpol Washington misalnya, belum lama ini ditangkap polisi
Indonesia di Bali, yang dijadikan tempat persembunyiannya. Karl
Mueller, WN Jerman yang kedapatan membawa sekoper heroin, disergap
di sebuah hotel di Jakarta dan sudah dihukum di Indonesia.

Kasus-kasus kejahatan narkotika di Indonesia, memang tidak
sampai dalam jumlah berton-ton, dan disinyalir masih dalam jumlah
kiloan. Jika membandingkannya dengan laporan Interpol negara lain,
maka Indonesia dalam kasus narkotika masih dianggap relatif aman.

Meskipun demikian, bahaya masih tetap mengancam, terutama
sindikat narkotika yang membawa ganja dari sumbernya di wilayah
Aceh, yang dikenal sebagai ladang ganja. Apalagi belum lama ini
Polda Metro Jaya beberapa kali meringkus sejumlah pengedar
narkotika, dan asal-usul ganja diketahui dari Aceh dan Sumatera
Utara. Kemungkinan jaringan sindikat narkotika di Indonesia
berhubungan dengan sindikat di luar negeri tetap ada …!***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s