Kolom Blog Adhi Ksp: Kapan Seluruh Rakyat Indonesia Melek Internet?

Kolom Blog Adhi Ksp

Kapan Seluruh Rakyat Indonesia Melek Internet?

Internet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat global. Dunia yang begitu luas, dapat dijangkau dalam sekejap, melalui internet. Di banyak bandara di mancanegara, fasilitas wi-fi, hotspot tersedia gratis. Di tempat-tempat publik, di pusat perbelanjaan, kafe, restoran, lounge hotel, sebagian besar sudah ada fasilitas wi-fi. Di gedung-gedung perkantoran, wi-fi menjadi salah satu kebutuhan untuk memudahkan mengakses internet.

Warnet-warnet di banyak kota, penuh oleh pengguna internet, entah mencari informasi untuk tugas sekolah dan kuliah, ataukah menjelajah mencari teman baru di belahan dunia. Bahkan di kota-kota yang banyak mahasiswa, warnet buka 24 jam!

Industri telepon seluler, PDA, gadget lainnya, menambahkan fasilitas wi-fi pada produk mereka agar punya nilai tambah. Laptop, notebook yang belum punya fasilitas wi-fi, dianggap produk kuno.

Semuanya, di mana-mana, orang mengakses internet dari mana saja, kapan saja. Mengetik surat elektronik atau e-mail, membaca e-mail, bisa dari mana saja. Entah itu menggunakan fasilitas wi-fi atau dengan GPRS.

Sebagai contoh, blog ini saya buat sekitar dua bulan, namun pengunjungnya sudah datang dari 88 negara, sudah lebih 20.000! Kalau ditanya, mengapa? Saya yakin, jumlah orang yang mengakses internet makin banyak, dan mereka bisa jadi haus informasi. Blog ini sudah semacam kebutuhan.

Makin turunnya tarif Speedy (April nanti, tarif turun lagi sampai 63 persen), diharapkan akan membuat orang lebih leluasa mengakses internet di rumah. Setidaknya, informasi dari media-media online dapat dipantau cepat.

Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, semua sudah melek internet. Jarang ada yang gaptek, gagap teknologi. Karena itu tak heran jika blogspot seperti ini peminatnya terus bertambah setiap hari. You Tube, flickr, Vox, makin digemari orang dari berbagai negara. Tiba-tiba semua menjadi sahabat dekat.

Di Indonesia, dari 220 juta penduduk, yang melek internet baru 15-20 persen dan itu sebagian besar di kota-kota besar. Kapan internet menjangkau hingga ke pelosok dan pedalaman Kalimantan, Jawa, Sumatera sampai Papua? Karena sesungguhnya, anak-anak Indonesia yang tinggal di pelosok terpencil, membutuhkan akses internet.

Mengapa? Saya membayangkan internet dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan. Anak-anak di pelosok bisa belajar bersama di balai desa yang punya akses internet. Bahkan bisa saja di rumah masing-masing, dengan program jarak jauh yang disiapkan Depdiknas, misalnya. Siapa tahu dengan lebih sering mengakses internet, pengetahuan mereka bertambah, dan mereka makin paham betapa luasnya dunia ini, sehingga bukan zamannya berpikir sempit.

Sepuluh tahun yang lalu, saya ditugaskan kantor tempat saya bekerja ke Kalimantan. Di sana, saya menjelajahi hutan Kalimantan dan menikmati suasana penuh tantangan. Tapi begitu saya bertemu dengan masyarakat pedalaman, rata-rata mereka putus sekolah. Mereka hanya tahu kampung sekitar. Anak-anak putus sekolah. Kalau banyak anak Indonesia yang putus sekolah, waw, bagaimana Indonesia bisa bersaing dalam era globalisasi ini?

Sementara negara-negara di Asia, yang dulu “sejajar” dengan Indonesia, bangkit dan sumber daya manusianya mampu bersaing dengan bangsa lain. Indonesia? Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan wirausaha Indonesia yang mengenyam pendidikan menengah di Singapura dan pendidikan tinggi di Cornell University, New York, Amerika Serikat. Namanya Arifin Effendy, yang kini mengembangkan teknologi navigasi GPS di Indonesia. Keahliannya membuat Pemerintah Singapura memakainya untuk menggarap GPS ponsel di negeri singa itu. Tapi ada berapa banyak orang seperti Arifin, yang mampu bersekolah di luar negeri? Berapa persen dari jumlah penduduk negeri ini?

Arifin sependapat dengan saya, bahwa internet harus menjangkau seluruh rakyat Indonesia. Biaya internet harus ditekan semurah mungkin agar makin banyak orang Indonesia melek internet, terutama dimanfaatkan untuk pendidikan jarak jauh. Belajar cukup dari rumah, tapi hasilnya bisa luar biasa!

Nah, tinggal kita imbau PT Telkom, apakah punya misi mencerdaskan rakyat Indonesia dengan menekan biaya internet? Biaya Speedy yang semula Rp 300.000 diturunkan menjadi Rp 200.000/bulan untuk paket home personal. Tapi siapa tahu di masa datang, biaya Speedy cukup Rp 50.000/bulan agar makin banyak lagi orang Indonesia mengakses internet dari rumah mereka sendiri. Berani nggak PT Telkom membuat kebijakan seperti itu?

Saya mendambakan seluruh rakyat Indonesia melek internet, 220 juta rakyat Indonesia sudah terbiasa mengakses internet, memperoleh informasi dan pengetahuan dari internet. Transaksi jual beli hasil pertanian dari internet, belanja online akan hidup, sekolah jarak jauh dari internet, membaca berita media cukup dari internet.

Jika digunakan secara baik dan positif, saya yakin internet akan membuat anak Indonesia lebih pandai, paham dengan berbagai persoalan negara. Kapan ya seluruh rakyat Indonesia melek internet?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s