TNI AU Bangun RS Lapangan, Tangani Pengungsi Sambas

Pengantar
Nasib pengungsi korban konflik sosial sangat memprihatinkan. Kita perlu belajar bahwa konflik sosial apapun hanya akan menghasilkan penderitaan terhadap orang-orang yang tak berdosa. Jangan sampai peristiwa ini terulang lagi! (KSP)

KOMPAS
Kamis, 01 Apr 1999
Halaman: 19
Penulis: ADHI KSP/JAN

TNI AU BANGUN RS LAPANGAN
* Tangani Pengungsi Sambas

Pontianak, Kompas
Kondisi kesehatan warga Madura dari Kabupaten Sambas yang
mengungsi ke Pontianak sangat memprihatinkan. Setiap hari rata-rata
200 orang jatuh sakit, sebagian besar menderita diare dan gangguan
saluran pernapasan atas.

Sementara itu, menurut laporan Posko Kesehatan Rabu (31/3), lima pengungsi masuk RS Jiwa Pontianak karena stres. Lima pengungsi ini, menurut Ny Arminingsih dari Posko Kesehatan, terdiri dari tiga pria dan dua perempuan, semuanya berusia dewasa. “Mereka masuk dua hari lalu,” tutur Arminingsih.

Untuk membantu menangani kesehatan pengungsi, TNI AU telah
membangun rumah sakit lapangan di depan Gelanggang Olahraga Pangsuma,
Pontianak, dilengkapi 12 tenda untuk poliklinik umum, kamar bedah,
kamar perawatan, dan dapur umum. Tim terdiri dari 41 orang dipimpin
Kolonel (Kes) dr Bambang Soeratmo SPAnK.

Rata-rata pengungsi sudah berada di GOR Pangsuma sekitar 10
hari, menyusul kerusuhan sosial yang melibatkan dua etnis di Kalbar
sejak dua pekan lalu. Mursawi (35) asal Desa Sukaramai (Sambas)
mengaku tak ta-han dengan bau di dalam gedung olahraga itu. “Banyak
anak-anak dan balita di sini terserang diare,” katanya trenyuh.

GOR Pangsuma menampung 5.622 pengungsi, Stadion Syarief
Abdulrahman 6.350 pengungsi, Gedung Bulu Tangkis Bumi Katulistiwa
2.000 orang, dan gudang Wajak dalam jumlah yang sama. Di seluruh
Pontianak tercatat 20.817 pengungsi, di luar 6.000-an pengungsi di
rumah-rumah penduduk. Ditambah pengungsi di Sambas, warga asal Madura
yang terpaksa meninggalkan rumah untuk sementara sekurang-kurangnya
35.000-an orang.

Sebar pamflet
Diperoleh keterangan, Rabu hingga Jumat besok, polisi menyebarkan
20.000 lembar pamflet dari helikopter ke kawasan permukiman di Kodya
Pontianak. Menurut Kapolresta Pontianak Letkol (Pol) Manahan Daulay,
isi pamflet mengajak segenap warga Pontianak tidak terpancing isu
dan hasutan yang memecah rasa persatuan dan kesatuan.

“Jika ada yang menyebarkan isu dan hasutan, harap segera lapor ke Ketua RT/RW, kepala desa, camat, dan aparat keamanan terdekat,” kata Daulay.
Pernyataan dalam pamflet ditandatangani 12 tokoh masyarakat
Pontianak dari multi-etnis, diketahui unsur Muspida Kodya Pontianak,
yaitu Wali Kota Buchary A Rahman, Kapolresta Letkol (Pol) M Daulay,
Komandan Kodim Letkol (Inf) M Sibli Mufti, serta Kajari Idris Daeng
Macalo.

Di samping penyebaran pamflet, Kapolda Kalbar Kolonel (Pol)
Chaerul Rasjid Rabu malam mengadakan dialog dengan tokoh-tokoh
masyarakat Pontianak di Hotel Kartika. Sedangkan Muspida Kodya
Pontianak bersafari di tiap kecamatan, untuk menangkal isu-isu yang
meresahkan warga.

“Hingga saat ini memang belum ada bentrokan fisik antaretnis,
tetapi masyarakat di kampung-kampung sudah cemas,” jelas Letkol M
Daulay. Polisi sudah membagi 30 titik rawan dan menempatkan petugas
keamanan di seputar Kota Pontianak.

Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polda
Kalbar Mayor (Pol) Suhadi SW mengatakan, empat orang ditangkap di Jl
Tanjungpura Pontianak karena kedapatan menyebarkan pamflet berisi
hasutan dan adu domba.

DPR di Singkawang
Sementara itu, tim pencari fakta DPR RI yang dipimpin Fatimah
Achmad melakukan dialog dengan tokoh masyarakat Melayu dan Dayak di
Gedung DPRD Kabupaten Sambas. Kedua kelompok etnis itu minta
pemerintah mentransmigrasikan warga Madura asal Sambas ke luar Kalbar
karena dinilai lebih manusiawi, dan agar di masa mendatang kerusuhan
serupa tak terulang.

Pertemuan berlangsung sekitar tiga jam, dihadiri wakil masyarakat
kedua etnis se-Kabupaten Sambas. Seusai acara, Fatimah Achmad menga-
takan, inti persoalan kerusuhan Sambas bukan masalah agama atau
politik, tetapi masalah sosial budaya di mana kurang adanya
penghargaan dan penghormatan terhadap adat-istiadat yang berlaku di
Sambas.

Sebegitu jauh Fatimah belum berkomentar soal tuntutan masyarakat
Melayu atau Dayak tersebut. Keinginan kedua etnis itu akan didiskusi-
kan tim pencari fakta DPR RI sekembalinya dari Kalbar. Tokoh Madura
di Sambas, Firdaus mengatakan, “Jika ada oknum (orang) Madura yang
berbuat salah, hendaknya yang bersangkutan yang dihukum. Masyarakat
Madura lainnya harus menahan diri, agar kasus itu tidak menjalar ke
mana-mana. Masyarakat Madura di Sambas dan di Kalbar hendaknya
menghargai dan menjujung tinggi adat-istiadat dan tradisi masyarakat
adat.”

Dari Singkawang dilaporkan, 1.200 dari 1.491 warga Madura yang
selama ini diamankan di Pangkalan Lanud Sanggauledo, Rabu diungsikan
ke Pasirpanjang, Kecamatan Tujuhbelas, Ka-bupaten Sambas, sedangkan
sisanya akan diangkut hari Kamis ini ke lokasi yang sama. (ksp/jan)

Foto:
Kompas/ksp
PENGUNGSI – Pengungsi akibat kerusuhan sosial di Kabupaten Sambas
yang kini tersebar di Sambas dan Pontianak, umumnya dalam kondisi
memprihatinkan. Mereka tinggal di tempat-tempat yang sesak serta
sanitasi yang kurang baik. Sampai kini tercatat 35.000-an pengungsi,
di antaranya di GOR Pangsuma 5.622 pengungsi, dan Stadion Syarief
Abdulrahman 6.350 pengungsi. Setiap hari rata-rata 200 pengungsi
jatuh sakit. Malah dua hari lalu, lima orang dikirim ke RS Jiwa
Pontianak akibat stres. Belum diketahui kapan para pengungsi
dipulangkan ke rumah masing-masing atau kembali ke kampung asal di
Madura, Jatim. Mereka memang membutuhkan perhatian ekstra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s