Sidang Pemicu Kerusuhan Sambas Digelar

KOMPAS
Selasa, 27 Apr 1999
Halaman: 8
Penulis: KSP

SIDANG PEMICU KERUSUHAN SAMBAS DIGELAR
Singkawang, Kompas

Pengadilan Negeri Singkawang (Kalbar) hari Senin (26/4)
menggelar tiga sidang kasus terdakwa pemicu kerusuhan Sambas. Kasus
penyerangan di Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai pada Hari Idul Fitri
19 Januari silam, menghadirkan dua terdakwa Niyan bin Colok dan
Marsian bin Ludin, serta kasus pembacokan kernet angkutan umum di
Kecamatan Tebas, menghadirkan terdakwa Rodi bin Muharap. Dua insiden
itulah yang dianggap sebagai pemicu meluasnya kerusuhan Sambas.

Dua sidang terpisah yang berkaitan dengan kasus penyerangan di
Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, yang terjadi pada Hari Lebaran,
dipimpin majelis hakim yang sama, yang diketuai SMO Siahaan. Niyan
didakwa melanggar pasal 340 KUHP, menghilangkan nyawa orang lain,
sedangkan Marsian didakwa melanggar pasal 353 KUHP, melakukan
penganiayaan dengan perencanaan. Dalam insiden Paritsetia itu,
tiga orang tewas dan dua luka berat.

Sidang lainnya menghadirkan terdakwa Rodi bin Muharap, pembacok
kernet angkutan umum di Kecamatan Tebas. Jaksa Saptana S Budi
mendakwa Rodi melanggar pasal 353 KUHP, melakukan penganiayaan berat
terhadap kernet Bujang Idris. Sidang dengan majelis hakim diketuai R
Sianipar itu mendengarkan keterangan saksi korban Bujang Idris (25)
dan Iwan (19), keduanya kernet bus yang ditumpangi terdakwa Rodi (19).

Dalam kesaksiannya, Bujang Idris mengisahkan bagaimana Rodi,
preman di Tebas, tidak mau membayar ongkos, kemudian setelah ditegur
malah mengejarnya, bahkan membacok dirinya yang menyebabkan jari kanan
dan lutut kanannya luka-luka kena sabetan senjata tajam.

Menurut Bujang, pada hari Minggu 21 Februari lalu, terdakwa
Rodi naik angkutan umum, turun di Terminal Tebas, tetapi menolak
membayar ongkos. Setelah ditegur, Rodi malah mengancam, “Awas kamu!”
Bus yang melaju ke arah Desa Semparuk, dibuntuti terdakwa yang naik
sepeda motor temannya. “Di atas motor, Rodi sudah mengacung-acungkan
celurit. Rodi mendahului bus dan meminta sopir menghentikan
kendaraan,” tuturnya.

Melihat Rodi mencari dan mengejarnya, Bujang pun merasa takut
dan lari sampai jatuh ke parit. “Rodi mengayunkan celuritnya, saya
tangkis dengan tangan kanan sehingga jari-jari tangan kanan saya
sobek. Pada ayunan celurit kedua, saya mencoba menghindar, tetapi
mengenai lutut kanan saya,” kisah Bujang.

Kernet itu selamat dari maut setelah masyarakat di sekitar
menengahi. Bujang dibawa ke rumah sakit dan Rodi dilaporkan ke polisi.
Kesaksian Bujang di pengadilan itu dibenarkan rekannya, Iwan. Sidang
pemicu kerusuhan Sambas yang mendapat perhatian dari masyarakat ini
dilanjutkan pekan depan, masih akan mendengarkan para saksi. (ksp)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s