Pengungsi di Pontianak Bisa Munculkan Persoalan Baru

Pengantar
Konflik sosial selalu melahirkan penderitaan pada orang-orang tak berdosa. Siapa yang bertanggung jawab atas ribuan pengungsi korban konflik? Kesehatan dan pendidikannya? Jangan pernah terjadi lagi peristiwa seperti ini!
(KSP)

KOMPAS
Sabtu, 03 Apr 1999
Halaman: 8
Penulis: KSP/JAN/DIS/OSD/NAR

PENGUNGSI DI PONTIANAK BISA
MUNCULKAN PERSOALAN BARU

Pontianak, Kompas
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Barat Kolonel (Pol)
Chaerul Rasjid mencemaskan, jika dalam dua minggu ke depan masalah
pengungsi di Kota Pontianak tidak segera diselesaikan, maka kota itu
akan menghadapi sejumlah problem sosial yang merugikan semua pihak.

Kekhawatiran ini disampaikan Chaerul Rasjid di depan tim pencari
fakta DPR yang dipimpin Fatimah Achmad di Pontianak, Kamis (1/4).
Hadir Komandan Korem 121/ABW Kolonel (Inf) Encip Kadarusman. “Kalau
dalam dua minggu ke depan masalah pengungsi tak juga selesai, saya dan
Pak Danrem hanya akan jadi pemadam kebakaran,” kata Chaerul.

Ketua tim pencari fakta DPR RI, Fatimah Achmad, mengatakan sudah
mendengar laporan bahwa saat ini di Pontianak muncul berbagai problem
sosial. “Memang persoalan pengungsi ini kompleks. Sebab jika lebih
dari lima hari hidup dalam kondisi kurang sehat dan kurang makan,
kehadiran ribuan pengungsi di Pontianak akan menimbulkan friksi-friksi
yang merugikan warga kota,” katanya. Jumlah pengungsi di Pontianak
saat ini tercatat 20.817 orang, tersebar di 10 lokasi, di luar
6.000-an yang mengungsi ke rumah warga.

Gubernur Kalbar Aspar Aswin belum memutuskan rencana relokasi
warga Madura dari Kabupaten Sambas yang diungsikan ke Pontianak.
Selain perlu dilakukan rehabilitasi psikis, rencana itu perlu
pemikiran matang agar bisa diterima semua kelompok yang bertikai.

Jakarta
Presiden BJ Habibie seperti dikemukakan Menko Kesra Haryono Suyono
hari Rabu mengatakan, relokasi penduduk korban kerusuhan Sambas harus
dilakukan secara hati-hati, bijaksana, dan berdasarkan keinginan
mereka sendiri dan masyarakat di sekitar lokasi penempatan yang baru
agar tidak menimbulkan masalah baru. Haryono Suyono melaporkan hasil
kerja tim-beranggotakan beberapa menteri-kepada Presiden Habibie
menyangkut korban kerusuhan sosial di Sambas.

Dikatakan, kerusuhan yang meledak tanggal 15 Maret lalu telah
menimbulkan banyak korban pembunuhan, perusakan dan pembakaran yang
melibatkan etnis Dayak, Melayu, dan Madura yang bermukim di daerah
tersebut. Akibat lainnya adalah terjadinya pengungsian warga secara
besar-besaran.

Dalam hal penanggulangan pengungsi, menurut Menko Kesra, waktu dua
minggu sesuai aturan pengungsian, ternyata tidak cukup untuk menangani
relokasi mereka karena jumlahnya yang cukup besar. “Presiden setuju
waktu itu diperpanjang sampai waktu yang diperlukan,” katanya.
(ksp/jan/dis/osd/nar)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s