Pengungsi di Madura Tolak Relokasi

KOMPAS
Rabu, 28 Apr 1999
Halaman: 15
Penulis: ETA/JAN/KSP

PENGUNGSI DI MADURA TOLAK RELOKASI
Surabaya, Kompas
Pengungsi asal Sambas, yang kini berada di Madura, Jatim,
menolak relokasi di Pulau Padangtikar dan Tebangkacang, Kabupaten
Pontianak. Mereka hanya bersedia tinggal di lokasi baru tersebut
untuk sementara waktu.

Sesepuh Madura M Noer, mantan Gubernur Jatim di Surabaya,
Selasa (27/4) menjelaskan, dalam pertemuan sesepuh Madura dengan
Presiden BJ Habibie diungkap bahwa penyelesaian kasus di Kalbar
tidak cukup dengan merelokasi warga Madura ke wilayah Pontianak. Yang
dibutuhkan sekarang adalah semua pihak mencari akar penyebab kerusuhan
yang menewaskan ratusan orang.

Jika penyebabnya jelas, langkah untuk mencari solusi langsung
tepat sasarannya. Salah satu cara dengan mengundang tokoh warga yang
bertikai yakni Dayak, Melayu, Cina dan Madura. “Tokoh yang bertemu
bukan pemimpin, tetapi orang yang benar-benar mengakar di masyarakat
dan suaranya didengarkan,” kata M Noer.

Hal senada dikemukakan tokoh Madura Soedirman yang menyebutkan,
keputusan Pemda Kalbar merelokasi itu dinilai kurang tepat, sebab
cara ini berarti pembenaran terhadap pengusiran secara besar-besaran
oleh satu etnis kepada etnis lainnya. Langkah ini dikhawatirkan bisa
menjadi preseden buruk bagi daerah lain.

Sesuai rencana
Sementara itu Pemda Kalbar tetap akan memindahkan para
pengungsi ke Padangtikar dan Tebangkacang sesuai rencana semula. Di
Tebangkacang tanah-tanah sudah dibebaskan dan akan dibangun sejumlah
barak untuk tempat tinggal sementara.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar Said Djafar di Pontianak,
Selasa mengatakan, melalui rencana relokasi, masyarakat Pulau
Padangtikar bisa meminta pemerintah agar memperhatikan berbagai hal
yang terabaikan dalam pembangunan selama ini di pulau itu. Misalnya,
pengaspalan jalan raya Padangtikar-Batuampar, pembangunan pabrik
minyak kelapa, pengalengan ikan, dan dermaga.

Di Tebangkacang, Kacamatan Sungairaya, saat ini telah
dibebaskan 52 hektar lahan. Tahap pertama akan dibangun 40 barak.
Kemudian akan disusul pembangunan rumah, jalan raya, gedung sekolah,
Puskesmas, serta fasilitas umum lainnya.
Pengungsi yang akan dipindahkan ke Pulau Padangtikar 7.000
kepala keluarga (KK) dan di Tebangkacang 3.500 KK.

Siaga penuh
Kota Singkawang, ibu kota Kabupaten Sambas (Kalbar) kini
dijaga ketat oleh sekitar seribu pasukan keamanan gabungan (Polri dan
TNI AD), menyusul beredarnya isu akan terjadi serangan besar-besaran
pada pekan ini. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalbar Kolonel
(Pol) Chaerul Rasjidi kepada Kompas menegaskan, kesiagaan aparat
keamanan menjaga Kota Singkawang tidak akan dikendurkan.

Suasana di daerah pesisir yang sebelumnya menjadi kantung
konflik seperti Selakau, Pemangkat, Tebas, Sambas dan Jawai kini sudah
normal. Demikian pula di daerah pedalaman seperti di Samalantan dan
Bengkayang.

“Masyarakat Bengkayang kini lebih memperhatikan rencana pemekaran
Kabupaten Sambas. Bengkayang akan menjadi kabupaten sendiri, dan
masyarakat antusias mendukungnya. Jika terjadi kerusuhan, pemekaran
kabupaten ‘kan terancam gagal,” jelas Camat Bengkayang Moses Ahie.
(eta/jan/ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s