Pengab: Sambas Tak Akan Jadi DOM

Pengantar
Imbauan agar pihak-pihak bertikai segera berdamai didengungkan. Jenderal Wiranto yang saat itu Panglima ABRI meninjau lokasi. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 26 Mar 1999
Halaman: 6
Penulis: KSP/GG/JAN

PANGAB: SAMBAS TAK AKAN JADI DOM
* Pengungsi yang Sembunyi di Hutan Ditemukan
Sambas, Kompas
Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto dalam kunjungannya ke Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (25/3), menegaskan, Sambas tak akan
dijadikan daerah operasi militer (DOM), kecuali terjadi pemberontakan
bernuansa keinginan memisahkan daerah dari negara kesatuan RI.

Pangab yang meninjau lokasi kerusuhan dari udara, serta bertatap
muka dengan tokoh-tokoh masyarakat Melayu, Dayak, dan Madura di
Singkawang, meminta agar kelompok etnis yang bertikai segera berdamai,
berhenti berkelahi.

Sementara itu, puluhan warga Madura yang bersembunyi di dalam
hutan di Samalantan, Kabupaten Sambas ditemukan petugas, kemarin.
Tujuh orang di antaranya, sudah sembilan hari sembilan malam bertahan
di dalam hutan di bawah rasa takut yang mendalam. Sementara 300 orang
lainnya masih sembunyi di hutan, dan belum diketahui nasibnya.

Protes penembakan
Pagi harinya, sekitar seratus warga Melayu dan Dayak melakukan
unjuk rasa di kantor Bupati Sambas di Singkawang. Kepada Bupati Sambas
Tarya Aryanto, mereka menyampaikan protes atas perlakuan oknum ABRI
yang pada tanggal 22 dan 23 Maret 1999 telah melepaskan tembakan
terhadap warga yang sedang ronda malam di tepi jalan dan yang sedang
duduk santai. Penembakan itu mengakibatkan 14 orang luka tembak dan 12
orang lainnya hingga kini hilang, kemungkinan besar tewas.

Pernyataan yang sama dikemukakan mereka ketika berdialog dengan
Pangab kemarin sore. Mereka minta Pangab menindak oknum petugas yang
bertindak di luar prosedur.

“Pasukan yang didatangkan dari luar Kalbar, agar tidak diterjunkan
ke medan kerusuhan, sehingga korban-korban penembakan tidak berjatuhan
lagi. Sebenarnya situasi pada minggu ketiga sudah mulai mereda, namun
penembakan oleh oknum aparat malah memperkeruh suasana dan memancing
masyarakat bertindak di luar kendali,” kata tokoh masyarakat Dayak,
Libert Ahie.

Melarikan diri
Tujuh warga Madura yang bertahan di hutan Kalembesan, Monterado,
Samalantan, selama sembilan hari sembilan malam itu adalah Madi,
Masyuros, Akib, Muhammad, Kadir, Markawai, dan Saelan. Semuanya asal
Desa Sansibo, Samalantan, dan pekerja di pertambangan emas tanpa izin
(PETI).

Menurut Akib, desa tempat tinggalnya diserang massa ratusan orang
bersenjata tajam dan senjata api rakitan pada Rabu pekan lalu. Ia
melihat beberapa orang tewas ditembak. Bersama puluhan lainnya, Akib
melarikan diri ke hutan. “Kami hanya makan buah-buahan di hutan. Apa
yang ada, langsung dimakan,” tutur Madi.

Dijelaskan, mereka sebelumnya berdua belas, namun lima lainnya tak
kuat berjalan dan tinggal di hutan. Sedangkan tujuh orang ini menembus
hutan Kalembesan yang lebat. Sebagai penunjuk arah jalan, patokan
mereka matahari dan Gunung Poteng.

Dalam pernyataan sikap empat suku bermukim di Kalbar, yaitu
Melayu, Dayak, Bugis, dan Cina yang disampaikan hari Kamis, disebutkan
bahwa masyarakat Kabupaten Sambas menolak warga suku Madura berada di
wilayah itu, karena selalu membuat masalah yang berakibat menjadi
kerusuhan.

Pernyataan itu juga meminta aparat keamanan dalam menyelesaikan
masalah, harus adil dan tidak berat sebelah. “Dalam pelaksanaan
evakuasi warga Madura dari Sambas, kami tak akan mengganggunya,
kecuali ada warga kami yang terluka atau meninggal,” demikian isi
pernyataan sikap itu.

Sementara itu, Kelompok Diskusi Sosial, Budaya, Ekonomi, dan
Politik Kalbar, membuat analisis perihal Latar Belakang dan Solusi
bagi Tragedi Sambas, yang dikeluarkan hari Kamis. Mereka menyarankan
agar pemda merelokasi etnis Madura dari kantung-kantung konflik di
wilayah Kabupaten Sambas ke lokasi permukiman baru yang lebih
bersahabat dengan mereka.

“Usaha relokasi harus menyertakan pendapat masyarakat lokal yang
bersangkutan. Jika masyarakat tidak dilibatkan untuk menerima
kehadiran saudara-saudaranya itu, relokasi hanya akan memindahkan
masalah ke tempat baru,” kata Drs Chairil Effendi.

Secara terpisah, 120 tokoh masyarakat, pemuda dan mahasiswa di
Kabupaten Ketapang, Kalbar, menyatakan, menolak menerima kehadiran
transmigran yang sebelumnya pengungsi dari Kabupaten Sambas.
“Satu-satunya solusi adalah memindahkan para pengungsi ke sebuah pulau
yang belum berpenduduk,” kata Bran, warga Kecamatan Jelaihulu,
Kabupaten Ketapang, kemarin.

Gubernur Kalbar Aspar Aswin sebelumnya mengatakan, akan
mentransmigrasikan 15.000 pengungsi asal Kabupaten Sambas ke Kabupaten
Ketapang. (ksp/gg/jan)

Foto:
Kompas/ksp
PANGAB DI SAMBAS – Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto tengah
memeriksa berbagai macam senjata tajam mulai dari golok, tombak,
belati, sampai celurit yang disita aparat keamanan dari kelompok-
kelompok yang bertikai di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat,
Kamis (25/3). Jenderal Wiranto, yang sedang memegang senjata,
antara lain didampingi Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen Zainuri
Hasyim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s