Pembakaran Rumah di Sambas Masih Terjadi

Pengantar
Sudah lebih sebulan konflik etnis di Sambas terjadi. Namun pembakaran rumah masih ada. Sudah lebih 1.000 rumah habis dibakar massa sejak peristiwa ini terjadi. Sungguh, konflik semacam ini harus dicegah, dan jangan sampai terulang lagi. (KSP)

KOMPAS
Senin, 12 Apr 1999
Halaman: 11
Penulis: KSP/GUN/JAN

PEMBAKARAN RUMAH DI SAMBAS MASIH TERJADI
Sambas, Kompas
Kerusuhan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang sudah
berlangsung lebih dari satu bulan, belum juga mereda. Minggu (11/4)
sekitar pukul 12.00, aksi pembakaran rumah terjadi lagi di Desa
Karimunting Dalam, Kecamatan Sungairaya. Sebanyak 13 rumah hangus
dan sembilan lainnya dirusak.

Sebelumnya, sekitar 60 rumah di Kecamatan Sungairaya juga
dibakar massa, dan satu jenazah tak utuh ditemukan di sekitar lokasi,
Kamis pekan lalu. Rumah-rumah warga Madura yang dibakar sebagian besar
sudah kosong ditinggal pergi pemiliknya. Minggu subuh, seorang warga
luka ditembak aparat keamanan yang menjaga kawasan Desa Karimunting.

Sementara itu, suasana Kota Singkawang, terutama pada malam hari
hingga menjelang pagi, sangat mencekam. Warga kota melakukan ronda
malam dan menjaga permukimannya. Pengamatan Kompas yang memantau
situasi ibu kota Kabupaten Sambas Sabtu malam hingga Minggu dini
hari di permukiman penduduk di kota itu menunjukkan, jalan masuk ke
permukiman dibarikade dengan drum dan kayu. Terlihat kelompok massa
berjaga-jaga.

Di Pontianak, Ketua Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Mar’ie
Muhammad, menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk korban kerusuhan
Sambas senilai Rp 99.907.062. Bantuan itu diberikan dalam bentuk
obat-obatan dan alat kesehatan sekali pakai, 2.000 buah termos air
panas, 2.000 lembar tikar plastik, dan 450 buah jeriken air ukuran
20 liter.

Setelah menyerahkan bantuan melalui Gubernur Kalbar, Aspar Aswin,
rombongan KKI meninjau sejumlah lokasi penampungan pengungsi di
Pontianak. Dalam melaksanakan program kemanusiaan, jelas Mar’ie, KKI
tidak mengenal diskriminasi baik agama, suku, maupun kepercayaan.

Suasana mencekam lebih terasa di enam lokasi tempat warga Madura
bermukim. Antara lain di permukiman belakang RSUD dr Abdul Aziz
Singkawang, di kompleks H Toli (Pasiran), di Kampung Condong,
permukiman Roban, Desa Bukitbatu, perumahan Sekip Baru, Gang Makmur
(Sekip Lama), semuanya di dalam Kota Singkawang.

Sementara itu, seorang lagi korban penembakan oleh aparat PHH
tewas pada Jumat lalu sekitar pukul 23.30. Kerusuhan di Sambas sudah
menelan sekurang-kurangnya 200 orang tewas dan hampir 3.000 rumah
dibakar atau dirusak massa. Sekitar 35.000 orang terpaksa mengungsi.

Diawasi pemda
Tanah, sawah, dan kebun milik warga yang mengungsi dari tempat
tinggalnya di Kabupaten Sambas, kini diawasi oleh pemerintah daerah
setempat. Bupati Sambas Tarya Aryanto kepada Kompas di Singkawang,
Sabtu malam mengatakan, saat ini sudah dibentuk tim inventarisasi
kekayaan dan harta pengungsi. Tim terdiri dari unsur Badan Pertanahan
Nasional (BPN), Dinas Peternakan, dan Dinas Pertanian. Tugas tim ini
mengumpulkan data kekayaan dan harta pengungsi.

Jumlah warga Madura yang mengungsi dari tempat tinggalnya di
seputar Kabupaten Sambas sekitar 35.000 orang, dan jumlah rumah yang
dibakar serta dirusak mencapai 3.000 unit. Tanah yang ditinggalkan
sekitar 100 hektar, sawah 1.000 hektar, serta perkebunan.

Benturan kultural
Tim Pencari Fakta DPR mengenai masalah Sambas, Jumat pagi
berkunjung ke Mabes ABRI dan diterima Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI
Letnan Jenderal TNI Sugiono mewakili Menhankam/Panglima TNI di Mabes
ABRI Cilangkap, Jakarta. Delegasi itu dipimpin oleh Hj Fatimah Achmad
bersama tujuh anggota fraksi-fraksi yang mewakili pemerintah.

Kepada Kasum ABRI dan para pejabat di Mabes ABRI, Tim DPR RI
menjelaskan, akar permasalahan yang menimbulkan kerusuhan di Kalbar
khususnya Sambas, bukan karena persoalan kecemburuan sosial antara
suku Dayak dan Madura ataupun Melayu, melainkan karena adanya benturan
adat dan budaya setempat dengan adat dan budaya pendatang (Madura).

Menanggapi beberapa permasalahan yang dikemukakan Tim Pencari
Fakta DPR, Kasum ABRI Letjen TNI Sugiono mengemukakan, aparat keamanan tidak bertindak lamban dan memihak, tetapi mengupayakan agar tidak jatuh korban lebih banyak. Aparat keamanan sudah melakukan razia
senjata tajam. Dalam menanggulangi masalah pengungsi, aparat keamanan
telah bekerja sama dengan departeman terkait. (ksp/gun/jan/*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s