Nelayan Pemangkat Pun Menganggur

Pengantar
Setiap konflik sosial hanya menghasilkan kerugian. Tak ada satu pun yang diuntungkan. Nelayan Pemangkat misalnya, selalu diliputi rasa cemas ketika konflik itu berlarut-larut. (KSP)

KOMPAS
Selasa, 23 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP

NELAYAN PEMANGKAT PUN MENGANGGUR…

SUDAH seminggu ini, Yukroma (47), nelayan asal Desa Penjajap,
Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), tidak
melaut.

“Sepanjang hari, saya dan teman-teman nelayan di desa ini
menjaga keluarga di rumah. Hampir tiap malam saya tidak tidur,” kata
Yukroma kepada Kompas di Pelabuhan Perikanan Pemangkat, Senin (22/3).
Yukroma hanya salah seorang dari sekitar 1.000 nelayan Pemangkat
yang tidak beroperasi sejak kerusuhan meletus satu pekan lalu.

Sebetulnya sejak sebulan lalu, para nelayan sudah cemas dengan kondisi
seperti ini, tetapi mereka masih bisa melaut. Namun setelah kerusuhan
di Kabupaten Sambas makin membara, nelayan-nelayan Pemangkat yang
umumnya warga etnis Melayu ini tidak berani melaut.

Dalam kondisi normal, buruh nelayan seperti Yukroma bisa membawa
pulang uang Rp 15.000 ke rumah, untuk menghidupi empat anak dan seorang
istrinya. Tuturnya, “Seminggu terakhir ini, saya terpaksa meminjam uang
dari majikan. Satu hari sekitar Rp 15.000-Rp 20.000. Apa boleh buat,
daripada keluarga di rumah tidak makan.”

Menurut Kepala Dinas Perikanan Kecamatan Pemangkat, Ibrahim
Zaini, setiap hari nelayan Pemangkat menghasilkan 20 ton hingga 30
ton ikan laut yang segar, sebagian besar dipasok ke Pontianak. Namun
sudah seminggu terakhir ini, pedagang ikan di Pontianak tidak menerima
pasokan ikan dari nelayan Pemangkat. Ratusan pedagang ikan bersepeda
kayuh yang menjajakan ke rumah-rumah penduduk desa sekitar Pela-buhan
Perikanan Pemangkat, kini menganggur.

Nelayan Pemangkat memberi kontribusi terbesar dalam produksi
perikanan laut di Kabupaten Sambas. Produksi setiap tahun rata-rata
9.568 ton atau sekitar 48 persen dari seluruh produksi perikanan laut
Kabupaten Sambas yang pada tahun 1997 mencapai 20.170 ton.
***

RODA perekonomian di kabupaten ini macet. Jumlah angkutan umum
berkurang karena penumpang tak berani berpergian, sehingga nafkah
sopir seret. Toko-toko tutup di kota-kota kecamatan seperti Pemangkat,
Selakau, Tebas, hingga Sambas. Warung-warung kecil di tepi pantai
Sinam, Tanjungbatu, Pemangkat mendadak sepi.

“Biasanya banyak orang pacaran datang kemari, makan bubur
pedas khas Sambas dan minum air kelapa muda,” kata Nurhayati (35),
pemilik satu-satunya warung yang berani buka di sana.

Bupati Sambas Tarya Aryanto kepada Kompas, Minggu, menyebutkan,
eksodus ribuan warga Madura mengganggu pembangunan prasarana fisik
seperti jalan, bangunan, serta penyediaan bahan pasir dan batu.
Dikatakan, pemda berusaha mencari pengganti tenaga-tenaga kasar itu,
meski hal itu tidak mudah dilakukan.

Pasokan daging sapi akan menurun drastis, maklum warga Madura
di Sambas “menguasai” pemeliharaan, pemasaran, dan pasokan daging
sapi. Pada tahun 1997, populasi sapi di kabupaten ini 26.700 ekor,
sebagian dipasok ke Pontianak dan daerah lainnya di Kalbar.

Ladang padi milik warga Madura yang siap dipanen mencapai
1.000 hektar, hanya 5,8 persen dari 17.000 hektar sawah di Kabupaten
Sambas. Tarya Aryanto mengemukakan, padi siap panen yang ditinggalkan
pemiliknya itu akan ditangani secara khusus dan tidak akan
menghilangkan hak pemilik yang mengungsi. “Pemda akan mengupayakan
lahan padi itu tidak dipanen sembarangan. Kepala desa mempunyai
catatan nama-nama petani tersebut,” tambahnya

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sambas Ir Burhanuddin,
para petani warga Melayu belum berani turun ke sawah. Jika kerusuhan
terus berlanjut, padi tak bisa dipanen.

“Kami waswas kalau terjadi kerusuhan, dan ada tembakan ke arah
sawah ketika kami memanen,” kata Idris (40) warga Desa Perapakan yang
sawahnya di tepi jalan antara Singkawang-Pemangkat-Tebas. Itu pula
kata rekan-rekannya di sejumlah desa di Kecamatan Pemangkat.

Produksi padi Kabupaten Sambas periode Januari-April 1999
mencapai 201.000 ton, menyamai produksi satu tahun, Januari-Desember
1997. Kata Ir Burhanuddin, “Peningkatan pada tahun ini setelah
dilakukan Gerakan Satu Juta Ton Gabah Kering Giling.”

Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Sambas (39 persen) yang pada tahun 1997/1998
mencapai 5,04 persen. Krisis ekonomi umumnya tidak dirasakan masyarakat
Sambas yang umumnya petani (77 persen). Masyarakat pedalaman di
Kabupaten Sambas, terutama yang berbatasan dengan Sarawak (Malaysia
Timur), seperti Kecamatan Seluas, malahan menikmati keuntungan dari
kursrupiah-dollar AS. Harga lada yang ditanam melambung menjadi
Rp 80.000-Rp 100.000.
***

TERLETAK di sebelah utara Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas
berpenduduk sekitar 900.000 jiwa, dengan luas wilayah 12.296 km2 atau
hampir 19 kali luas Kota Jakarta. Sebagian besar penduduk Kabupaten
Sambas adalah etnis Melayu (49,1 persen), disusul etnis Dayak (19,86
persen), etnis Tionghoa (17,73 persen), dan berbagai etnis lainnya
13,3 persen. Jumlah etnis Madura sekitar 10 persen atau sekitar
80.000-90.000 jiwa, dan tersebar di 17 kecamatan.

Masa jeruk Kalbar jaya, Kabupaten Sambas, khususnya daerah
Tebas dan Pemangkat, menjadi produsen jeruk. Puncaknya tahun 1993,
dengan produksi 257.000 ton, menghasilkan pajak sekitar Rp 1,4
milyar sebagai pendapatan asli daerah Pemda Kabupaten Sambas. Karena
salah urus, semua itu kini lenyap, meski mulai ada upaya untuk
mengembalikan kejayaan itu.

Sambas juga menjadi “langganan” daerah kerusuhan antar-etnis,
baik antara Dayak-Madura maupun Melayu-Madura. Kerusuhan seperti ini
sudah merupakan yang ke-13 kali, dengan korban jiwa dan harta yang
besar.

Kapan kerusuhan ini berakhir? Warga Sambas mulai lelah dengan
situasi dan kondisi “perang” itu. (adhi ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s