Isu Serangan Balik, Kota Pontianak Tegang

Pengantar
Kota Pontianak ikut-ikutan tegang menyusul adanya isu serangan balik. Sungguh melelahkan meliput peristiwa seperti ini.
(KSP)

KOMPAS
Selasa, 30 Mar 1999
Halaman: 17
Penulis: KSP/JAN/ELY

ISU SERANGAN BALIK, KOTA PONTIANAK TEGANG
Pontianak, Kompas
Setelah kerusuhan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mereda,
sejak hari Minggu malam hingga Senin (29/3) dini hari ketegangan
menghantui masyarakat Kota Pontianak. Ini akibat munculnya isu akan
terjadi serangan balik oleh warga asal Madura. Masyarakat di berbagai
tempat di kota itu berjaga-jaga, melakukan siskamling dan ronda malam.
Namun Senin pagi hingga sore, Pontianak normal kembali.

Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Pontianak, Letkol
(Pol) M Daulay menegaskan, aparat keamanan akan bertindak tegas
terhadap mereka yang coba-coba melakukan kerusuhan. Pada 26 titik
rawan di seputar kota itu ditempatkan pasukan keamanan gabungan Polri
dan TNI AD. Di setiap titik ditempatkan 12 petugas keamanan. Panser
Kavaleri mulai ditempatkan di kawasan Siantan, Pontianak Utara.
Petugas keamanan meningkatkan kesiagaannya untuk mencegah kerusuhan
menjalar ke Pontianak.

“Kami tak mau ambil risiko. Yang memulai membuat rusuh, akan
dilibas,” tandas Daulay yang berpatroli hingga Senin subuh. Hari
Selasa ini, petugas akan melancarkan razia senjata tajam dan senjata
api di Terminal Batulayang dan Terminal Siantan. Pejabat Muspida
Kodya Pontianak akan bersafari bertatap muka dengan tokoh masyarakat
multi-etnis di kota itu.

Wilayah di Pontianak yang sempat tegang antara lain di Gang Tebu
(Jeruju), Barjarserasan, Kampung Saigon, Kampung Beting, Kampung
Dalam, dan Pasar Kamboja.

Selain itu, di sejumlah lokasi lainnya di Pontianak massa juga
berkumpul, melakukan ronda malam, seperti di rumah-rumah kos mahasiswa
etnis Melayu di Jl Imam Bonjol, dekat kampus Universitas Tanjungpura.
Pagi kemarin, dua peleton pasukan keamanan tiba dari Sambas ke
Pontianak, untuk membantu pengamanan di kota itu.

Komnas HAM
Dari Singkawang dilaporkan, anggota Komnas HAM, Bambang W Soeharto
dan Sugiri, Senin pagi tiba di ibu kota Kabupaten Sambas. Mereka
melakukan dialog tertutup sekitar 1,5 jam dengan tokoh masyarakat
Melayu, Dayak, dan Madura di daerah itu. Uray Darmansyah (mewakili
masyarakat Melayu), Asau dan Adrianto Alio (Dayak), dan Fahrudin
(Madura).

Kepada pers seusai pertemuan, Bambang W Soeharto menegaskan,
ketiga etnis yang terlibat kerusuhan di Sambas memahami kasus ini
perlu diselesaikan secara damai, namun memerlukan waktu yang lama.
Komnas HAM mencoba mencari metode penyelesaian yang tepat, yang bisa
diterima pihak-pihak yang bertikai berdasarkan bahan-bahan yang
dikumpulkan.

Dari pertemuan itu, kata Bambang, ada titik temu dari
masing-masing etnis untuk hidup berdampingan. Meskipun masih berbeda
arah, tetapi nuansanya sama, yakni penyelesaian secara damai. Wakil
dari ketiga etnis menghendaki adanya filter dalam hidup bersama-sama.

Hingga kemarin, polisi telah menahan 59 tersangka pelaku kerusuhan
Sambas dari ketiga etnis, serta menyita 527 pucuk senjata api, 2.618
senjata tajam, dan 430 peluru senjata bomen buatan Malaysia.

Petugas keamanan kini juga menjaga perkampungan warga asal Madura
di Singkawang. Jumlah warga asal Madura di Singkawang saat ini 3.000
jiwa, namun yang masih bertahan tinggal 500 orang. Selebihnya sudah
mengungsi ke Pontianak.

Hari Selasa ini, rombongan tim pencari fakta DPR RI terdiri dari
10 orang yang dipimpin Fatimah Achmad, rencananya tiba di Pontianak.
Gubernur Aspar Aswin menegaskan, Pemda Kalbar hingga kini belum
memutuskan akan dibawa ke mana ribuan pengungsi yang sekarang berada
di Pontianak. Jumlah warga asal Madura dari Kabupaten Sambas yang
mengungsi hingga Senin tercatat 28.707 orang, terdiri dari 20.852
orang mengungsi ke Pontianak dan 7.888 di markas tentara di
Kabupaten Sambas.

Naziisme
Di Jakarta, anggota MPR Didik J Rachbini mengatakan, pembunuhan
massal dengan cara yang sadis seperti yang terjadi di Sambas, menjadi
wajah buruk kemanusiaan. Peristiwa pembunuhan terhadap warga etnis
Madura ini harus ditentang, karena merupakan penindasan terhadap
kemanusiaan.
“Ini mirip Naziisme pada tingkat lokal, atau mirip Polpot
tradisional di pedusunan,” ujarnya, Senin.

Bersama kelompok masyarakat Madura yang tergabung dalam alumnus
Gabungan Mahasiswa Madura (Gasisma) Bogor, Forum Mahasiswa Madura
(Formad) Ciputat, Yayasan Rampak Naong Jakarta, Didik mengutuk
terjadinya kekerasan. “Apa pun alasannya, pembantaian terhadap
anak-anak, orang tua, dan wanita, serta pemusnahan terhadap harta
benda seseorang adalah tindakan biadab yang harus dikutuk,” tegas
pakar ekonomi ini.

Diakui, faktor kesenjangan dan kecemburuan sosial menjadi salah
satu sebab timbulnya kebencian etnis. Oleh karena itu, Didik setuju
jika kepada masyarakat Dayak diberi porsi perhatian yang lebih besar
untuk meningkatkan kesejahteraannya. (ksp/jan/ely)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s