Gagal, Upaya Serbu Rumah Sakit di Singkawang

Pengantar
Setiap konflik sosial melahirkan penderitaan dan juga balas dendam. Inilah yang terjadi ketika sebuah rumah sakit di Singkawang yang merawat sejumlah korban yang luka tembak dalam insiden penyerangan Mapolres Sambas sehari sebelumnya, diserang mereka yang bermaksud membalas dendam. Konflik sosial hanya melahirkan penderitaan dan dendam. Jangan pernah terjadi lagi peristiwa hitam seperti di Sambas 1999. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 09 Apr 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/JAN

GAGAL, UPAYA SERBU RUMAH SAKIT DI SINGKAWANG
Singkawang, Kompas
Upaya kelompok bersenjata menyerbu Rumah Sakit Umum Dr Abdul
Aziz di Singkawang, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (8/4)
siang digagalkan petugas keamanan. Di rumah sakit itu memang dirawat
50 orang dari suku Melayu yang luka tembak dan memar akibat terlibat
insiden di Sungagaram sehari sebelumnya.

Sorenya, di kota pesisir Pemangkat, 35 km utara Singkawang, petugas Koramil memergoki dua orang bersepeda motor mengelilingi rumah sakit setempat, yang juga merawat 28 orang Melayu korban insiden Sungagaram. Keadaan di Kota Singkawang dan Pemangkat menjadi tegang lagi.

RSU Abdul Aziz yang terletak di Jl Dr Soetomo, letaknya
dikelilingi rumah dan pemukiman orang Madura. Menurut Tihan, juru
parkir di situ, sekitar pukul 12.15 ia melihat tiga orang masuk ke
rumah sakit. Ia mengenali salah satu dari mereka, lalu menguntitnya.

Di depan ruang perawatan bedah ia menegur tiga orang itu, tetapi malah
ditantang berkelahi. Tihan kemudian berteriak. Tiga penyusup itu pun
kabur. Enam anggota aparat keamanan yang berjaga di situ kemudian
mengejar tiga orang itu sampai di halaman, sambil melepaskan tembakan.

Dua penyusup diringkus, namun seorang lagi meloloskan diri.
Seorang polisi, Serma Arsyad, tangannya terluka kena sabetan senjata
tajam. Satuan keamanan kemudian segera menyapu perkampungan sekitarnya
dan menggeledah rumah di sekitarnya yang sebagian besar kosong.

Dalam operasi itu, aparat keamanan menangkap 24 orang, serta
menyita 48 bilah senjata tajam, 18 bom molotov, dan lima senjata api
rakitan yang siap digunakan (satu di antaranya senjata rakitan dengan
peluru standar ABRI) yang ditemukan di semak-semak. Selain itu juga
ditemukan sebuah tangga yang sudah dipasang ditembok belakang halaman
rumah sakit dan siap dinaiki untuk masuk ke halamam dalam.

Suara tembakan yang dilepaskan pasukan keamanan yang mengejar
penyusup, menyebabkan pasien dan pengunjung rumah sakit panik dan lari
berhamburan keluar. Pasien yang sedang diinfus pun berusaha kabur
berikut selang dan kantung plastik cairan infusnya. “Kami langsung
tiarap mendengar tembakan di dalam rumah sakit,” kata Feni, perawat.
Pasien di berbagai bangsal berteriak ketakutan.

Saksi mata lainnya, Dodi, yang bekerja di bagian dapur,
mengatakan, ia sempat ditodong senjata api bomen. “Untung aparat cepat
datang. Kalau tidak, mungkin saya sudah mati,” kata Dodi.

“Ini betul-betul sudah keterlaluan. Kami ‘kan merawat orang
sakit,” kata dokter Noerbassyah S, direktur rumah sakit itu. Ia
mengatakan kepada Kompas, kelompok yang menyusup itu membawa celurit
dan senjata api rakitan jenis bomen, dan bermaksud mendatangi ruang
perawatan bedah. “Mereka sudah sempat masuk dapur rumah sakit dan
berada di depan ruang perawatan bedah,” katanya. Ia telah minta agar
pengamanan rumah sakit lebih diperketat.

Komandan Korem 121 Kalbar, Kolonel (Inf) Encip Kadarusman
mengatakan, “Kelompok yang menyerang rumah sakit itu betul-betul tidak
tahu diri!” Sedangkan Kepala Kepolisian Daerah Kalbar, Kolonel (Pol)
Chaerul Rasjidi menandaskan, siapa pun yang berbuat anarkis akan
ditindak tegas.

Begitu masyarakat mendengar adanya kejadian itu, suasana kota
jadi mencekam. Kebanyakan toko tutup. Jalan sepi. Sedangkan aksi
pembakaran rumah orang Madura di Singkawang terus berlangsung.

Pemangkat berkabung
Sementara itu Kota Pemangkat pada hari Kamis berkabung.
Bendera setengah tiang dikibarkan di rumah dan toko di kota kecil di
pesisir utara Kalbar itu. Salah seorang dari korban tewas dalam
insiden berdarah di Singkawang dan sekitarnya hari Rabu, adalah
Syamsul (20), buruh nelayan. Pemakamannya di Desa Harapan (Pemangkat)
diantar sekitar seribu orang.

Kapolda Kalbar, Kolonel (Pol) Chaerul Rasjidi mengatakan,
Pontianak kini juga tegang, setelah pada Rabu malam seorang warga
ditikam lima warga lainnya dalam perkelahian di Hotel Garuda
Pontianak. “Tiga orang sudah ditangkap, dan dua lainnya masih
dikejar,” kata Chaerul.

Sedikitnya 20 tokoh masyarakat Melayu asal Kabupaten Sambas
yang tinggal di Pontia-nak, menyerukan agar keru-suhan yang sedang
terjadi di Singkawang dan kawasan sekitarnya segera dihentikan. Seruan
itu disampaikan Muchalli Taufiek dalam jumpa pers di Pontianak, Kamis.
(ksp/jan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s