Begitu Lahir Diberi Makan Kelapa…

Pengantar
Suasana pengungsian korban konflik sosial sungguh memprihatinkan. Ada bayi yang baru lahir terpaksa diberi makan kelapa. Sejarah hitam republik ini, yang tak boleh terulang lagi. (KSP)


KOMPAS
Rabu, 24 Mar 1999
Halaman: 9
Penulis: KSP

BEGITU LAHIR DIBERI MAKAN KELAPA…

HUJAN gerimis dan udara dingin Senin (22/3) malam menyelimuti
Desa Sabaran, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Dalam suasana tersebut Ny Mislati (25) yang sudah hamil tua,
melahirkan bayi laki-laki.

Lima hari lalu, perempuan itu berjalan kaki dari kampungnya di
Desa Segarau Parit selama lebih tiga jam; menembus hutan, dan akhirnya
tiba di desa di pesisir sungai.

Bersama ribuan warga desa lainnya di Kecamatan Tebas dan Jawai,
Mislati meninggalkan semua harta miliknya, dan lari menyelamatkan
diri. Setelah empat hari mengungsi di Desa Sabaran, perempuan itu
akhirnya melahirkan bayi laki-laki dengan selamat. Ia ditolong dukun
beranak yang juga mengungsi. Begitu lahir, bayi pun diberi makan
kelapa dan pisang yang banyak bertebaran di kebun.

Saat menunggu dievakuasi, sedikitnya dua belas wanita melahirkan
di Desa Sabaran, dan sebagian besar bukan kehamilan pertama. Sehatkah
bayi-bayi yang lahir dalam pengungsian itu ?

Menurut dr Sumardi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, hari
Selasa, bayi yang baru lahir langsung diberi makan kelapa dan pisang
bisa tetap kuat, karena tingginya adaptasi alam masyarakat Madura yang
sudah terbiasa hidup dalam kesusahan.

Namun demikian, Sumardi mencemaskan, jika balita hidup dalam
suasana pengungsian selama berhari-hari, kesehatan mereka akan
menurun. “Biasanya lewat lima hari, kondisi balita yang hidupnya tak
teratur, mulai rawan. Dari kurang gizi sampai terkena flu. Soalnya,
ibunya sendiri dalam kondisi kurang sehat,” jelas Sumardi.
***

DESA Sabaran di Kecamatan Tebas hanya dapat dicapai dengan perahu
motor dan speed-boat, karena lokasinya terisolir, dibelah Sungai
Sambas Besar selebar 800 meter. Di desa inilah, lebih dari 12.000
warga Madura sejak Kamis pekan lalu, bersembunyi untuk sementara,
sambil menunggu bantuan kapal tiba.

Evakuasi warga Madura yang mengungsi sementara ke Desa Sabaran,
masih terus berlangsung. Mereka antre dan menunggu di muara Sungai
Sambas Besar, sampai perahu motor maupun speed-boat Polisi Perairan
Polda Kalbar mengantarkan mereka ke samping Kapal Perintis, kapal
barang dan juga kapal TNI AL. Kapal-kapal inilah selanjutnya yang
membawa ribuan warga Madura ke Pontianak.

Sebagian besar warga Madura yang mengungsi di Desa Sabaran,
membangun tempat berteduh seadanya. Ada yang menyusun daun-daun pohon kelapa menjadi tempat berteduh seadanya. Ada yang tinggal di
rumah-rumah kosong di desa itu. “Pokoknya kami berusaha untuk bertahan
hidup,” kata Sahrodi (29), warga (Madura) asal Desa Tekarang (Tebas).

Mereka tinggal di sepanjang pesisir anak Sungai Sambas Besar
selebar enam meter. Mereka membangun dapur umum, dan bekerja sama
menyediakan logistik untuk sesama pengungsi. Bantuan beras dan mi
instan terus mengalir, sementara kapal-kapal pun terus berdatangan
mengevakuasi mereka dari desa itu. Hingga Selasa tercatat sekitar
7.000 orang dievakuasi dari Desa Sabaran. Tetapi masih lebih 5.000
orang lagi yang berada di desa itu.

Selama menunggu dievakuasi, mereka memetik kelapa yang pohonnya
berjumlah ribuan batang.
Kondisi kesehatan mereka memprihatinkan. Keluhan penyakit
terdengar di sana-sini. Itulah sebabnya ketika tim kesehatan yang
dipimpin Sumardi tiba di sana, banyak warga Madura berduyun-duyun
datang memeriksakan diri dan minta obat-obatan. “Penyakit mereka
umumnya demam, flu, dan infeksi saluran pencernaan, akibat makan tidak
teratur lagi. Mereka juga mengalami stres, tekanan mental yang besar,”
kata dr Sumardi.
***

SYARIF (48), warga Desa Segarau Parit, Kecamatan Tebas menuturkan,
sekitar 300 rumah di desa itu milik warga Madura habis dibakar massa
pada Jumat pekan lalu.

Ribuan warga Madura, sebagian di antaranya berjalan kaki selama
dua hari dua malam, menuju Desa Sabaran di pesisir sungai. Sebagian
lagi kini masih bersembunyi di dalam hutan, dan belum diketahui
nasibnya. “Kami hanya minta hidup. Kami sudah tak punya apa-apa lagi,” kata Syarif. (ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s