Alternatif Pengungsi Sambas: Lahan Tidur

KOMPAS
Selasa, 13 Jul 1999
Halaman: 1
Penulis: ADHI KSP/WAWA, JANNES EUDES

ALTERNATIF PENGUNGSI SAMBAS: LAHAN TIDUR

NYONYA Tobiyah (25), ibu muda asal Desa Sendoyan, Kecamatan
Sejangkung, Kabupaten Sambas, menatap sedih bayi perempuannya,
Martiah (17 bulan). Kedua kaki balita itu tampak mengecil, sementara
wajah bayi itu tampak pucat.

Sudah empat bulan lamanya, Tobiyah tinggal di barak pengungsian
Bokmakong, Desa Sedau, Kecamatan Tujuhbelas, Kabupaten Bengkayang
(dulu Kabupaten Sambas). Sejak kerusuhan Sambas pecah, ribuan warga
Madura di wilayah itu terpaksa mengungsi.

Bersama sekitar 3.000 orang lainnya, Ny Tobiyah tinggal di
pengungsian Bokmakong. Sejak tinggal di sana, Tobiyah tak mampu lagi
merawat bayinya seperti di kampung kelahirannya di Desa Sendoyan.
Situasi di pengungsian seperti kurang gizi dan makan tak teratur,
serta sanitasi yang tidak terpelihara, membuat kondisi ibu muda dan
bayinya makin lemah.

“Anak saya sering terserang diare. Badannya panas dan tubuhnya
mulai korengan,” tutur Ny Tobiyah. Martiah, balita 17 bulan itu
tertidur pulas di ayunan kain. “Pak dokter datang dua hari sekali,
tetapi tidak memberi suntikan.”

Bidan Megawati (22), yang setiap hari datang ke barak pengungsian
itu, mengatakan, selama empat bulan ini 50-an pengungsi meninggal
dunia akibat diare dan gangguan saluran pernapasan. Sebagian besar
korban adalah anak-anak.

Kekurangan air bersih memang menjadi salah satu penyebab
menyebarnya penyakit yang menyerang anak-anak.
“Tangki-tangki air bantuan luar negeri hanya pajangan belaka.
Mesin pompa air tak mampu menyedot air tanah. Setiap tengah malam,
kami berjalan kaki satu kilometer lebih, mencari air. Sepuluh sumur
di kawasan Bokmakong ini kering,” kata Abdul Hamid (60), salah
seorang ketua barak di pengungsian itu.
***

BARAK Bokmakong di Kabupaten Bengkayang terletak sekitar 15 km
dari kota Singkawang. Kabupaten Bengkayang, dulu sebelum pemekaran
masuk wilayah Kabupaten Sambas. Lokasi pengungsian ini sekitar 3 km
dari tepi jalan raya Pontianak-Singkawang, persis bertetangga dengan
markas Sekolah Calon Tamtama (Secata). Di sana bermukim 544 KK
(kepala keluarga) atau 2.999 jiwa yang tinggal di 24 barak.

“Kawasan pengungsian Bokmakong ini sebetulnya tanahnya subur.
Padi, bangkuang, sayur-sayuran, lada, pasti menghasilkan uang jika
ditanam di sini,” kata Abdul Hamid yang berasal dari Sanggauledo,
Kabupaten Bengkayang.
Di kampungnya, Hamid yang memiliki tujuh hektar tanah mampu
mengumpulkan uang Rp 6 juta/bulan.

“Selama di pengungsian di sini, saya tak bisa tenang. Masak saya
harus menunggu bantuan orang lain dulu agar bisa makan? Dulu saya
memberi makan banyak orang, tetapi sekarang saya harus menunggu jatah
makan. Hidup hanya makan-tidur, sungguh tak menyenangkan,” kata Hamid
yang berasal dari Malang, Jawa Timur.

Sejak dua bulan lalu, ia berpikir untuk memanfaatkan lahan tidur
di kawasan pengungsian itu. Bersama ketua RT setempat, Dul Amar (69),
Hamid mengajak sejumlah pengungsi untuk menggarap 0,4 hektar atau
sekitar 4.000 m2 lahan tidur dan menanaminya dengan bangkuang. Kata
Dul Amar sambil tertawa, “Kami baru saja panen bangkuang dan
menghasilkan uang Rp 7 juta.”

Dul Amar tinggal di Bokmakong sejak 1979 setelah kerusuhan
antaretnis meletus di Samalantan. Ia tidak ingin kembali ke
Samalantan dan memutuskan tetap tinggal di sana karena melihat
kesuburan tanahnya. Ia mengaku memiliki 40 hektar lahan.

“Kalau saudara-saudara kami yang ada di pengungsian di kota
Pontianak berniat datang ke Bokmakong, saya yakin mereka bisa
menghasilkan uang. Dengan catatan, pemerintah memberi bantuan
peralatan pertanian seperti alat bajak, cangkul, kapak, parang,” kata
Amar. Di sekitar barak itu, terdapat 10.000 hektar lahan tidur milik
negara, yang bertahun-tahun lamanya tidak dimanfaatkan.
***

ABDUL Hamid dan Dul Amar termasuk pengungsi Madura yang rasional.
Mereka menyadari situasi keamanan di Kabupaten Sambas/Bengkayang
hingga saat ini belum pulih benar. Sementara itu rencana relokasi ke
Tebangkacang pun masih belum jelas.

Banyak pengungsi yang menolak ditransmigrasikan ke Tebangkacang
karena lokasi yang relatif jauh dan sulit dijangkau. Mereka harus
naik perahu motor yang melintasi sungai, jika ingin ke lokasi.
Juga masih ada ketidakcocokan soal tipe rumah yang akan dibangun.

Misalnya Gubernur Kalbar Aspar Aswin pernah berjanji pada Ikatan
Keluarga Madura (Ikamra) Kalbar, rumah yang akan dibangun senilai
Rp 27 juta. Ternyata, rumah yang dibangun senilai Rp 5 juta.

Dalam situasi tidak pasti inilah, pengungsi Bokmakong menawarkan
alternatif lain yang mungkin bisa diterima pemerintah. Yaitu
menggarap lahan tidur di sekitar barak itu.

“Tanah di sini seperti di Pasuruan (Jawa Timur). Subur. Pasti
bisa kalau dimanfaatkan maksimal. Masalahnya, orang di sini ‘kan
belum punya kebiasaan menggarap lahan tidur. Mungkin karena di
Kalbar, tanahnya terlalu luas,” kata Abdul Hamid.
***

GAGASAN Abdul Hamid dan Dul Amar ini menarik untuk dikaji dan
Pemda Kalbar. Sebab membiarkan ribuan pengungsi hidup dalam situasi
tak menentu, pasti akan menimbulkan persoalan baru. Selain akan
menambah jumlah anak-anak yang kekurangan gizi dan meninggal dunia,
juga akan menambah penderitaan pengungsi itu sendiri.

Hidup dengan mengharapkan bantuan orang lain, tentunya bukan hal
yang membanggakan. Keluh Hamid, “Harga diri kami hilang, begitu kami
tinggal di pengungsian. Kami harus bekerja untuk mendapatkan uang.
Tak bisa terus-terusan begini.” (adhi ksp/jannes e wawa)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s