Waspadai Provokator

Pengantar
Berita konflik etnis di Sambas, Kalimantan Barat berawal dari peristiwa di Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, persis pada Hari Raya Idul Fitri. Ini sejarah kelam republik ini. (KSP)

KOMPAS
Sabtu, 23 Jan 1999
Halaman: 8
Penulis: ZAL/NTS/KSP

WASPADAI PROVOKATOR
Manado, Kompas
Untuk mencegah kerusuhan di wilayahnya, Gubernur Sulawesi Utara
EE Mangindaan hari Jumat (22/1) menginstruksikan aparat desa dan
kelurahan mewaspadai gerakan provokator, dan mengaktifkan kembali
sistem keamanan lingkungan dan mengenakan wajib lapor bagi para
pendatang.

Sementara itu, aparat keamanan di Kabupaten Cilacap (Jateng)
dan Kabupaten Sambas (Kalbar) sibuk menengahi tawuran antarwarga
dua desa berdampingan. Tawuran itu di Cilacap bermula dari tindakan
pemalakan terhadap sopir bus, dan tawuran di Sambas bermula dari
pengeroyokan seorang maling.

Di Manado, instruksi gubernur itu dikeluarkan setelah
berlangsung pertemuan dengan Ketua DPRD Sulut, Rolin Tanos, Muspida
Sulut, serta para bupati dan wali kota, pimpinan agama, tokoh
masyarakat, unsur pimpinan organisasi pemuda dan mahasiswa serta
para pejabat instansi terkait di Sulawesi Utara.

Mengindaan menekankan, kewaspadaan harus terus dilakukan,
terutama terhadap orang yang dicurigai dan tidak memiliki identitas
sama sekali atau yang tidak jelas identitasnya. Adanya orang yang
demikian harus segera dilaporkan kepada aparat keamanan terdekat.

Gubernur juga minta aparat keamanan, aparat hukum, serta para pejabat
pemerintah selalu berada bersama-sama masyarakat di daerah tugas
masing-masing, sehingga bila ada kejadian bisa segera diatasi.

“Jangan tinggalkan tokoh agama dan masyarakat, dan pemuda,
karena mereka semua merupakan pilar utama untuk menjaga stabilitas
daerah ini,” kata Mangindaan.

Dalam suasana religius merayakan Natal, Tahun Baru, dan Idul
Fitri, harus dijaga dan dipelihara bersama situasi aman, dan tenteram
saat ini untuk menghadapi Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999 sebagai
pintu gerbang menuju demokrasi. “Silakan berpolitik, tetapi tetap
harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Mangindaan.

Sebagai antisipasi kemungkinan munculnya kerusuhan di Sulut,
Mangindaan meminta masyarakat waspada penuh terhadap isu provokator
yang mengadu domba antarumat beragama dan kelompok masyarakat. Ia
juga menambahkan, aparat keamanan dan pemerintah daerah tetap harus
waspada setelah mampu mengendalikan keamanan. “Perlu diwaspadai munculnya aksi susulan,” katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 131/Santiago, Kolonel (Inf) R
Simorangkir mengungkapkan adanya kegiatan provokasi yang dilakukan
orang tertentu di beberapa tempat dengan tujuan memicu kerusuhan di
Manado. Provokator itu sering berpindah-pindah hotel atau rumah untuk
menghilangkan jejaknya.

Aparat keamanan dari Korem 131/Santiago dan kepolisian bersama
petugas terkait akan terus berupaya melakukan pendeteksian dini agar
usaha atau aksi para provokator itu dapat dieleminir dan sekaligus
menangkap pelakunya.

Aksi palak
Bentrokan antara warga Desa Adipala dan Desa Penggalang di
Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jateng, Kamis hingga Jumat
menyebabkan 21 warga kedua desa itu luka terkena lemparan batu.

Korban umumnya mengalami luka memar di kepala dan wajah. Namun Tasno (21), warga Desa Adipala luka parah dan dalam keadaan kritis di Rumahsakit
Umum Cilacap. Bus Wisnu Rahayu yang sedang berada di terminal bus
Adipala rusak diamuk massa.

Tawuran yang melibatkan ribuan warga kedua desa itu, menurut
Camat Adipala Muhadi, dan Kapolsek Letda (Pol) Imam Setyono maupun
Komandan Koramil, Pelda Fachrurozi, bermula Kamis pagi ketika
beberapa pemuda Penggalang mencoba memalak seorang sopir bus yang kebetulan warga Adipala. Karena permintaannya tidak dipenuhi, seorang pemuda Penggalang menusuk kepala sopir itu dengan sebilah garpu.

Kejadian itu kemudian menyulut perselisihan dan bentrok massal
antardesa. Menurut Muhadi, Jumat siang sebenarnya sudah diadakan
perdamaian. Warga kedua desa bertetangga sepakat menghentikan
permusuhan. “Akan tetapi entah kenapa kesepakatan damai itu
dilanggar,” ujarnya.

Suasana di perbatasan kedua desa hingga kemarin sore masih
sangat mencekam. Ribuan warga kedua desa itu melengkapi dirinya
dengan batu, parang, pedang, pentungan, batangan besi, katapel,
bahkan senapan angin. Sejak Jumat pagi mereka sudah berhadap-hadapan dan dalam kondisi “siap tempur”.


Jarak kedua kubu hanya sekitar 30 meter hingga 40 meter. Belasan pemuda Adipala dengan sepeda motor hilir mudik mengangkut karung plastik berisi batu, ke garis depan. Berbeda dari kubu Adipala yang sebagian besar anak-anak muda, “pasukan” dari kubu Penggalang tidak hanya terdiri anak-anak muda, tetapi juga kaum ibu sampai kakek-nenek ikut bersiap menghadapi kubu lawan. Polres Cilacap telah mengerahkan pasukan pengendalian massa
untuk memperkuat petugas keamanan dari Polsek dan Koramil setempat.

Mengeroyok maling
Sementara itu, situasi Desa Paritsetia di Kecamatan Jawai,
Kabupaten Sambas, kemarin berangsur-angsur pulih, setelah terjadi
bentrokan antardesa. Namun sebagian besar penduduk masih mengungsi
karena khawatir akan terjadi serangan susulan. Komandan Korem 121/ABW
Kolonel (Inf) Encip Kadarusman mengimbau penduduk yang mengungsi
untuk segera kembali ke rumah masing-masing. “Petugas menjamin keamanan. Silakan kembali,” ujar Encip Kadarusman.

Lebih 90 persen dari 3.000 penduduk Desa Paritsetia sejak
Selasa sore lalu mengungsi ke desa lain setelah terjadi serangan
massa berjumlah sekitar 300-an orang bersenjata tajam ke desa mereka.

Polisi Sambas sudah menahan sembilan orang tersangka. Dua
tahanan terakhir adalah warga Desa Paritsetia yang disangka
mengeroyok Hasan (yang tertangkap basah hendak mencuri). Sedangkan tersangka dari Desa Sarimakmur tetap satu orang, yaitu Nian bin Tolok, ayah Hasan. (zal/nts/ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s