Kerusuhan di Sambas: Sebanyak 15.000 Orang Diungsikan

Pengantar
Sebanyak 15.000 orang diungsikan dari desa-desa di Kabupaten Sambas ke Pontianak. Saya waktu itu memantau daerah konflik sendirian, mengendarai mobil dinas Kompas, Rocky. Kalau sekarang saya berpikir ulang, saya merasa heran mengapa pada waktu itu saya merasa “berani” menyusuri daerah konflik itu. Sungguh, pengalaman jurnalistik paling berkesan dalam hidup saya.
(KSP)

KOMPAS
Sabtu, 20 Mar 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/GG/JAN/PIN

Kerusuhan di Sambas
SEBANYAK 15.000 ORANG DIUNGSIKAN
Sambas, Kompas

Situasi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, hingga hari
Jumat (19/3) masih belum normal. Pengepungan kampung di pedalaman yang
dihuni warga asal Madura masih berlangsung. Sementara itu, sekitar
15.000 warga Madura diungsikan ke Pontianak dengan kapal dan truk.
Gelombang pengungsi ini diperkirakan terus bertambah karena
tersebarnya isu penyerangan ke kampung mereka.

Jumlah korban tewas akibat kerusuhan di Sambas hingga semalam
bertambah 13 orang, sehingga dalam insiden selama lima hari terakhir
jumlahnya menjadi 64 orang. Jumlah ini kemungkinan terus bertambah
karena masih banyak warga pendatang asal Madura yang tinggal di lokasi
yang jauh dari jalan raya, sedangkan massa terus melakukan aksi
pengejaran dan pengepungan di sejumlah desa.

Sementara itu, di Kota Singkawang (ibu kota Kabupaten Sambas),
sejak pukul 13.30, toko-toko mendadak ditutup akibat tersebarnya isu
penyerangan ke kota itu. Suasana kota berpenduduk sekitar 300.000 jiwa
ini tampak tegang. Warga cemas bakal terjadi kerusuhan sehingga
memilih menutup tempat usaha mereka.

Sampai hari Jumat, kerusuhan di Sambas yang semula melanda
tujuh kecamatan (Pemangkat, Tebas, Sambas, Jawai, Selakau,
Sanggauledo, dan Samalantan), kini melebar ke Kecamatan Tujuhbelas.
Jumlah rumah yang dibakar sudah lebih dari 1.000 buah.

Kerusuhan itu sendiri meledak sejak hampir sebulan yang lalu,
tepatnya 22 Februari, karena pertikaian antara penumpang bus dan
kernetnya. Kemudian, kerusuhan juga dipicu 31 warga Kecamatan
Samalantan yang sedang pulang kerja dan naik mobil bak terbuka,
dicegat warga bukan penduduk asli setempat di Desa Perapakan,
Pemangkat. Satu orang di antaranya dibantai, dan selebihnya
berhasil lolos. Balas dendam pun tak terhindarkan.

Lalu lintas sepi
Pengamatan Kompas menunjukkan, lalu lintas di jalur pesisir
utara Kalbar itu sepi. Di beberapa lokasi, masih terlihat asap
mengepul dari bekas rumah-rumah yang dibakar massa. Di sepanjang
jalan antara Pemangkat-Tebas-Sambas tampak gerombolan massa dengan
ikat kepala warna kuning dan merah. Demikian pula, bendera kuning
dan merah berkibar-kibar di sepanjang jalan itu. Di jembatan Tebas,
dekat pasar, potongan tubuh korban yang tewas dipajang.

Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Zainuri Hasyim, Jumat,
mengatakan, ada kemungkinan pihaknya menambah jumlah pasukan ke
Kabupaten Sambas, jika dalam satu-dua hari mendatang, situasi di
wilayah ini belum pulih. Zainuri minta masyarakat menghentikan
tindakan anarkis dan meredam emosi agar kerusuhan tidak makin meluas.
Pangdam mengatakan, bisa saja aparat mengambil tindakan represif,
tetapi itu masih melihat situasi di lapangan.

Senada dengan Zainuri Hasyim, Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI
Letjen TNI Sugiono di Jakarta mengatakan, aparat keamanan berupaya
keras agar kerusuhan tidak membesar. Peristiwa itu sudah dilaporkan
kepada Panglima ABRI, dan jika terjadi kekurangan personel pasukan
dalam meredam kerusuhan itu, pasukan bantuan dapat dikerahkan dalam
waktu singkat.

Kepada wartawan di Dephankam, Jakarta, Sugiono menjelaskan, di
lokasi kejadian sudah ada dua batalyon pasukan dari unsur Brigade
Mobil (Brimob) Polri dan Kavaleri. Jumlah itu, katanya, cukup memadai.
Diharapkan, kerusuhan itu tidak sampai merembet ke masalah
yang lebih besar, seperti suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Tak hormati adat
Gubernur Kalbar Aspar Aswin menyatakan, kerusuhan di Sambas
antara lain juga disebabkan masyarakat pendatang di Kalbar tidak
menghormati tradisi dan adat-istiadat warga setempat.

“Seharusnya mereka menerapkan pepatah yang menyebutkan ‘di
mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Hormatilah adat-istiadat
dan tradisi warga setempat. Masyarakat Kalbar sebenarnya akomodatif
dan selalu terbuka menerima pendatang sepanjang mereka menghormati
tradisi dan adat-istiadat warga setempat,” kata Aswin yang sudah
belasan tahun bertugas di Kalbar sebagai Komandan Korem dan Gubernur.

Zainuri Hasyim dan Aspar Aswin Jumat siang mengunjungi Keraton
Sambas. Kedua pejabat itu bertemu dengan Raden Winatakusuma, ahli
waris Keraton Sambas yang dianggap tokoh di Kecamatan Sambas.
Winatakusuma berjanji mengendalikan warga di sekitar keraton agar
tidak ikut melakukan tindakan anarkis.

Menunggu dievakuasi
Sementara itu di Desa Setimbuk, Kecamatan Selakau, sedikitnya
300 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.500 orang menunggu dievakuasi
dan diselamatkan petugas. Ribuan orang sudah mengepung desa itu sejak
Jumat dini hari. Warga setempat sulit untuk melarikan diri karena jika
lewat sungai, massa sudah menunggu di jembatan. Sedangkan lewat darat,
massa sudah mengepung dari segala arah. Satu-satunya jalan, warga Desa
Setimbuk harus diselamatkan dengan helikopter.

Keadaan serupa juga terjadi di Kecamatan Sanggauledo. Sekitar
1.431 warga pendatang di Sanggauledo diungsikan ke Pangkalan TNI AU di
wilayah itu. Mereka harus dievakuasi dengan pesawat terbang, karena
terlalu riskan membawa mereka keluar dari Sanggauledo melalui jalan
darat. Rumah-rumah mereka di Desa Merabu dan Lembang di Kecamatan
Sanggauledo sudah kosong.

Gelombang pengungsian warga pendatang yang bermukim di Kabupaten
Sambas hingga semalam terus berlangsung. Jumlah pengungsi
diperkirakan mencapai 15.000 orang.

Bupati Sambas Tarya Aryanto mengatakan, sudah meminta 40 truk
lagi untuk mengangkut pengungsi lainnya ke Pontianak. Tarya juga minta
kapal-kapal perintis digunakan untuk mengangkut pengungsi dari
Pelabuhan Sintete.

Di Pontianak, para pengungsi diamankan di lima lokasi. Di
Asrama Haji sebanyak 606 orang, Gudang Swasta di kawasan Sungai Jawi
260 orang, aula Batalyon Intel TNI AD 50 orang, aula Batalyon Zeni
Tempur 50 orang, dan asrama Kompi B TNI AD di Arang Limbung 250 orang.
Jumlah pengungsi ke Pontianak akan terus bertambah hingga mencapai
7.000 orang.

Sepanjang hari Jumat, bantuan makanan dan obat-obatan telah
dipasok ke lokasi pengungsian. Bahkan Kanwil Kesehatan Kalbar
menyisihkan sebagian dana Jaring Perlindungan Sosial (JPS) bidang
kesehatan untuk pengadaan obat-obatan serta keperluan pelayanan
kesehatan bagi pengungsi.

Di Bandung, Ketua Umum DPP Partai Umat Islam Deliar Noer
meminta agar pemerintah bersifat arif dan bijaksana dalam
menyelesaikan kerusuhan di daerah termasuk peristiwa berdarah
di Sambas. Untuk ini perlu diambil langkah untuk menghindari
terjadinya kesenjangan penguasa (pemerintah) dengan masyarakat.

“Untuk itu pemerintah harus secepatnya mengkonsolidasikan
semua pemikiran atas masukan dari daerah bukan hanya secara formal
saja,” jelasnya.

Terhadap kerusuhan di Sambas yang hingga kini belum pulih,
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pontianak minta Bupati Sambas Tarya
Aryanto mengundurkan diri secara terhormat. Permintaan itu karena
menurut HMI, Tarya Aryanto tidak lagi dipercaya rakyat setempat.

Kepada masyarakat yang sedang bertikai juga diimbau agar
jangan saling menyakiti. “Marilah merapatkan barisan agar tak mudah
dipecah-belah oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari
perpecahan dan pertikaian ini,” ujar HMI Cabang Pontianak dalam
pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Muhammad Isnaini dan
Sekretaris Subhan Noviar. (ksp/gg/jan/pin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s