Kalau Saja Bayi Jove Tak Menangis…

Pengantar
Masih seputar kisah penumpang dalam peristiwa pengeboman di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mengapa teroris mencari korban orang-orang tak berdosa? (KSP)

KOMPAS
Senin, 28 Apr 2003
Halaman: 17
Penulis: Adhi KSP, Robert

“KALAU SAJA BAYI JOVE TIDAK MENANGIS…”

KALAU saja Jove tidak menangis, mungkin bayi itu juga jadi korban
peledakan bom,” tutur Ny Milka Titiek (57), mengisahkan ihwal
cucunya, Jove, yang berusia sembilan bulan. Minggu (27/4) pagi itu,
Joveneiel Jaya, nama lengkapnya, sedang dipangku ibunya, Silvia
Magdalena (29). Ayahnya, Jihan Jaya (33), sedang duduk di bangku di
depan kios yang menjual makanan dan minuman ringan, Trias Cafe.

Karena Jove menangis, Silvia kemudian berdiri sambil menggendong
bayinya menjauh dari bangku di areal publik Terminal 2F Bandara
Soekarno-Hatta itu. “Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba
terdengar ledakan keras. Silvia menderita luka bakar pada betis
kanannya, terkena bom. Tetapi bayi yang digendongnya selamat,” cerita
Helen, adik kandung Silvia, di Rumah Sakit Umum Tangerang, Minggu
siang.

Baik Ny Milka maupun Helen tak bisa membayangkan seandainya
Silvia masih duduk di bangku. “Soalnya, babysitter bernama Yuli itu
mengalami luka paling parah. Kaki kirinya terpaksa diamputasi.
Tadinya, Silvia duduk di sebelah Yuli,” kata Helen lagi. Kakak ipar
Helen, Jihan, wirawasta, terluka pada kaki kiri dan kaki kanannya
terkena serpihan bom.

Silvia dan suaminya Jihan, yang tinggal di Jalan Penjernihan I,
Pejompongan, Jakarta Pusat, sebetulnya pagi itu hendak mengantar
rombongan keluarganya, terdiri atas sembilan orang, yang akan
berangkat ke Samarinda, Kalimantan Timur. Yang ikut mengantar dan
jadi korban adalah Desy Ratna (8), putri pengasuh anak Sulastri, yang
dianggap sebagai anak angkat oleh Ny Milka.

Kesembilan orang itu adalah bayi pasangan Silvia-Jihan bernama
Jove, yang akan dibawa oleh pengasuh anak lainnya, Sulastri (50),
yang sudah berpengalaman karena sudah 30 tahun menjadi pengasuh anak.
Ny Roswati; Ny Chindrawati, pengasuh anak Sumiati (30); Richard (1,5
bulan), bayi Chindrawati (kakak Jihan); Patricia (2 bulan), bayi
Roswati (adik Jihan), dan dua pengasuh anak lainnya. Mereka hendak
berangkat menggunakan pesawat Lion Airlines dengan nomor penerbangan
JTI 760 jurusan Balikpapan. “Setelah ke Balikpapan, rombongan hendak
melanjutkan perjalanan ke Samarinda,” jelas Helen.

Beberapa saat sebelum ledakan, lampu di areal publik itu sempat
padam, lalu menyala lagi. “Tak berapa lama ledakan terjadi, Silvia
menelepon kami melalui telepon genggamnya. ‘Mama, tolong. Saya kena
musibah di bandara. Tolong sampaikan ke Om Pian yang bertugas di
Poltabes Samarinda. Saya tak bisa keluar dari bandara’,” kata Silvia
sambil menangis, seperti yang diceritakan ibu kandungnya, Ny
Milka. “Sementara Silvia menelepon, saya mendengar suara Yuli yang
berteriak-teriak, kaki saya hilang, kaki saya hilang,” kisah Ny Milka
yang tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.

Memang, beberapa saat lamanya para korban ledakan bom di bandara
tidak bisa langsung beranjak pergi dari lokasi itu. “Mereka harus
menunggu sekitar 20 menit sampai tim Gegana Polri datang,” tambah
Margono yang masih ada hubungan keluarga dengan Ny Milka. “Setelah
tim Gegana tiba dan memastikan tidak ada bom lainnya, barulah mereka
dibawa ke rumah sakit,” ujar Margono.

Menurut catatan petugas Polres Metro Tangerang, korban peledakan
bom di bandara adalah Yuli (18) dan Miniarti (27) yang mengalami luka
di kepala dan kaki kanannya. Keduanya luka berat dan dirawat di RSU
Tangerang. “Kondisi kedua korban sudah stabil. Yuli terpaksa
diamputasi dari betis karena, kalau tidak, dia bisa out. Kedua korban
harus dirawat di RSU Tangerang sampai seminggu lagi,” kata Wakil
Direktur Layanan Medik RSU Tangerang dr Bambang Wisnu.

Korban lainnya dibawa ke RS Pantai Indah Kapuk (PIK). Meraka
adalah Jihan (33), yang luka pada kaki kiri dan kanannya; Silvia
Magdalena (29), luka bakar pada betis kanannya; Roswati (30), luka
pada kaki dan tangannya serta pada payudaranya; Sumartini (19), luka
pada kaki kiri; dan Sulastri (50), luka pada kaki dan tangan kiri.
Sore kemarin, tinggal tiga korban yang masih dirawat, yaitu Jihan,
Silvia, dan Roswati.

Para korban ialah orang- orang tidak berdosa yang tidak tahu-
menahu segala urusan di negeri ini. Cukuplah segala kekerasan. Sudah
terlalu banyak korban jatuh, sudah banyak darah membasahi Tanah Air.
(ROBERT ADHI KSP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s