Bawa 10 Bom ke Bandara? Gampang!

Pengantar
Tulisan ini lebih menyoroti keamanan Bandara Internasional Soekarno Hatta yang pada tahun 2003 relatif longgar. (KSP)

KOMPAS
Senin, 28 Apr 2003
Halaman: 1
Penulis: Adhi ksp, Robert

BAWA 10 BOM KE BANDARA? GAMPANG

SALAH satu bagian dari area publik Bandara Internasional Soekarno-
Hatta, Cengkareng, Tangerang, dibom. Benarkah pengawasan dan keamanan
bandara internasional sebagai pintu gerbang Indonesia ini masih
lemah? Mantan Menteri Kehakiman Prof Muladi berpendapat, pengawasan
bandara memang sangat lemah. “Orang mau bawa 10 bom pun gampang kok,”
kata Muladi yang ditemui di bandara, Minggu (27/4) siang kemarin.

Menurut Muladi, di luar negeri, seperti di Malaysia dan
Singapura, pemeriksaan di bandara sangat ketat. “Bahkan, sepatu wajib
dilepas. Di Bandara Soekarno-Hatta pemeriksaan tak terlalu ketat
sehingga memudahkan orang melakukan aksi teror,” katanya.

Tragedi bom meledak di area publik Terminal 2F Bandara Soekarno-
Hatta hari Minggu pukul 06.27 menunjukkan betapa mudahnya orang
menaruh bom. “Mengapa, misalnya, orang-orang yang masuk ke area
publik pun tidak diperiksa secara ketat?” kata Muladi.

Menteri Perhubungan Agum Gumelar mengungkapkan, ledakan bom itu
terjadi di area publik yang menjadi tanggung jawab kepolisian. “Jika
orang masuk ke area terbatas (restricted area), maka pemeriksaan
barulah dilakukan. Koper dan tas diperiksa melalui sinar X, juga
barang bawaan lainnya,” kata Agum.

Meskipun demikian, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan
Khusus TNI Angkatan Darat ini mengakui, keamanan di Bandara Soekarno-
Hatta masih lemah. “Setelah peristiwa ini, kami akan tingkatkan
keamanan di semua sektor dan kawasan bandara. Tidak hanya di Bandara
Soekarno-Hatta, tetapi juga bandara-bandara lain serta pelabuhan-
pelabuhan laut di seluruh Indonesia,” katanya.

Pengamanan di Bandara Soekarno-Hatta dibagi tiga lapis. Menurut
Kepala Cabang Utama PT Angkasa Pura II Risman Nurjadin, lapis pertama
di area publik, ditangani pihak keamanan PT Angkasa Pura II bersama
petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Khusus Bandara. Lapis kedua
ditangani petugas keamanan bandara. Sedangkan lapis ketiga, di
landasan bandara, ditangani petugas khusus air side. Namun, insiden
ledakan bom Minggu pagi itu membuat PT Angkasa Pura II harus
memikirkan bagaimana keamanan bandara diperketat lagi.

Pengamatan Kompas menunjukkan, selama ini betapa mudah orang
masuk ke lokasi yang disebut sebagai area publik terminal bandara
itu. Banyak aturan yang dengan mudah dilanggar. Misalnya, mobil-mobil
bisa diparkir dalam waktu yang cukup lama di depan terminal, padahal
lokasi parkir sudah disediakan. Keadaan ini dibiarkan petugas.

Bahkan, pengojek pun bisa mengantarkan penumpangnya ke depan terminal
bandara terbesar di Indonesia ini.
Orang bebas keluar masuk di area publik tanpa harus melalui
pemeriksaan ketat. Karena itu, tak heran jika ada orang bebas menaruh
bom di area publik yang kerap dipenuhi banyak orang, termasuk para
pengantar atau penjemput penumpang.

Wilayah belakang bandara, misalnya, sangat dekat dengan Jalan
Marsekal Suryadarma yang masuk bagian Kota Tangerang. Padahal, jika
diamati dengan saksama, di sana ada tangki bahan bakar. Di sana pun
terdapat instalasi-instalasi vital bagi bandara, seperti pumping
station, crossing taxiway, dan instalasi pemancar. “Kalau ada orang
iseng melemparkan bom ke arah tangki itu, kan, bisa gawat,” kata
seorang warga yang sering melewati jalan belakang bandara.

Belum lagi jika kita bicara masalah kondisi lalu lintas di
kawasan bandara yang ruwet, yang pernah dikeluhkan Kepala Polsek
Khusus Bandara Ajun Komisaris Sri Suari. Dikatakan, jalan di kawasan
bandara kini dijadikan sebagai tempat perlintasan bagi mereka yang
tinggal di Tangerang menuju daerah Jakarta Utara dan sebaliknya.

Jadi, bukan calon penumpang atau karyawan bandara yang masuk ke
kawasan bandara. Hal inilah yang menyebabkan lalu lintas di kawasan
bandara makin semrawut.

Selain itu, pengojek yang melintas di jalan-jalan di kawasan
bandara dan berbelok seenaknya menjadi salah satu penyebab kecelakaan
lalu lintas di kawasan bandara. Misalnya, insiden terbaliknya trailer
beberapa waktu lalu, yang menyebabkan lalu lintas ke arah bandara
terganggu berjam-jam.

Menanggapi komentar Muladi, Administrator Pelaksana Bandara
Soekarno-Hatta A Moersantoso menyatakan tidak sependapat dengan
Muladi. “Kami sudah melakukan tugas sesuai dengan prosedur
internasional. Semua persyaratan bandara internasional sudah
dipenuhi, kok,” kata Moersantoso. Ia menegaskan, bom itu meledak di
area publik yang bebas dari pemeriksaan petugas, dan itu sudah sesuai
dengan persyaratan internasional. “Area publik memang bebas
pemeriksaan,” paparnya.

Meskipun demikian, diungkapkannya, sejak dua bulan lalu, keamanan
Bandara Soekarno-Hatta diperkuat oleh tambahan 80 personel anggota
Brimob Polri yang bertugas di area publik. Di samping itu juga ada
bantuan satu unit tim Gegana Polri. “Sebanyak 53 anggota Pasukan Khas
TNI Angkatan Udara juga diperbantukan mengamankan kawasan bandara.

Mereka tersebar di seputar bandara ini,” ucapnya menjelaskan.
Ia menambahkan, sesuai dengan arahan dari Menteri Perhubungan
Agum Gumelar kemarin, pengamanan di bandara diperketat dengan cara
menyediakan fasilitas dan peralatan yang lebih canggih, misalnya,
peralatan sinar-X yang mutakhir.
***

DI luar soal perlunya penambahan petugas keamanan bandara dan
lemahnya pengamanan, Prof Muladi yang mengaku ikut menyusun Rancangan
Undang-Undang (RUU) Antiteroris yang kemudian menjadi UU Nomor 15
Tahun 2003 berpendapat, salah satu cara pencegahan yang jitu untuk
melawan teroris adalah memperkuat jajaran intelijen.

“Sekarang ini, Badan Intelijen Negara (BIN) yang menjadi koordinator badan-badan intelijen masih lemah dalam mendeteksi terorisme karena dasar
hukumnya cuma instruksi presiden. Padahal, masalah mendeteksi ancaman
terorisme sangat penting karena hal ini tak mungkin bisa di-cover
oleh polisi,” katanya.

Menurut Muladi, sampai kini keamanan di bandara masih
lemah. “Memang ada yang bilang, bom yang meledak skalanya kecil, daya
ledaknya rendah. Tetapi, apa bedanya? Kalau skala kecil saja bisa,
tentu bom skala besar bisa dilakukan. Yang jelas, ledakan bom ini
merupakan pesan dari kelompok tertentu yang tidak puas dengan
kebijakan pemerintah. Ini political crime. Mereka mencari sasaran,
random target. Ini berbahaya karena sasarannya bisa perempuan dan
anak-anak. Kelompok teroris di Indonesia masih pengecut, tidak
seperti di luar negeri yang berani mengakui dan bertanggung jawab
atas perbuatan mereka,” kata Muladi lagi.

Peristiwa peledakan bom di bandara seharusnya merupakan cambuk
bagi aparat dan pengelola bandara untuk selalu waspada. Alasan pemaaf
pengelola bandara bahwa ledakan bom itu terjadi di area publik seolah-
olah untuk melempar tanggung jawab. Alasan ini justru bisa
dimanfaatkan kelompok tertentu. Ada baiknya semua pihak menyadari
bahwa ancaman terorisme bisa terjadi di mana saja, termasuk di bandar
udara internasional.

Hal yang juga perlu diwaspadai adalah peledakan bom, entah
berdaya ledak besar atau kecil, sudah terjadi di banyak simbol di
negeri ini. Ada di sentra perekonomian, tempat ibadah, jalan umum,
dan kini Bandara Soekarno-Hatta. Peledakan terakhir ini hendaknya
tidak diremehkan sebab menyangkut tempat yang amat vital. (ROBERT
ADHI KSP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s