Area Publik Bandara yang Mirip Pasar

Pengantar
Wajah Bandara Internasional Soekarno Hatta tidak mencerminkan bandara itu kelas dunia. Area publik bandara mirip pasar. Sejak harga tiket pesawat tak jauh beda dengan tiket KA dan bus, orang lebih memilih naik pesawat. (KSP)

KOMPAS
Selasa, 29 Apr 2003
Halaman: 1
Penulis: Adhi Ksp, Robert

AREA PUBLIK BANDARA YANG MIRIP PASAR

KETIKA bom meledak di area publik Terminal 2F Bandara
Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, hari Minggu (27/4) pagi dan
melukai sedikitnya 10 orang, banyak orang mempertanyakan keamanan
bandara. Mengapa? Karena situasi area publik di Terminal 2 memang
memungkinkan terjadinya aksi teror. Orang bebas lalu lalang di area
publik sepanjang koridor terminal itu, baik di bagian kedatangan di
lantai satu maupun di bagian keberangkatan yang terletak di lantai
dua.

Sebelum terjadi ledakan bom, setiap orang yang masuk ke area
publik yang sudah ber-AC itu tidak perlu diperiksa. Bahkan, kegiatan
mereka tidak perlu diawasi melalui rekaman kamera pemantau. Tapi,
setelah bom meledak dan korban berjatuhan, pengelola bandara mengaku
baru akan menyediakan kamera-kamera pemantau di seputar area publik
tersebut.

Hampir setiap waktu area publik di Terminal 2 itu ramai. Pada
umumnya mereka yang ada di terminal itu adalah para pengantar calon
penumpang yang akan berangkat. Sebagian besar korban ledakan bom
Minggu pagi lalu adalah orang-orang yang akan mengantar. Dari sepuluh
korban yang luka-luka, tujuh di antaranya adalah pengantar
keluarganya yang akan berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sulit juga melarang para pengantar karena ini sudah menjadi
kebiasaan masyarakat Indonesia untuk mengantarkan anggota keluarga
yang hendak bepergian. Karena itu, tidaklah heran jika jumlah
pengantar lebih banyak daripada calon penumpang yang akan berangkat.

Kehadiran para pengantar di area publik inilah yang kemudian
dimanfaatkan oleh pengelola bandara untuk melakukan kerja sama dengan
pengusaha makanan dan minuman, parfum, cenderamata, sampai wartel,
bank, dan money changer.

Kompas mencatat, jumlah restoran dan kios yang menyajikan aneka
usaha yang ada di Terminal 2, baik di terminal keberangkatan maupun
kedatangan, lebih dari 70. Mulai dari usaha waralaba bermerek
terkenal seperti A&W, Dunkin Donuts, Kentucky Fried Chicken,
McDonaldÆs, Hoka-hoka Bento, Bakso Afung, sampai yang menjual barang
kebutuhan sehari-hari. Namun, yang paling ramai adalah area publik di
Terminal 2 bagian keberangkatan.

Situasi hingar-bingar ini menjadikan area publik mirip pasar.
Selain pengantar, orang-orang yang datang ke area publik itu adalah
pedagang dan orang-orang yang menawarkan jasa bagi calon penumpang
yang akan membeli tiket.

Para pedagang dengan bebas menawarkan parfum atau bolpoin
bermerek kepada orang-orang yang akan berangkat ataupun yang baru
tiba di bandara. Sedangkan calo yang menawarkan jasa juga bebas
berkeliaran di area publik meskipun pengelola bandara sudah
menyatakan “perang” terhadap calo.

Kehadiran pengantar, pedagang, dan calo yang bercampur baur
dengan calon penumpang memang membuat suasana area publik jarang sepi.
Sementara, bagi PT Angkasa Pura II, menjamurnya tempat usaha di
area publik Terminal 2 itu rupanya memberikan pemasukan uang yang
lumayan besar.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Edy Haryoto enggan menyebutkan
berapa jumlah pemasukan yang diterima dari hasil konsesi dengan para
pengusaha yang membuka kios di Terminal 2. Tapi, Edy menegaskan, area
komersial di bandara masih dalam batas yang wajar.

“Bisnis” PT Angkasa Pura II di area publik ini rupanya berkembang
pesat, terbukti dari makin banyaknya jumlah kios. Dalam kurun waktu
lima tahun, jumlah kios di Terminal 2 di area publik saja sudah lebih
dari 70. Ini belum termasuk kios-kios di area publik terbatas.

Oleh karena itu, masuk akal jika pengelola bandara “ngotot”
mempertahankan pendapat bahwa area publik bandara bebas dimasuki
siapa saja meskipun banyak kritik, terutama soal keamanan bandara
yang rapuh.

Administrator Pelaksana (Adpel) Bandara Soekarno- Hatta A
Moersantoso memang menyatakan bahwa aturan yang diterapkan pihaknya
sudah sesuai dengan prosedur dan persyaratan bandara internasional.
Namun, masyarakat tampaknya tetap mempertanyakan lemahnya keamanan di area publik.

Bentuk tempat duduk yang memudahkan orang meletakkan barang di
bawahnya, misalnya, juga perlu ditinjau kembali, terutama desainnya.
Tidak berfungsinya kamera-kamera pemantau yang bisa merekam aktivitas
orang di area publik juga patut dipertanyakan. Demikian pula soal
bebasnya pedagang dan orang-orang lalu lalang yang sebenarnya tak
perlu ada di area publik.

Orang-orang yang sudah terbiasa bepergian ke luar negeri seperti
mantan Menteri Kehakiman Muladi merasa heran dengan kondisi keamanan
bandara tersebut. Sampai-sampai dia berseloroh, “Mau bawa sepuluh bom
pun ke bandara, gampang kok.” Selebriti terkenal, Shanty (video
jockey MTV), misalnya, mengusulkan agar begitu masuk pintu bandara,
orang sudah diperiksa dengan detektor.

Sistem keamanan Bandara Soekarno-Hatta dijanjikan oleh Wakil
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Brigjen (Pol) Edy Sunarno dan
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Edy Haryoto akan diperbaiki dalam
waktu satu bulan ke depan. Dengan demikian, tak ada lagi kesan bahwa
keamanan di bandara lemah atau rapuh. (ROBERT ADHI KSP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s