Rumah, Kembali ke Gaya Neoklasik

Pengantar
Tren rumah pada tahun 2003 kembali ke gaya neoklasik, kaya dengan tiang tinggi dan besar, mencerminkan kemegahan.

KOMPAS

Jumat, 25 Apr 2003
Halaman: 34
Penulis: Adhi ksp, Robert

RUMAH, KEMBALI KE GAYA NEOKLASIK


TREN rumah kini kembali ke gaya neoklasik-salah satu gaya yang
terkenal adalah arsitektur Romawi, yang kaya dengan tiang tinggi dan
besar, yang memberikan kemegahan. Selama ini, rumah-rumah bergaya
klasik umumnya sering kita lihat pada rumah-rumah mewah di kawasan
elite Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan ukuran rumah yang besar
dan tanah sampai ribuan meter persegi-yang menjadi lambang kesuksesan
pemilik rumah.

Namun, kini orang mulai rasional. Memiliki rumah berukuran besar
dan tanah yang luas membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit.
Karena itu, orang cenderung memiliki rumah yang proporsional, tidak
terlalu luas, tapi juga tak terlalu kecil.

“Jika rumah terlalu luas, sedangkan penghuninya sedikit, rumah
menjadi tak hangat lagi. Bayangkan, orang punya rumah besar seluas
1.000 meter persegi, tapi ketika ayah pulang, dia tak tahu anaknya
ada di kamar yang mana saking banyaknya kamar. Padahal rumah adalah
tempat keluarga berkumpul. Karena itu, tren rumah kembali ke rumah
sedang. Gaya klasik dengan kemegahannya itu menjadi tren rumah kelas
menengah, bahkan juga rumah- rumah kecil,” kata Ir Jo Eddy, arsitek
lulusan Universitas Trisakti Jakarta dalam percakapan dengan Kompas,
pekan lalu.

Ini berarti gaya klasik Romawi atau sering disebut gaya neoklasik
dengan tiang tinggi ini tidak monopoli rumah- rumah bernilai miliaran
rupiah, akan tetapi juga bisa dinikmati kelas menengah karena rumah-
rumah bergaya neoklasik seperti itu, dengan luas bangunan 151 meter
persegi dan luas tanah 300 meter persegi, harganya bisa ditekan di
bawah Rp 1 miliar.

Namun, kemegahan yang sama dapat diperoleh pemiliknya. Bandingkan
dengan rumah- rumah mewah bergaya neoklasik di Pondok Indah, yang
nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, bahkan belasan miliar rupiah.

Gaya neoklasik menekankan pada kehadiran tiang tinggi dan besar
dengan ornamen dan profil yang khas. Kusen jendela dan pintu dibuat
melengkung sehingga terkesan megah dan elegan.

Warna yang dipakai pun umumnya warna putih, krem, atau warna
earth. Lampu-lampu jalan di lingkungan perumahan disediakan lampu
hias, tidak seperti lampu jalan biasa yang standar. Ini pun
mempengaruhi suasana sekitar perumahan. “Orang yang melihat rumah
bergaya neoklasik seperti ini dari luar, akan terkesan dengan
kemegahannya,” ujar Jo Eddy.

Tren rumah bergaya klasik ini bahkan juga merasuk ke rumah-rumah
kecil dengan luas bangunan 36 meter persegi dengan luas tanah 72
meter persegi yang harganya seratusan juta rupiah hingga dua ratusan
juta rupiah. Rumah ini sebenarnya berlantai satu, tapi karena tinggi
tiangnya sampai enam meter, maka dari luar, rumah itu terkesan
memiliki dua lantai. Jendela di atas teras rumah merupakan jendela
hiasan, namun mengesankan rumah kecil itu lebih besar dari ukuran
sebenarnya. Jendela yang dibuat pun bentuknya lengkung, sementara
halaman depan tetap ada.

Arsitek lainnya, Ir Dhony Rahajoe, yang bekerja di sebuah
perusahaan pengembang terkenal, menambahkan, gaya rumah sesungguhnya
mirip mode (fashion) pakaian. “Sebagian besar mengikuti tren.
Sehingga, jika selera masyarakat mengarah pada gaya tertentu, maka
pengembang mengikuti selera pasar. Yang tak berubah hanya fungsinya.
Ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dan
halaman,” katanya.

Pada awalnya, gaya rumah di Jakarta menekankan pada gaya modern
dengan dominasi beton. Rumah-rumah di Pluit yang dibangun 30 tahun
lalu, misalnya, mengedepankan unsur cetakan beton. Ketika kesadaran
orang akan gaya rumah makin tinggi, banyak pengembang yang menawarkan
gaya tropis, gaya country yang menonjolkan genting dan kayu sebagai
unsur utama rumah, seperti yang terlihat pada beberapa rumah di
kawasan Bintaro. Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, banyak
rumah didesain dengan gaya mediterania dan gaya Spanyol yang
menonjolkan warna-warna cerah.

Selera pasar kini tampaknya beralih ke gaya neoklasik yang
menonjolkan tiang-tiang tinggi hingga enam meter. Sejumlah pengembang
melihat selera pasar ini dengan kreatif. Rumah yang terkesan megah
tidak harus rumah berukuran besar dengan luas tanah ribuan meter
persegi.

Akan tetapi, rumah-rumah kelas menengah bahkan rumah kecil pun
bisa bergaya neoklasik! (ROBERT ADHI KSP)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s