Infrastruktur Banten: Siapa Mau Berinvestasi

Pengantar

Infrasruktur Banten merupakan salah satu persoalan serius di provinsi paling barat Pulau Jawa. Banyak jalan rusak. Catatan perjalanan ketika berkeliling Banten selama satu minggu. (KSP)

KOMPAS

Kamis, 14 Sep 2006

Halaman: 27

Penulis: Kusumaputra, R Adhi


Infrastruktur Banten
SIAPA MAU BERINVESTASI?

Oleh R Adhi Kusumaputra

Ringgo (25), penjual nasi padang di tepi Jalan Raya Anyer,
Ciwandan, Kota Cilegon, kecewa. Sudah lima bulan ini jalan utama dari
Cilegon menuju kawasan wisata pantai Anyer dan Carita itu rusak dan
berdebu.

Dia tak habis pikir mengapa pemerintah membiarkan jalur penting
itu rusak, sementara pemerintah gencar mempromosikan pariwisata
Banten. Jalan raya yang saat ini diperbaiki secara tambal sulam akan
segera rusak lagi memasuki musim hujan akhir tahun nanti.

Hal senada diungkapkan Pendi, pegawai toko mebel di Jalan Raya
Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. “Sudah tujuh bulan ini jalan raya
ini dibiarkan rusak dan berdebu. Setiap hari kami harus membersihkan
mebel-mebel ini dari debu,” ujarnya. Jalan Raya Teluk Naga memang
sangat ramai karena jalan itu merupakan jalan utama ke Bandara
Soekarno-Hatta di bagian barat, ke Kota Tangerang, dan sebaliknya ke
Teluk Naga.

Jalan di pesisir pantai barat Banten dari Anyer ke Carita
merupakan jalur wisata. Sebagian ruas dari Cilegon hingga menjelang
Anyer dilalui truk trailer dan tronton yang akan ke dan dari
Pelabuhan Cigading sehingga tak heran jika jalan di ruas Ciwandan-
Cigading paling cepat rusak.

Berdasarkan pengamatan Kompas ketika melakukan perjalanan hingga
ke pelosok Banten selatan, barat, dan utara sepekan terakhir ini,
jalan yang menghubungkan antarkabupaten dan kota sebagian besar sudah
mulus. Tetapi, di sejumlah ruas memang ada kerusakan jalan yang belum
diperbaiki, termasuk di Jalan Raya Anyer dan beberapa ruas jalan di
pesisir pantai selatan Banten.

Namun, kerusakan jalan terparah adalah jalan di pantai utara
Kabupaten Tangerang, sepanjang puluhan kilometer mulai dari Kronjo,
Mauk, Sukadiri, Cituis, Pakuhaji, sampai Teluk Naga. Jalan di pantura
Tangerangseakan tidak terurus, terutama sekitar Tanjung Kait.

Mengendarai mobil melewati jalur pantura Tangerang seakan naik
kapal yang sedang diterjang ombak di laut. Kecepatan harus rendah di
bawah 10 km/jam dan selalu bergoyang-goyang. Ini sangat berbeda
ketika Kompas melintasi pantura dari Kecamatan Pontang hingga
Tanara. “Jalan ini baru diaspal dua bulan lalu,” kata Sarmin, warga
Kecamatan Tanara.

Jalan di pantura Tangerang saat ini dalam proses betonisasi.
Pengamatan Kompas, betonisasi itu masih dikerjakan dan belum selesai,
masih sepotong-sepotong, sehingga sangat mengganggu lalu lintas di
pantura. Bupati Tangerang Ismet Iskandar terpaksa meminjam uang dari
Bank Jabar Rp 125 miliar untuk mempercepat betonisasi jalan sepanjang
34 km di pantura itu.

Banten, provinsi muda dengan luas 8.800,08 km persegi atau lebih
dari 13,5 kali lipat luas Jakarta (650 km persegi), berada di posisi
strategis, yang menghubungkan Sumatera dengan Jakarta/Jawa.
Infrastruktur jalan termasuk salahsatu persoalan yang dihadapi Banten.

Akses masyarakat yang tinggal di empat kabupaten (Serang,
Pandeglang, Lebak, Tangerang) dan dua kota (Cilegon dan Tangerang)
harus dapat dilakukan. Bukan hanya jalan di pesisir pantai barat,
pantai utara, dan pantai selatan yang harus diurus, tetapi juga jalan
di wilayah tengah dan pedalaman.

Dalam perjalanan di wilayah Banten pekan lalu, Kompas melihat
jembatan Cilemer di Desa Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, roboh.
Jembatan ini merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan
Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Dianggarkan Rp 173,9 miliar
Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banten M Shaleh di Serang pekan
lalu mengatakan, alokasi APBD Banten tahun anggaran 2006 untuk
Subdinas Bina Marga Rp 173,9 miliar, meliputi pembangunan jalan dan
jembatan (Rp 125,7 miliar), pemeliharaan jalan dan jembatan (Rp 38,2
miliar), perencanaan jalan dan jembatan (Rp 6,6 miliar), serta
pengawasan jalan dan jembatan (Rp 3,2 miliar).

Dari dana APBD ini, pekerjaan pembangunan jalan yang dikerjakan
adalah ruas Tangerang-Serpong (BSD), Pasar Jenggot-Kronjo,
Patramanggala-Mauk, Legok-Parungpanjang, dan Karawaci-Legok. “Jalan
Karawaci-Legok dibeton karena di ruas ini banyak angkutan berat yang
lewat,” kata Shaleh yang juga Kepala Subdinas Bina Marga Dinas PU
Banten.

Sedangkan alokasi APBN untuk Bina Marga tahun anggaran 2006
tercatat Rp 94,4 miliar dari Rp 209,3 miliar yang dianggarkan untuk
Banten. Pembangunan yang dikerjakan tahun ini dari dana APBN antara
lain pembangunan flyover Merak dan Balaraja, jembatan Cijambu, Jalan
Cibaliung-Muara Binuanguen, Bayah-Cibareno, Serdang-Bojonegara-Merak.

Ketua Bidang Investasi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia
(PHRI) Banten Purnomo SP mengingatkan, siapa pun yang memimpin Banten
kelak, dia harus memikirkan pembangunan dan pemeliharaan
infrastruktur jalan.

FOTO di blog ini salah satu jembatan yang rusak di wilayah Pandeglang, Banten. Foto diambil bulan September 2006 lalu oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS, dan mudah-mudahan sekarang sudah diperbaiki.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s