Fifi Aleyda Yahya, Sudah Terbiasa Bicara di Depan Umum

Pengantar

Tulisan ini dibuat tahun 1997 ketika Fifi Aleyda Yahya masih menjadi penyiar TVRI dan belum menikah. Sekarang Fifi pindah ke Metro TV dan sudah menikah dan punya anak. Saya kenal Fifi sejak dia terpilih menjadi None Jakarta 1995/1996 silam. (KSP)

KOMPAS

Kamis, 30 Jan 1997

Halaman: 19

Penulis: ADHI KSP

Fifi Aleyda Yahya, Sudah Terbiasa Berbicara di Depan Umum

GOOD evening. This is TVRI English News Service bringing the
latest report from around the world.
Kalimat pembuka ini diucapkan
Fifi Aleyda Yahya (23) ketika membuka siaran bahasa Inggris TVRI yang
dimulai pukul 18.30 WIB hingga 19.00 WIB.

Fifi Aleyda Yahya, salah seorang penyiar English News Service
(ENS), yang mulai 1 Januari 1997 siarannya dapat dinikmati pemirsa di
seluruh Indonesia. None Jakarta 1995 ini sudah lebih setengah tahun
bergabung dalam Program ENS TVRI dan tampil di layar kaca, membawakan
berita-berita dalam bahasa Inggris.

Kesan apa yang diperoleh dari percakapan dengan Fifi Aleyda? Smart
and beautiful. Kecerdasan dan kecantikan menyatu dalam diri pribadi
yang satu ini.

Lahir di Jakarta 1 April 1973, anak pertama dari tiga bersaudara
dari pasangan Syamsuddin Yahya SE dan Andi Mutiara ini sejak kecil,
sudah terbiasa bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Karena ayahnya
seorang diplomat, staf Departemen Luar Negeri, pada usia lima tahun,
Fifi sudah ikut serta orangtuanya ke Kuwait. Selama empat setengah
tahun, Fifi menetap di negeri kaya raya itu.

Kembali ke Jakarta, Fifi melanjutkan pendidikannya di SMPN 155
Jakarta, namun hanya dua tahun. Setelah itu Fifi berangkat ke
Islamabad, Pakistan sampai menamatkan sekolah lanjutan atas. Satu hal
yang diingatnya ketika berada di Pakistan adalah mendengar berita
pesawat Presiden Zia Ul-Haq meledak. Waktu itu malam resepsi
peringatan kemerdekaan RI.

Tahun 1990, Fifi baru mulai kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan
Manajemen Universitas Trisakti Jakarta. Wanita cantik dengan tinggi
160 cm dan berat 48 kg ini tidak hanya kuliah dan kuliah. “Saya mulai
belajar mencari uang, sebagai penerjemah,” ungkap Fifi dalam
percakapan dengan Kompas pekan lalu.

Fifi bertugas sebagai penerjemah untuk sejumlah universitas asing
yang berpameran di Jakarta, antara lain Griffith University, New South
Wales University, Bond University, New Castle University, semuanya
dari Australia (1992-1993).

Fifi juga aktif sebagai penyuluh (consellor) untuk International
Development Program pada Australia Today di Jakarta, serta penyuluh
untuk Queensland University dan Cabra Secon-dary School Australia
ketika berpameran di Jakarta. Ketika APEC berlangsung tahun 1994, Fifi
terpilih untuk menjadi salah satu LO (liaison officer). Tahun 1995,
Fifi ikut sebagai petugas informasi untuk stan Indonesia pada pameran
teknologi di Hannover, Jerman.
***

TERPILIHNYA Fifi Aleyda sebagai None Jakarta 1995/1996, makin
memperkaya pengalamannya. “Awalnya saya terpilih sebagai None Jakarta
Barat, lalu pada malam final, saya terpilih sebagai None Jakarta,”
kisahnya. Di depan juri, ia diminta menceritakan masalah pariwisata
Jakarta, dan itu dilakukannya dengan lancar.

Pertama kali bertugas sebagai None Jakarta 1995, Fifi Aleyda
bersama Abang Jakarta (waktu itu) Cucu Ahmad Kurnia mendampingi
Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja dan Presiden Soeharto,
memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-50 pada acara Kenduri
Nasional di Monas. Bagi Fifi, pengalaman itu sangat mengesankan.

Setelah itu, berturut-turut Fifi ikut rombongan Pemda DKI Jakarta
mempromosikan pariwisata Jakarta ke Perancis, Amerika Serikat,
Hongkong, Yunani, Jerman dan Korea Selatan. Pengalaman itu banyak
melatihnya berbicara di depan khalayak asing karena ia harus
memperkenalkan Jakarta dalam bahasa Inggris.

Keterampilannya berbicara di depan umum sudah dilatihnya sejak
masih duduk di SMA. “Ayah saya yang banyak mengajarkan ilmu public
speaking,” kata Fifi yang gemar membaca buku misteri. Ketika masih
kuliah, Fifi termasuk anggota tim debat dalam bahasa Inggris, mewakili
kampusnya berlaga dengan universitas lainnya dan berhasil meraih
juara. Fifi juga pernah mewakili kampusnya mengikuti International
Student Conference di Nagoya, Jepang. Saat itu Fifi berdiskusi dengan
peserta lain, membahas masalah lingkungan hidup.

“Saya selalu bersyukur, apa yang sudah saya lewati itu, semuanya
pelajaran dan pengalaman berharga, apakah itu baik atau buruk,” ungkap
Fifi. Ketika menjadi None Jakarta 1995, Fifi banyak belajar tentang
berbagai macam manusia.

“Orang yang paling banyak membentuk karakter Fifi seperti sekarang
adalah ayah dan ibu. Saya berterima kasih kepada mereka, yang
memberikan kebebasan beraktivitas,” ujarnya mantap. Saat ini ayahnya
bertugas sebagai Kepala Bidang Ekonomi KBRI di Moskwa, Rusia. “Tapi
komunikasi tetap jalan terus. Yang penting ‘kan kualitasnya,” katanya.
Fifi menghargai berbagai profesi. Kini ia memilih bekerja di TVRI
sebagai penyiar bahasa Inggris dan belum tertarik untuk main sinetron
maupun sebagai bintang iklan, meskipun sudah banyak perusahaan
menawarinya.

Fifi Aleyda Yahya smart and beautiful. Tapi ia enggan membicarakan
soal pasangan hidupnya. “Biarlah hidup ini berjalan sesuai
kehendak-Nya,” kata Fifi. (Adhi Ksp)

FOTO di blog ini foto Fifi Aleyda Yahya berpose di Hotel Shangri-La Jakarta, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s