Pariwisata Banten: Bisa Jadi Unggulan Jika Serius…

Pengantar
Banten sangat kaya dengan potensi wisata. Tapi sayang tidak digarap profesional. Ibaratnya warga Banten kelaparan di lumbung beras. Padahal pariwisata Banten lengkap seperti Bali. Siapa berminat menanamkan investasi di Banten? (KSP)

KOMPAS

Senin, 11 Sep 2006

Halaman: 27

Penulis: Kusumaputra, R Adhi


Pariwisata Banten
BISA JADI UNGGULAN JIKA SERIUS…

Oleh R Adhi Kusumaputra
Ketika Anda tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten,
cobalah cari, apakah Anda menemukan informasi tentang pariwisata
Banten? Tak satu pun. Sungguh sangat ironis. Mengapa?

Provinsi Banten, provinsi muda seluas 8.800,8 km2 yang
berpenduduk 8,976 juta jiwa ini sesungguhnya kaya dengan potensi
wisata, mulai dari wisata alam, wisata pantai, wisata budaya, wisata
sejarah, wisata pendidikan, wisata ziarah, sampai pada wisata belanja.

Sektor pariwisata dapat menjadi salah satu andalan Banten untuk
memperoleh pendapatan asli daerah (PAD), selain sektor industri.
Tahun 2005, PAD dari hotel, restoran, dan tempat hiburan dari enam
wilayah kabupaten dan kota se-Banten Rp 55 miliar.

Kota Tangerang di urutan pertama penyumbang PAD pariwisata Rp 22
miliar, disusul Kabupaten Tangerang Rp 20 miliar, Kabupaten Serang Rp
6 miliar, Kota Cilegon Rp 3,5 miliar, Kabupaten Pandeglang Rp 224,5
juta, dan Kabupaten Lebak Rp 100 juta.
Banten memiliki, antara lain, 46 kawasan wisata, 203 hotel, 504
restoran, 123 tempat hiburan, 21 bar dan pub.

Wisata pantai di pesisir pantai barat Banten, mulai dari Anyer,
Carita, hingga Tanjung Lesung sudah penuh dengan hotel dan resor.
Kalau menyusuri Jalan Raya Anyer hingga Carita, Anda dapat menemukan
ratusan hotel dan penginapan, dari yang murah Rp 300.000 (hari biasa)
sampai Rp 4 juta per malam.

Wisatawan mancanegara dan Nusantara yang suka dengan wisata alam
petualangan dapat datang ke Taman Nasional Ujung Kulon dan Gunung
Krakatau di Selat Sunda, selain berselancar di pantai selatan Lebak
di Sawarna, yang berbatasan dengan Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa
Barat.
Jumlah wisatawan mancanegara tahun 2005 tercatat 89.315 orang,
dan diproyeksikan naik 7 persen pada tahun 2007.

Banten juga dikenal kaya dengan wisata ziarah. Dari jumlah
wisatawan Nusantara yang datang ke Banten setiap tahun, 60 persennya
melakukan ziarah. Tahun 2005, jumlah wisatawan Nusantara tercatat
13,5 juta.

Yang berziarah ini umumnya umat Islam mengunjungi Banten Lama dan
Gunung Santri (Serang), Caringin dan Cikadueun (Pandeglang).
Pada bulan Maulud dan menjelang Ramadhan, ratusan ribu peziarah
mendatangi tempat-tempat ini. Umat Katolik banyak juga ke Goa Maria
di Rangkasbitung (Lebak) dan umat Konghucu ke kelenteng tua di
Tanjungkait (Tangerang).

“Wisata ziarah sebetulnya potensial. Tapi saat ini peziarah
belum dapat menginap di homestay yang layak,” Kata Kepala Subdinas
Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Teddy Rukman kepada
Kompas, Jumat (8/9) sore di Serang.

Kehidupan masyarakat tradisional Baduy di Lebak dan atraksi
kesenian debus merupakan wisata budaya di Banten yang menakjubkan.
Masjid Agung Banten yang dibangun Sultan Maulana Yusuf pada tahun
1566, yang merupakan pusat pengembangan Islam di wilayah ini, menjadi
lokasi wisata sejarah yang dapat bertutur banyak.

Bekas tambang emas di Cikotok, Lebak, juga dapat menjadi wisata
pendidikan bagi anak-anak yang ingin tahu tentang tambang emas.
“Pabrik-pabrik di Banten dapat membuka diri agar generasi muda
paham bagaimana sebuah produk dibuat. Demikian pula Puspitek di
Serpong dan Krakatau Steel di Cilegon, menarik dikunjungi. Ini kan
wisata pendidikan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Banten Suyadi Wiraatmadja.

“Potensi wisata Banten memang luar biasa karena variatif dan
beragam,” kata Ketua Bidang Investasi Persatuan Hotel dan Restoran
Indonesia Provinsi Banten Purnomo SP, yang juga Direktur Operasi PT
Banten West Java yang mengelola Tanjung Lesung Resort.

Dalam waktu dekat, pihaknya mengajak investor Malaysia melihat
potensi wisata Banten, termasuk Tanjung Lesung seluas 1.500 hektar
tapi baru digarap 10 persen.

“Wisata Banten sangat ideal karena semua jenis wisata
sudahtersedia. Persoalannya, kekayaan wisata Banten ini belum dikenal
banyak orang,” kata Agustono Soepeno, konsultan pariwisata yang
berinisiatif menerbitkan “Banten Discovery” sebagai buku panduan
wisata Banten dan akan diluncurkan 4 Oktober, bertepatan dengan hari
ulang tahun ke-6 Provinsi Banten.

Banten punya cukup banyak pusat perbelanjaan di Tangerang, mulai
dari Supermal Karawaci, Serpong Town Square, WTC Matahari Serpong,
ITC BSD, Serpong Plaza, dan BSD Junction yang akan menjadi tempat
hang-out dengan 40 restoran dan kafe. Ini dapat jadi tujuan wisata
belanja.

Banten juga memiliki lapangan golf standar internasional di BSD
City, Lippo Karawaci, dan Modernland, semuanya di Tangerang.
Akhir tahun 2006 ini, tempat rekreasi air terbesar di Asia
Tenggara, Ocean Park, dibuka diBSD City. Tempat ini sebanding dengan
Ocean Park Hongkong, Wild Wild Wet Singapura, dan Sunway Lagoon
Genting Highlands Malaysia.

Infrastruktur
Yang menjadi persoalan, infrastruktur jalan, listrik, dan telepon
di sejumlah tempat wisata di pelosok Banten belum semuanya
dibangun. “Ambil contoh infrastruktur jalan ke Sawarna di pantai
selatan Lebak dan Cisungsang, Lebak, masih rusak. Demikian pula jalan
menuju Rawa Danau yang ada di gunung di Serang, belum dibangun.

Penataan desa wisata di Baduy juga belum baik,” kata Teddy Rukman.
Masyarakat Banten sendiri sebetulnya ramah pada orang luar yang
datang ke wilayahnya. “Tapi senyum, sapa, salam belum sepenuhnya
dilakukan, padahal ini modal utama majunya pariwisata, selain
infrastruktur,” katanya.

Lokasi wisata satu dengan yang lain, jaraknya berjauhan. Agen
perjalanan di Banten masih sibuk mengurus tiket dan belum menciptakan
paket-paket wisata terpadu. Idealnya, wisatawan yang datang
memperoleh kemasan atraksi wisata menarik di Banten.

Menginapnya pun seharusnya di Banten, bukan di Jakarta agar
pajaknya masuk Banten. Pariwisata Banten yang beragam dan variatif
ini diharapkan menjadi salah satu sektor unggulan, di samping
industri.

Jika ini digarap sungguh-sungguh, Banten akan makin dikenal
sebagai primadona tempat wisata, selain Bali dan
Yogyakarta. “Pekerjaan rumah” bagi gubernur baru Banten untuk
memajukan wilayah ini di sektor pariwisata. Jika pariwisata
berkembang, pemerintah Banten akan punya modal meningkatkan sektor
pendidikan dan kesehatan, yang juga penting ditangani.

FOTO di blog ini suasana alfresco dining di pantai Tanjung Lesung, Banten. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.goarchi.com/archo/provinces/banten/bantentour.html, http://www.tanjunglesung.com/resort_developer.html,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s