Wisata Banten: Warga Utang Sana Sini dan Makan Singkong

Pengantar
Isu tsunami rupanya berdampak buruk bagi industri pariwisata di Banten. Hotel dan industri lanjutannya drop sampai 95 persen. Warga yang mengandalkan hidup dari industri pariwisata Banten pun terpaksa makan singkong, utang sana sini. Tulisan ini ini memberi gambaran betapa rentannya industri pariwisata terhadap isu dan rumor. (KSP)


KOMPAS
Rabu, 06 Sep 2006
Halaman: 27
Penulis: Kusumaputra, R Adhi

Wisata Banten
WARGA UTANG SANA SINI DAN MAKAN SINGKONG


Oleh R Adhi Kusumaputra

Isu tsunami rupanya menimbulkan dampak yang dahsyat bagi industri
pariwisata Banten. Bukan hanya pengusaha yang gigit jari karena
okupansi merosot hingga 90 persen dalam dua bulan terakhir ini,
tetapi juga pedagang kecil yang mengais rezeki dari industri
pariwisata.

Penjaja emping, Ny Sukanah (27), misalnya. Warga Carita yang
harus menghidupi dua anak itu mengaku terpaksa berutang ke warung,
makan ubi dan ikan asin, serta memasak dengan tungku. “Belum pernah
saya berutang. Tapi sejak dua bulan ini saya terpaksa berutang ke
warung Hj Mini Sudja di Pasar Carita. Utang saya sudah Rp 300.000
gara-gara tak punya penghasilan lagi,” ungkap Sukanah, Selasa (5/9)
sore.

Sukanah yang biasa mencari rezeki di Pantai Karangsari Indah,
Carita, Pandeglang, itu juga mengungkapkan, sejak tamu jarang datang
lagi ke Carita, beras sudah sulit terbeli. “Boro-boro beli beras.
Dari mana duitnya?” kata perempuan itu.
Untuk itu, ia mengakalinya dengan makan dangdeur (singkong), ubi,
dan ikan asin setiap hari. “Banyak warga yang mencari remis, kerang
kecil di pinggir pantai, untuk disayur,” lanjutnya.

Membeli minyak tanah pun Sukanah kini kesulitan. “Saya mencari
kayu atau bambu, kemudian dengan itulah saya memasak. Bagaimana beli
minyak tanah? Beli beras saja tak ada duitnya,” keluhnya.

Sebelum isu tsunami melanda pantai Banten, Sukanah memperoleh
pendapatan Rp 20.000 pada hari biasa dan Rp 50.000 pada akhir pekan.
Sekarang? “Dapat duit Rp 1.000 saja sudah bagus,” katanya.
Sukanah tak tahu kapan dia bisa membayar utangnya. “Kalau ada
rezeki, ya dibayar mengangsur,” ujarnya. Ia hanya bisa berdoa agar
pantai Banten ramai kembali.

Hal serupa diungkapkan Ny Siti, pendagang makanan yang membuka
warung di tepi PantaiPameungpeuk, Cinangka, Serang. “Dulu bisa dapet
Rp 150.000 sampai Rp 200.000 sehari. Sekarang cuma Rp 20.000,” kata
Ny Siti yang memiliki tiga anak. “Pokoknya masih bisa beli beras
satu-dua liter sudah lumayan,” kata Siti lagi.

Samsuri (23) yang biasa mengemudikan speedboat di Pantai Carita
cuma bisa bengong. “Kalau tak ada yang datang dan naik speedboat,
kami bisa apa?” katanya pasrah. Ia dan temannya mengisi waktu dengan
bermain layang-layang di pantai.

Turun sampai 95 persen
Direktur Pengelola Wisata Pantai Karangsari Carita T Abduraman
kepada Kompas mengungkapkan, tempat wisatanya lumpuh, bahkan nyaris
mati. Sebelum gempa melanda Selat Sunda, jumlah bus yang datang ke
pantai “Ancol-nya Banten” itu tercatat 89 bus. “Tapi sejak itu, dua
sampai empat bus. Turun drastis 95 persen. Masyarakat takut
berlebihan,” ujarnya.

“Hari Minggu lalu empat bus datang. Libur Agustusan lalu 10
bus,” ceritanya lagi. Pantai seluas 2,2 hektar ini termasuk
primadona Banten karena lokasinya di teluk dan pasirnya putih. Tiket
masuk Rp 3.000 per orang. Kapasitas pantai ini antara 5.000 hingga
7.000 orang.

Jumlah karyawannya 56 orang, kini yang aktif hanya dua orang.
Manajer Desiana Cottage di Pantai Carita, Susana (52), yang ditemui
Kompas sedang mencari kerang-kerang kecil di pantai, membenarkan
okupansi hotel yang dikelolanya turun 90 persen. “Biasanya malam
Minggu 31 kamar di sini penuh. Sekarang, wah berat. Malam Minggu
kemarin hanya satu kamar,” ungkapnya.
Bahkan, tambahnya, konsumen menuntut diskon. “Eh, dikasih diskon
50 persen saja minta lebih,” katanya.

Lippo Carita pun mengalami kesulitan serupa. Dari 400-an kamar,
yang terisi kurang dari 20 persen. Padahal, biasanya setiap akhir
pekan tempat wisata pantai kelas menengah ini terisi penuh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s