Paris van Java, Resort Lifestyle Berkonsep Main Street dan Alfresco Dining

Pengantar

Paris van Java, resort lifestyle yang fenomenal. Pemiliknya, Wawa Sulaeman sekaligus konseptor dan desainernya, sudah memimpikan ini sejak 15 tahun yang lalu, membangun dengan konsep main street dan alfresco dining. Paris van Java makin mengukuhkan Bandung sebagai destinasi wisata, leisure and entertainment. (KSP)

KOMPAS CYBER MEDIA
Minggu, 04 Maret 2007 – 16:06 wib

Pertama di Asia Tenggara

Paris van Java, Resort Lifestyle Berkonsep Main Street dan Alfresco Dining

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra


BANDUNG, KOMPAS — Paris van Java, resort lifestyle pertama di Asia Tenggara yang memiliki konsep main street dan alfresco dining. Paris van Java bisa jadi merupakan resort lifestyle unik dan diklaim sebagai pionir di Indonesia.

Presiden Direktur PT Bintang Bangun Mandiri, Ir Wawa Sulaeman MBA M.Arch, yang membangun Paris van Java Bandung dalam percakapan dengan Kompas hari Minggu (3/3) mengungkapkan, Paris van Java merupakan perwujudan impiannya sejak 15 tahun silam.
Menurut Wawa, demografi Bandung bukan urban cosmo seperti Jakata, Semarang atau Surabaya. Tetapi lebih pada urban culture dan urban nature seperti Bali (Jalan Kuta) dan Yogyakarta (Jalan Malioboro). Bandung lebih mendapat nilai plus karena cuaca yang sejuk sehingga konsep main street dan alfresco dapat diterapkan di kota ini.
Wawa menangkap peluang ini dengan mendesain resort lifestyle. “Awalnya sulit menyakinkan calon penyewa karena mereka belum percaya konsep ini sukses mengingat konsep itu belum pernah ada,” kata Wawa.
Namun sejak Paris van Java dibuka November 2006, pengunjung resort lifestyle pada akhir pekan mencapai 40.000 per hari pada hari biasa 15.000-18.000 pengunjung per hari. Kalau ada acara, jumlah pengunjung mencapai 75.000 orang. “Kalau di Jakarta, mal yang dikunjungi 40.000 orang sudah kelas A. Justru kalau 75.000, kami takut ada crowd,” katanya.
Wawa menjelaskan, pengunjung Paris van Java makin malam makin penuh dengan pakaian yang modis dan trendy. “Yang membuat saya bangga adalah banyak pengunjung yang dipotret dengan latar belakang bangunan Paris van Java,” katanya.
Blitz Megaplex
Salah satu yang membuat Wawa bangga adalah hadirnya Blitz Megaplex. Jumlah tiket bioskop yang terjual di seluruh Bandung, 52 persen dari Blitz Megaplex Paris van Java. Yang unik dari Blitz, setiap 15 menit ada pemutaran film apa saja di sembilan layar.
“Awalnya saya tawarkan ke Cinema 21 tapi mereka bilang sudah buka di Ci-Walk (Cihampelas Walk). Tapi ada anak-anak muda profesional tawarkan Blitz dengan konsep baru. Saya tanya dari mana filmnya? Mereka bilang dapat dukungan Golden Screen Group. Konsep barunya, setiap layar bisa putar film berbeda. Tak ada midnight show karena tak terasa sudah malam. Jam bubar terakhir jam 02.00 dinihari pada hari biasa dan jam 04.00 menjelang pagi pada malam minggu dan malam libur,” cerita Wawa.
Konsep Blitz Megaplex ini mirip bioskop di luar negeri dan memberikan kenyamanan bagi konsumen. “Telat dikit bisa menunggu sebentar di layar lain,” kata Wawa. Dalam satu malam, pengunjung Blitz bisa 6.000 orang pada hari Sabtu, Minggu, dan libur. Padahal kapasitas kursi di sembilan layar hanya 2.200. Artinya Blitz selalu penuh.
Kombinasi mainstreet dan alfresco dining
Konsep Paris van Java merupakan kombinasi mainstreet dan alfresco dining. Yang juga membuat Wawa bangga adalah lampu yang bernuansa festive dan romantic. Bunga-bunga di seputar Paris van Java juga memberi kesan baik.

Soal nama Paris van Java, Wawa mengambil nama nicknama Bandung tempoe doeloe. Nama ini pas karena pada zaman Bandung Paris van Java, banyak nuansa bunga. Wawa, lulusan arsitek ITB 1978 mengatakan, Paris van Java adalah proyek jangka panjang. “Untuk ruang terbukanya saja luasnya 2 hektar. Bangunan parkir 4 hektar. Sedangkan bangunan mal sendiri luas kotor 8 hektar,” paparnya.
Sulit ditiru
Wawa optimistis Paris van Java bakal mendulang sukses mengingat konsep seperti ini sulit ditiru. “Bayangkan saja, parkir dua hektar bisa saja jadi ruko,” ungkapnya. “Let the nature paint the building, biarkanlah alam memberi warna pada gedung,” kata Wawa. Antargedung ada pohon merambat. Di resto alfresco dining ada bunga-bunga memberi kesegaran.
Awalnya banyak calon penyewa yang kurang percaya karena cukup banyak mal yang gagal. Sejak Bandung Indah Plaza, belum ada lagi yang berhasil, sampai akhirnya Paris van Java menjadi fenomena. Wawa Sulaeman yang melahirkan Pondok Indah Mal yang pertama tahun 1989-1991 itu mengatakan, setelah mundur dari Grup Ciputra tahun 1991, dia mendirikan perusahaan desain di Singapura CDG (Cadiz Design Group) tahun 1993. Salah satu karyanya adalah pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza III Surabaya dan Kelapa Gading III Jakarta bersama Medardo Cadiz.
Menurut Wawa, setelah menciptakan desain dan perencanaan Pondok Indah Mal, dia banjir pesanan desain mirip PIM, antara lain Pluit Mega Mal Jakarta, Galaxy Mal I Surabaya, Plaza Hotel Surabaya, juga atrium sebuah menara TV di Shanghai China.
Dari keluarga tak punya
Lahir di Cirebon, 12 Agustus 1959, Wawa Sulaeman terjun ke arsitek memang suka desain sejak duduk di SMA Santa Maria Cirebon. Gaya Wawa memang santai, bercelana pendek. “Saya berangkat dari keluarga tak punya. Ayah saya dulu tukang tambal ban sepeda di Kuningan Cirebon. Saya lahir di Cirebon karena tak ada bidan di Kuningan,” cerita Wawa.
Wawa melanjutkan pendidikan tinggi selama tiga tahun di University of Minnesota, Minneapolis, Amerika Serikat setelah mendapat beasiswa.
FOTO di blog ini suasana alfresco dining di Paris van Java, Bandung. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s