Usaha Rumah Kos di Depok: Pemilik Ikut Bertanggung Jawab

Pengantar

Bisnis usaha rumah kos di Depok sangat menggiurkan. Setiap tahun, jumlah mahasiswa Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma bertambah. Mahasiswa dari luar kota, bahkan dari Jakarta sekalipun, selalu mencari pondokan di dekat kampus. (KSP)

KOMPAS

Senin, 12 Jun 2006

Halaman: 50

Penulis: Kusumaputra, R Adhi


Usaha Rumah Kos di Depok
PEMILIK IKUT BERTANGGUNG JAWAB

Oleh: R Adhi Kusumaputra

Tahun ajaran baru segera tiba. Ribuan mahasiswa baru dari
berbagai penjuru Nusantara akan datang ke Kota Depok dalam waktu
dekat ini. Mereka anak-anak bangsa yang menuntut ilmu demi masa
depan. Sebagian di antara mereka mencari rumah kos di seputar Kampus
Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma di Depok.

Apa yang diinginkan mahasiswa saat mencari rumah kos? “Bagi saya,
lingkungannya aman, nyaman, dan bersih,” kata Rika Wahyuni (22),
mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma. Perempuan asal
Cilegon, Banten, ini sudah tiga tahun tinggal di rumah kos Griya
Nafan’s milik Sutarto di Jalan Kapuk, Kelurahan Pondok Cina, Depok.

Adiknya, Nita Susilawati (21), mahasiswi Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia, juga tinggal di rumah kos yang
sama. Kamar mereka berhadapan. Keduanya enggan pindah karena merasa
sudah cocok tinggal di sana. Orangtua mereka, wiraswasta di Cilegon,
sudah percaya kedua putrinya aman di rumah kos tersebut.

Pendapat serupa disampaikan Meissa Andela (22), mahasiswi Jurusan
Administrasi Negara FISIP UI yang sudah tiga tahun tinggal di rumah
kos milik H Wisly di Gang Sawo, hanya beberapa meter dari Jalan
Margonda Raya. “Yang dicari, pertama, adalah keamanan dan kemudahan
akses ke kampus,” kata Meissa. Ia cukup berjalan kaki santai 10-15
menit dari belakang rumah kos ke fakultasnya melalui pintu Stasiun
Kereta Api UI.

Keamanan, kenyamanan, dan kemudahan akses. Itulah yang dicari
mahasiswa ketika mencari rumah kos atau pondokan.
Pemilik rumah kos Griya Nafan’s, Sutarto (56), mengatakan, dari
87 kamar di rumah kos yang dibangun di atas lahan 1.450 meter persegi
tiga tahun lalu itu, hanya empat kamar yang kosong. Harga sewa per
kamar ukuran 3 x 4 meter Rp 325.000 per bulan dengan fasilitas tempat
tidur, meja belajar, lemari, dan kamar mandi di dalam. Biaya listrik
tergantung pemakaian. Jika menggunakan komputer, penyewa dikenai
tambahan Rp 30.000, dan jika ada TV di kamar dikenai Rp 20.000 per
bulan.

Biaya ini belum termasuk ongkos cuci dan setrika pakaian. “Jasa
cuci dan setrika baju, saya serahkan kepada warga setempat. Bagi-bagi
rezeki,” kata Sutarto, pensiunan perwira tinggi TNI Angkatan Laut.
Pengawasan ketat

Sutarto yang pernah menjadi dosen utama di Lemhannas ini mengaku
punya kewajiban menjaga mahasiswa yang tinggal di rumah
kosnya. “Mereka anak-anak saya. Karena ini rumah kos mahasiswi,
peraturannya ketat. Tamu hanya diterima di ruang tamu, tak boleh di
dalam kamar,” katanya menjelaskan. Rumah kos berlantai dua itu dijaga
petugas khusus dan gerbang ditutup pukul 22.00.

Perhatian induk semang seperti yang dilakukan Sutarto memang
dibutuhkan para orangtua. “Jika ada mahasiswa kos di tempat saya,
saya minta kedua orangtuanya datang dan bertemu dengan saya. Sebab
mereka menitipkan anaknya kepada saya. Jadi saya perlu tahu nomor
telepon ayah atau ibunya,” ujar H Achmad Tohir (64), pemilik rumah
kos dengan 14 pintu di Jalan Kapuk, Pondok Cina, Depok. Harga sewa
kamar kos di tempatnya Rp 300.000 per bulan, belum termasuk listrik
Rp 50.000 per bulan dan perawatan Rp 20.000 per bulan.

Tohir mengaku pernah menelepon orangtua salah satu anak kosnya,
yang beberapa kali pulang pukul 03.00. Bahkan ada yang membawa
perempuan ke kamar kos. “Ini sudah ngawur. Saya telepon bapaknya,
melaporkan perilaku anaknya. Kalau begini terus, lebih baik keluar
dari rumah kos saya,” katanya.

Umumnya, orangtua juga senang jika induk semang turun tangan
sendiri, mengawasi putra-putri mereka yang kos di rumah pondokan.
Pengawasan dan kontrol yang ketat di rumah kos menjadi salah satu
yang dicari, mengingat pergaulan bebas terjadi di mana-mana.

Lurah Pondok Cina Deny Jordan (39) mengatakan, di wilayahnya,
jumlah rumah kos tercatat 63 unit dengan jumlah pintu mencapai 3.000-
an. Penghuninya mahasiswa UI dan Gunadarma.

Rumah-rumah kos itu tersebar di Jalan Yahya Nuih, Jalan Cengkeh,
Gang H Naidi, Gang Pancoran, Jalan Pinang, Gang Sawo, Jalan Salak,
Jalan Kober, Jalan Kedoya, Jalan Mahali, Jalan Jamir Indah, Jalan
Madrasah, Jalan Kedondong, Jalan Stasiun Pondok Cina, dan Jalan
Beringin. Rumah kos yang memiliki kamar terbanyak adalah Khairunnisa
milik Haris Ningrum.

Kepedulian
Persoalan yang dihadapi kelurahan adalah umumnya pemilik rumah
kos bukan warga Depok dan menyerahkan kepada pengelola atau
pembantunya. Ini yang membuat acap kali pengawasan sulit
dilakukan. “Ada pemilik rumah kos yang berpikir, yang penting duit
masuk, tak peduli dengan yang terjadi di rumah kos,” ucap Deny.

Namun, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Pondok Cina Munir
menambahkan, sejauh ini pengawasan warga terhadap kehidupan di rumah
kos di wilayah itu relatif ketat. “Masyarakat masih peduli dengan
lingkungan sekitar. Kondisi rumah kos di sini masih lebih baik
dibandingkan dengan kondisi kos di kota-kota lain,” katanya.

Suasana lingkungan rumah-rumah kos itu bervariasi. Ada yang masih
teduh dengan pepohonan asri, tetapi ada juga sebaliknya,
gersang. “Yang penting, air di kawasan ini masih bersih dan jernih,”
kata Tohir.

Rumah-rumah kos di seputar Kampus UI dan Gunadarma juga
bermunculan di Kelurahan Kukusan, masih di Kecamatan Beji, Depok.
Sedikitnya 87 rumah kos dengan jumlah 1.000-an pintu berdiri di
wilayah ini. Bedanya, rumah-rumah kos di Kelurahan Kukusan tidak
memiliki akses kendaraan roda empat yang dekat dengan kampus, dan
lebih berharap pada akses jalan kaki dan motor. Ini mengingat antara
rumah pondokan dan kampus dijangkau lewat pintu UI.

Lokasi rumah kos Pondok Kukusan, misalnya, dekat pintu Kukel,
memiliki 30 kamar non-AC berukuran 3 x 6 meter. Biaya sewanya Rp
400.000 per bulan, sebagian besar diisi mahasiswa Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik UI.

Rumah kos Pondok Uni memiliki 45 kamar ber-AC, yang disewakan Rp
900.000 per bulan, sedangkan non-AC Rp 300.000-Rp 400.000 per
bulan. “Rumah kos ini diisi putra dan putri, tapi terpisahkan pagar
besi yang ditutup pukul 23.00. Ada dua petugas satpam yang mengawasi
sehingga sulit mahasiswa menyelinap masuk kamar mahasiswi,” kata
pengelola Pondok Uni, Ny Reni.

Adapun rumah-rumah pondokan di Kelurahan Pondok Cina dan Kemiri
Muka berada di dekat Jalan Margonda Raya, jalan utama di Depok. Akses
angkutan kota, kendaraan roda empat dan dua milik pribadi ke kampus
lewat gerbang utama UI, misalnya, dapat dijangkau dengan mudah.
Asrama UI

UI sendiri menyediakan asrama mahasiswa berkapasitas 1.000 orang.
Namun, menurut Kepala Humas UI Henny S Widyaningsih, asrama mahasiswa hanya untuk mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan
dari daerah. Sewa kamar di asrama UI Rp 100.000-Rp 125.000 per
bulan. “Dari 3.000-an mahasiswa baru yang masuk UI setiap tahun
ajaran baru, sekitar 20 persen di antaranya harus dibantu,” tutur
Henny.

Kehadiran Kampus UI, Gunadarma, dan beberapa lainnya dengan
puluhan ribu mahasiswa di Kota Depok menghidupkan usaha lainnya,
seperti warung makan, toko kelontong, warung telekomunikasi, dan
warung internet. Beberapa di antaranya bahkan buka 24 jam. Ini
berarti sektor usaha kecil menengah, yang terkait dengan kebutuhan
mahasiswa, tetap hidup karena pasarnya selalu ada.

Usaha penyewaan komputer di dekat pintu Kukel, misalnya, rata-
rata memperoleh Rp 200.000 per hari, sedangkan warung makanan pempek
dan mi ayam di Jalan Margonda Raya hampir setiap hari ramai
dikunjungi mahasiswa.

Selain kemudahan akses, keamanan, dan kenyamanan, bagi banyak
orangtua yang putra-putri mereka memulai kuliah, yang paling penting
dari rumah kos adalah tanggung jawab induk semang kepada anak-anak
mereka.

FOTO di blog ini contoh salah satu rumah kos di Pondok Cina, Depok. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/DEPOK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s