Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000

Pengantar

Amrizal adalah contoh keuletan pedagang kaki lima. Bermodalkan uang Rp 120.000, pedagang makanan padang ini akhirnya sukses berjualan di pusat janan BSD Tangerang. Tulisan ini hanya ingin menegaskan bahwa keuletan dan kerja keras, kunci utama kesuksesan. (KSP)

KOMPAS

Senin, 08 May 2006

Halaman: 43

Penulis: ksp


Warung Makan
Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000

Jika Anda hanya punya uang Rp 120.000, apa yang dapat Anda
lakukan dengan modal sejumlah itu? Di tangan Amrizal (36), lelaki
kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, modal tersebut dibelikannya lima
liter beras, setengah kilogram ikan kembung, tiga ayam, satu kilogram
daging sapi, dan lima butir telur ayam.

Bersama istrinya, Amrizal mengolahnya menjadi masakan padang dan
dijual di kios kaki lima berukuran 2 x 2 m di Pusat Jajan Golden
Road, di seberang pusat perbelanjaan ITC Bumi Serpong Damai,
Tangerang. Hari pertama berjualan, 24 Januari 2005, ia memperoleh
pendapatan Rp 175.000 dari menjual nasi padang seharga Rp 5.000 per
porsi. Pada hari itu bahan bakunya masih tersisa, 20 potong daging
rendang.

Dalam waktu tiga bulan, omzet dagangan nasi padang yang dia beri
nama Ombak Muaro ini rata-rata Rp 600.000 per hari. Dan sejak ITC
dibuka pada Mei 2005, omzetnya naik lebih dua kali lipat, menjadi
rata-rata Rp 1,5 juta per hari! Hingga kini omzetnya tetap stabil
pada kisaran angka itu.

Sebelum membuka warung nasi padang, Amrizal dan istrinya pusing
tujuh keliling mencari pinjaman uang, mengingat rumah kontrakannya di
Serua Permai sudah harus dibayar, sedangkan tabungannya nol. Satu-
satunya hartanya adalah Honda GL 1995. “Tadinya mau saya gadaikan,
tapi tak ada yang mau memberi pinjaman,” tutur Amrizal, yang pernah
bekerja menjadi kernet dan sopir angkot di Pulo Gadung, Jakarta
Timur. Istrinya bahkan sempat menangis akibat sulitnya mencari
pinjaman.

Akhirnya, motor Honda GL itu laku dijual Rp 5 juta. Dari jumlah
itu, Amrizal dapat membayar rumah kontrakan Rp 2 juta setahun,
membeli etalase kios Rp 1 juta, dan perabotannya seharga Rp 380.000.
Ia masih memiliki sisa untuk pembayaran uang muka membeli motor Honda
Supra X Rp 1,5 juta. “Sisa Rp 120.000 itulah yang saya jadikan modal
awal membeli bahan baku makanan,” papar Amrizal kepada Kompas.

Dalam waktu 11 bulan sejak dia memulai usaha, pada Desember 2005
ia sudah mampu membeli mobil Toyota Kijang tahun 1988 seharga Rp 43
juta dari hasil berjualan nasi padang itu. “Saya punya target, dalam
satu bulan harus dapat menabung sedikitnya sepuluh juta rupiah,”
ungkapnya sambil tertawa riang.

Pernah kuliah
Lelaki yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu
Pendidikan Fakultas Olahraga di Padang tapi tidak tamat ini mengenang
masa-masa sulitnya. “Saya pernah jadi pengojek di Ciputat. Tetapi,
karena saya membawa Honda GL dan mungkin tampang saya seram, banyak
yang takut kalau menumpang ojek saya. Hanya pada saat-saat hujan
orang menggunakan jasa ojek saya,” kenang Amrizal, yang selama lima
bulan sempat menjadi pengojek.

Lalu dia punya tekad kuat untuk mengubah nasibnya. “Tuhan tak
akan mengubah nasib manusia jika kita tak mengubah nasib kita
sendiri,” ungkapnya. Berbekal kesabaran, keuletan, kerendahhatian,
Amrizal yang bermental baja ini pun memutar otak dan akhirnya
memutuskan untuk berdagang masakan padang, yang menjadi keahlian
turun-temurun keluarganya di Pariaman, Sumatera Barat.

Kini harga masakan padangnya Rp 7.000 per porsi, sudah termasuk
tambah nasi. “Yang sering dicari adalah ikan bakar karena racikan
bumbunya asli dari kampung saya di dekat laut,” tuturnya.

Amrizal selalu menegur sapa siapa saja yang lewat di pusat jajan
kaki lima itu, walaupun yang dipesan adalah makanan lain. Ia memberi
potongan harga Rp 1.000 untuk anggota satpam dan semua pedagang di
pusat jajan itu. Ia juga sering memberi insentif kepada orang yang
memesan makanan kepadanya. Selain itu, ia juga menerima layanan jasa
pesan-antar dalam radius 3 kilometer tanpa tambahan biaya. Ia rajin
mendatangi para pedagang toko emas dan telepon seluler di ITC, dan
mempromosikan masakannya.

Jika pada masa awalnya Amrizal dan istri harus membeli sendiri
semua bahan baku ke Pasar Ciputat, kini justru ada yang mengantarkan
semuanya ke rumahnya dengan harga diskon pula. “Sekarang saya tak
punya utang kepada siapa pun,” ungkap Amrizal yang berputra satu ini
dengan nada bangga.

Ia menambahkan, “Hidup ini merupakan ibadah. Apa pun yang kita
kerjakan adalah ibadah, karena itu harus dilakukan dengan ikhlas demi
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.” (ADHI KSP)

Foto: 1
Kompas/Adhi Kusumaputra
Amrizal, pedagang kaki lima yang menjual nasi padang bermodal awal Rp
120.000 ini memiliki omzet Rp 1,5 juta per hari. Kunci sukses
usahanya adalah rendah hati dan ulet. Sabtu (6/5)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s