Nanan Wiryono dan Pesan Sang Ayah

Pengantar

Pelajaran hidup dari sang ayah mengingatkan Nanan Wiryono untuk ojo dumeh, jangan mentang-mentang dan tak boleh sombong. Segala sesuatu yang berhasil diperoleh dari jerih payah dulu. Kisah singkat pemilik Restoran Xiao Ba Wang Semarang yang masih rajin melayani tamunya. (KSP)

KOMPAS

Jawa Tengah

Selasa, 19 Apr 2005

Halaman: 3

Penulis: ksp


NANAN WIRYONO DAN PESAN SANG AYAH

OJO dumeh, jangan mentang-mentang. Filosofi hidup Jawa ini
dipahami betul oleh Nanan Wiryono (32), pemilik Restoran Xiao Ba
Wang, restoran pertama la mian di Jawa Tengah.

Apa yang diajarkan almarhum ayahnya, Gunadi Wiryono, pendiri
Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang dan Dekan pertama Fakultas
Hukum Universitas Diponegoro, ternyata diresapinya betul.

Karena itu, jangan heran jika suatu hari Anda datang ke Restoran
Xiao Ba Wang di Jalan Letjen S Parman, Semarang dan melihat pemilik
resto ini juga sibuk melayani para tamu yang datang. “Saya pemilik
sekaligus waitress,” kata perempuan kelahiran Canberra, Australia 27
Desember 1973 itu terus terang.

Masa kecilnya dihabiskannya di Australia, tempat ayahnya
ditugaskan sebagai utusan khusus Wakil Presiden (waktu itu) Adam
Malik. “Sampai kelas V SD, saya berada di Australia,” katanya.
Setelah itu, Nanan melanjutkan pendidikan di SD Bernardus dan SMP
Maria Mediatrix Semarang.

“Ayah saya lahir di sebuah desa di Delanggu, Klaten. Keluarga
kami sudah terbiasa hidup susah. Ayah selalu berpesan, segala
sesuatu yang berhasil harus dimulai dari jerih payah dulu,” kata
Nanan dalam percakapan dengan Kompas, pekan lalu.

Nanan ingat waktu ayahnya bertugas di Canberra selama 10 tahun,
banyak fasilitas yang diperolehnya. “Namun ayah selalu menekankan
pada anak-anaknya untuk tidak boleh sombong. Ojo dumeh. Kami harus
bisa menempatkan diri di mana saja dan dengan siapa saja dengan
baik,” ceritanya.

“Ayah saya sangat liberal. Ia ingin semua anak perempuannya
independen, tidak tergantung pada laki-laki. Jadi, kami semua
bertujuh dididik ala militer,” cerita Nanan, yang bernama asli Sarah
Siti Kawiryan itu.

Nanan bercerita tentang bagaimana ayahnya mendidik anak-anaknya
untuk selalu mandiri. “Saya sering kali diajak menemaninya mancing
dengan cuaca dingin. Setelah ikan didapat, saya juga harus bisa
membersihkan perut ikan,” ujarnya.

Ayahnya selalu menekankan, hidup harus teratur. “Contoh kecil
dari cara menjemur handuk. Letaknya harus sejajar. Juga soal sepatu.
Jika masih bisa dipakai, tak perlu beli sepatu baru,” kata Nanan
mengingat beberapa contoh yang pernah diajarkan sang ayah.

Contoh lainnya, makan harus selalu bareng. “Karena saya anak
bungsu, makanan selalu dapat yang paling akhir. Misalnya, kalau
hidangan ayam digilir, saya selalu kebagian kepala ayam. Kata ibu,
siapa tahu kelak saya menjadi pemimpin. Dan ternyata memang dalam
perjalanan hidup, saya aktif di organisasi dan umumnya jadi
pemimpin,” cerita Nanan, bungsu dari tujuh bersaudara itu.

Pendidikan nonformal yang dijalaninya selalu membawa nama baiknya.
Nanan antara lain pernah menjadi instruktur pengembangan pribadi
Soraya Haque (1993-2000).

Nanan menilai, anak-anak Indonesia terkesan lebih manja
ketimbang anak orang asing. “Lihat saja kalau anak orang asing
berpergian, cukup dengan satu ransel, sedangkan anak-anak Indonesia
dengan koper. Semua serba fragile,” kata ibu muda dengan satu putri
berusia tiga tahun itu.

Putri Solo ini pun ahli mekanik dan montir. “Saya cuma ingin
buktikan bahwa perempuan juga bisa ahli dalam bidang yang didominasi
lelaki,” ungkapnya. Alhasil, hobinya itu kini menjadi salah satu
bisnis lainnya dalam bidang otomotif. Nanan dan suaminya mengelola
bengkel mobil khusus Eropa, Link Auto Service di Jl DI Panjaitan No
3, Kampung Kali, Semarang.

Nanan Wiryono yang kini sibuk mengelola usaha restoran la mian
Xiao Ba Wang ini mengaku masih menyempatkan diri memasak untuk
putrinya, Nasya Cityawiryan Gramino.

Nanan yang juga mahir menekan tuts-tuts piano itu memang bukan
perempuan biasa. Perempuan berdarah Solo yang paham bumbu la mian
sampai mahir soal montir. (adhi ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s