Duh Lezatnya: Seoul Palace, Seni Menikmati Masakan Korea

Pengantar
Seoul Palace adalah nama restoran favorit di Kota Semarang. Penggemar restoran yang menghidangkan masakan Korea ini relatif banyak.

KOMPAS
Jawa Tengah
Sabtu, 07 May 2005
Halaman: 3
Penulis: Adhi KSP, Robert

SEOUL PALACE, SENI MENIKMATI MASAKAN KOREA

MENIKMATI masakan Korea? Mungkin yang ada dalam benak orang yang
belum pernah makan hidangan Korea, makanannya mentah, seperti
masakan Jepang.

Ternyata tidak demikian. Masakan Korea ternyata enak dan rasanya
manis, cocok di lidah orang Jawa Tengah. Kalau demikian, mengapa
tidak mencoba membuka restoran Korea di Semarang?

Pikiran ini ada dalam benak Benita Eka Arijani ketika memutuskan
membuka Restoran Seoul Palace sekitar 17 tahun silam. Sebelumnya,
Benita ke Seoul, Korea Selatan, mempelajari masakan Korea di negeri
ginseng itu.

Pulang dari Korea Selatan, ia membuka restoran Korea. Waktu itu
ia dan suaminya serta satu mitranya menyewa tempat di Jalan Gajah
Mada (dulu depan Bioskop Murni) di Semarang. Pada awalnya ada dua
chef asli Korea yang datang. Kini tinggal satu yang menjadi penyelia
chef restoran ini.

“Tahun pertama restoran Korea ini dibuka, paling berat. Karena,
itu masa pembelajaran. Banyak orang belum paham dengan masakan Korea
sehingga saya harus menjelaskan satu persatu kepada tamu,” kata
Benita Eka Arijani, pemilik Restoran Seoul Palace dalam percakapan
dengan Kompas, Jumat (6/5) siang.

Tahun demi tahun berlalu, akhirnya banyak orang Jawa Tengah
menyukai masakan Korea. Pangsa pasarnya jelas, kalangan menengah
atas. “Umumnya yang datang selalu kembali lagi. Yang membanggakan,
cukup banyak pelanggan restoran ini datang dengan anak-anaknya, dan
mereka pelanggan turun-temurun,” cerita Benita.

Setelah tujuh tahun dibuka dan pelanggannya mulai banyak, tahun
1995, Benita mencari lokasi baru di Jalan Pandanaran 109
(bersebelahan dengan gedung Bank Permata).

“Lokasi ini strategis karena di pusat kota Semarang. Waktu itu
kami membeli lahan kosong dan membangun restoran dari awal. Yang
kami pikirkan pertama adalah bagaimana membangun saluran pembuangan.
Ini terkait dengan kompor khusus dengan arang imitasi yang ada di
meja,” kata Benita yang juga pemilik sekaligus pengelola Restoran
Park View BBQ di kawasan Gombel.

Di sinilah letak perbedaan restoran Korea dari restoran lainnya.
Saluran pembuangan di restoran ini harus dipikirkan sejak awal
karena terkait dengan cara memasak makanan Korea yang umumnya
dilakukan di meja.

Namun, ada perbedaan mencolok antara masakan Korea dan masakan
China. “Masakan china sangat tergantung pada kepiawaian tukang masak
dan mood-nya. Sedangkan masakan Korea, rahasianya ada pada bumbu-
bumbu. Semua orang bisa masak, tetapi tidak semua bisa meracik
bumbu,” kata Benita, yang sehari-harinya masih mengutak-atik bumbu.

Dalam sehari ada 30 macam bumbu yang harus diracik. Di dalam
tasnya ada semacam matriks, rumus bumbu masakan Korea. Di restoran
yangberkapasitas 148 orang ini, Benita punya ruangan khusus untuk
meracik bumbu masakan Korea.

Untuk mengetahui enak atau tidaknya masakan di restoran Korea,
cicipilah dahulu kim chi, acar khas Korea. Rasanya kombinasi pedas,
asam, manis. Kim chi dibuat selama tiga hari, baru bisa disajikan ke
tamu. Karena itu, bumbunya terasa sampai ke daun sawinya.
***

Nama-nama menu masakan Korea memang belum akrab didengar telinga
orang Indonesia. Agar tamu-tamu yang datang ke Seoul Palace ini
lebih familier dengan nama menu masakan Korea, menu makanan
dilengkapi dengan foto dan menggunakan tiga bahasa (Korea, Inggris,
dan Indonesia).

Ada sejumlah menu andalan yang sering dipesan pelanggan. Mulai
dari Bul Gal Bi (iga sapi panggang) seharga Rp 57.000, Bul Go Gi
(daging sapi panggang) Rp 41.000-Rp 53.800, tergantung porsinya.
Kedua menu ini dimasak di kompor di meja.

Ada juga Kim Bab (nasi gulung korea) Rp 21.000, Bi Bam Bab (nasi
campur sayur) Rp 19.000-Rp 26.000, Se U Tui Kim Rp 48.800 (udang
goreng tepung), Saeng Shon Bok Kum (ikan laut piring) Rp 39.900.

Juga Sashimi Salmon (salmon mentah) Rp 87.500-Rp 149.500,
tergantung porsinya, dan O Jing O Bok Kum (tumis cumi-cumi) Rp
31.000. Para tamu dapat menikmati pula minuman teh Korea dan teh
ginseng.

Satu hal yang patut disimak, sup dan nasi dalam tradisi makan
orang Korea bukan hidangan pembuka sehingga menikmatinya pun paling
akhir, berbeda dari tradisi Barat, yang memperlakukan sup sebagai
hidangan awal.

Harga menu makanan ini bervariasi. Yang paling murah Rp 19.000
yaitu bakmi Cam Pong (mi kuah pedas dengan ikan laut). Jika Anda
datang berdua, dan menikmati hidangan paling sederhana, uang
dikeluarkan paling banyak Rp 50.000.
***

YANG jarang ditemukan di restoran lain adalah pemilik restoran
mengenal betul tamu-tamu yang datang dan yang menjadi pelanggannya.
Seperti ada tamu yang minta charger telepon seluler Nokia, Benita
langsung mengontak karyawannya untuk mengambilkan charger di
rumahnya dan segera membawanya ke restoran.

Atau ada tamu orang Jepang yang sehabis makan terlalu lama
menunggu taksi untuk pulang kembali ke hotel di kawasan Simpang
Lima. Benita langsung menawarkan kendaraannya. Ia minta sopirnya
mengantarkan tamu ke hotelnya.


“Tamu dari Jepang itu selalu kembali dan kembali ke restoran ini. Bahkan saya mendapat kado dari Jepang,” cerita Benita, yang selalu berusaha hadir setiap restorannya buka siang hari (11.00-15.00) dan malam hari (18.00-
22.00).
Nah, Anda berminat mencoba masakan Korea di Seoul Palace?
(robert adhi ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s