Sanggar Ayodya Pala: Membangun Bangsa Melalui Seni Budaya

Pengantar

Di tengah ingar-bingar budaya pop yang terus “menyerbu” masuk Indonesia, –imbas dari globalisasi, seni budaya Indonesia harus tetap dilestarikanm bahkan dikembangkan. Salah satu orang yang konsisten mengembangkan seni budaya Indonesia adalah Budi Agustinah, pemilik dan pemimpin Sanggar Ayodya Pala di Depok, Jawa Barat. Usia Ayodya Pala kini memasuki 26 tahun pada tahun 2007 ini. Anak-anak yang diajarinya menari sejak masih usia 5 tahun, kini tumbuh menjadi remaja, gadis, ibu rumah tangga, yang menjadi pengajar dan tulang punggung Sanggar Ayodya Pala. (Adhi Ksp)

KOMPAS
Senin, 22 May 2006
Halaman: 27
Penulis: Kusumaputra, R Adhi

Sanggar Ayodya Pala
MEMBANGUN BANGSA MELALUI SENI BUDAYA

Oleh R Adhi Kusumaputra

Suasana Balai Rakyat Depok I tampak meriah. Satu per satu anak
menghampiri dan mencium tangan Budi Agustinah (44), pemimpin Sanggar
Tari Ayodya Pala. Di Balai Rakyat milik Pemerintah Kota Depok itu
puluhan anak tekun belajar menari tradisional.
“Orangtua melihat saat ini terjadi krisis moral. Di sini anak-
anak bukan hanya diajarkan agar pandai menari, tetapi juga memiliki
budi pekerti. Mencium tangan salah satu bentuknya,” kata Budi
Agustinah beberapa waktu lalu.
Sanggar Ayodya Pala yang didirikannya tahun 1981 itu kini
memiliki 20 cabang di Depok, Bogor, dan Jakarta dengan 28 tenaga
pengajar dan sekitar 1.000 siswa. Semua cabang dipimpin dan dilatih
oleh lulusan Ayodya Pala.
Ayodya Pala kini dikenal telah membina dan mengembangkan rasa
cinta budaya tradisional kepada generasi muda. Mereka yang belajar
dari awal dapat melanjutkan hobi ini menjadi profesi ke tingkat
pendidikan formal di bidang seni. Alumnus Ayodya Pala menjadi sarjana
tari lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, di antaranya Solo,
Yogyakarta, Denpasar, dan Jakarta
.
Nama Ayodya diambil dari epos Ramayana, yaitu tempat Rama
dilahirkan, di mana para kesatria belajar ilmu. Pala diambil dari
Sumpah Palapa Majapahit karena sanggar ini mengajarkan beragam
kesenian dari semua daerah di Nusantara.
Sanggar yang memiliki moto “Membangun Bangsa Melalui Seni Budaya”
ini telah melahirkan banyak penari profesional, pelatih tari, dan
pekerja seni. Karena itu, sanggar ini, kata Agustinah, secara
langsung telah memberikan peluang pekerjaan kepada anggotanya.
“Menari tidak dapat dilakukan secara instan, apalagi tari
tradisional. Menari haruslah sabar dan ulet, tak boleh gampang putus
asa dan harus dilakukan terus-menerus, seperti olahraga,” ujar
perempuan kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1962, itu.
Ketika belajar menari padausia empat tahun, Agustinah
melakukannya karena didorong orangtuanya, H Radikin dan Ny Suminah,
keduanya paramedis RSCM Jakarta asal Kroya, Jawa Tengah. Namun, ia
akhirnya jatuh cinta pada seni tari sejak kelas I SD. “Awalnya itu
obsesi orangtua. Dulu kan embah (saya) dalang dan punya gamelan.
Bapak dan Ibu melihat saya kok tomboi. Supaya kelihatan jadi
perempuan, saya disuruh belajar menari,” ujarnya. Sejak itu Agustinah
makin mencintai tari.

Ke luar negeri
Pengalaman pertamanya menari di pentas nasional pada tahun 1977
ketika ikut misi kebudayaan sebagai wakil DKI Jakarta, ke Surabaya,
Malang, Yogyakarta, dan Solo. Pada tahun itu Agustinah lulus dari
SMPN Depok dan tercatat sebagai siswa teladan se-Kabupaten Bogor.
Saat lulus SMAN 38 Jakarta tahun 1981, Agustinah meraih predikat
juara umum.
Ia pergi ke luar negeri pertama kali ketika duduk di kelas I SMA
tahun 1978, yaitu ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk kegiatan menari.
Hingga kini hampir semua negara di belahan dunia pernah disinggahinya.
Selepas SMA, ia merintis pendirian sanggar tari ini di Jalan
Melati Raya, Depok. “Dulu Depok masih kota kecamatan di Kabupaten
Bogor,” ujarnya.
Supaya sanggar tari ini tetap eksis, Agustinah mengembangkan
Ayodya Pala. Ia tak hanya mengajarkan tari jawa dan sunda, tetapi
juga tarian tradisional dari seluruh Nusantara.
Sepuluh tahun pertama, yang masuk sanggar ini adalah anak-anak
dari masyarakat menengah ke bawah. Namun, sejak tahun 1991 hingga
sekarang, banyak orangtua dari kelas menengah dan menengah atas yang
memasukkan anak-anak mereka ke sanggar ini.
Ia tak melupakan jasa mantan Lurah Depok Jaya Huharmusa, yang
pada awal sanggar ini dibuka selalu memberikan tempat gratis bagi
anak-anak untuk berlatih menari. “Bahkan, Pak Lurah memberi ongkos
pulang saat itu,” katanya.

Organisasi “entertainment”
Sanggar ini membuka kelas terpadu untuk belajar tari, olah
vokal, dan modeling. Dari sini talenta anak akan mudah tergali.
“Dalam perkembangannya, Ayodya Pala berkembang menjadi organisasi
entertain yang menjual beragam paket kesenian, menjadi event
organizer, penghubung artis, dan menjual jasa konsultan. Hingga kini
Ayodya Pala aktif membina dan memberikan kesempatan beragam kelompok
seni untuk tampil, seperti kelompok pencak silat, barongsai, reog
ponorogo, sisingaan, kuda lumping,” katanya.
Anak-anak asuh Sanggar Ayodya Pala sering tampil di salah satu
televisi swasta nasional.
Saat latihan, kata Agustinah, anak-anak asuhnya diwajibkan
bercakap-cakap dalam bahasa Inggris karena ia ingin lulusan Ayodya
Pala mengglobal dan mampu menjadi guide bagi dirinya sendiri. “Anak-
anak juga tak boleh menggunakan tank-top dalam latihan,” kata
Agustinah.
Agustinah yang sarjana biologi Fakultas MIPA Universitas
Indonesia, menikah dengan Baas Cihno Sueko (53) dan punya tiga putra,
yaitu Denta (23), Bima (20), dan Yayik (8).
Ia menarik Rp 75.000 per bulan untuk setiap anak yang belajar
tari dan Rp 125.000 per bulan untuk anak yang masuk kelas terpadu,
khususnya di Sanggar Ayodya Pala, Jalan Melati Raya. Pendidikan di
sanggar ini selama 14 semester atau tujuh tahun. Adapun di cabang-
cabangnya, biaya sangat bergantung pada lingkungan permukiman
setempat. “Ayodya Pala diwaralabakan. Kami hanya minta 20 persen dari
pendapatan cabang. Namun, semua pelatih dan pengajar harus lulusan
Ayodya Pala,” katanya.
Salah satu lulusan Ayodya Pala, Dwi Krisna Handayani (22), putri
seorang pegawai negeri sipil Fakultas Kedokteran Gigi UI, belajar
menari sejak tujuh tahun lalu. Ia membiayai sendiri kuliahnya di
Program D3 Sekretaris BSI Pondok Labu dari hasil mengajar di sanggar
ini. Dwi pernah melanglang buana ke Jerman, Korea, dan China.
Salah satu obsesi Agustinah adalah membangun sanggar seni dan
budaya di Depok atau di Jakarta yang sekelas dengan Pedepokan Bagong
Kussudiardjo di Yogyakarta dan Mang Ujo di Bandung. “Kami tidak
semata-mata mencari keuntungan karena kami ingin menyumbang
pembangunan karakter manusiaIndonesia lewat seni dan budaya di
sanggar ini,” ujarnya.



FOTO di blog ini Budi Agustinah, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s