Sukyatno Nugroho, Juragan Es Teler 77 dari Pekalongan

KOMPAS

Jawa Tengah

Selasa, 02 Mar 2004

Halaman: 6

Penulis: Adhi Ksp, Robert

Sukyatno Nugroho
JURAGAN ES TELER 77 DARI PEKALONGAN

SUKYATNO Nugroho (55), lelaki kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah,
yang merintis usaha waralaba Es Teler 77 dari bawah, kini
berbangga hati. Es Teler 77 memiliki 230 cabang waralaba di
berbagai kota di nusantara, termasuk di Singapura, Malaysia, dan
Australia.

Sukyatno membesarkan usahanya, terjun sendiri ke lapangan.
Bersama mertuanya, Ny Murniati Widjaja yang pernah meraih juara
membuat es teler tahun 1982, Sukyatno dan istrinya, Yenny, mengawali
usahanya di tenda sederhana bermodal awal tak lebih dari Rp 1 juta.

Pagi-pagi sekali, dia berburu nangka dan alpukat di Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, dan di Bogor. Lokasi warung tenda tiga meter x 50 meter itu di pelataran pertokoan Duta Merlin di Jakarta Pusat.Kursinya, ya tong-tong
bekas. Kalau hujan turun, tempat dagang kami kebanjiran, cerita
Sukyatno Nugroho kepada Kompas belum lama ini.

Kesulitan awal yang dihadapi Sukyatno ketika merintis Es Teler
77 saat diusir dari Duta Merlin. Tapi Sukyatno tak putus asa. Dia
mencari lokasi baru, di Jalan Pembangunan dan Jalan Lombok. Di sini,
Es Teler 77 makin dikenal dan kian populer.

Tahun 1994, dia memindahkan lokasi Es Teler 77 dari tenda depan
halaman rumah orang ke mal dan tahun 1997, dia melakukan
standarisasi.

Tahun 1998, Sukyatno bercita-cita memiliki cabang di luar
negeri. “Saya mulai di Singapura. Saya buka di Joo Chiat Road. Hari
pertama, saya pesan nangka dari Pasar Pasirpanjang, pasar induk di
Singapura. Saya naik taksi, beli, dan belah nangka sendiri, pakai
celana pendek,”ungkapnya.

Dia melakukan riset sendiri. “Di Hyatt Singapura, ada orang
Indonesia yang mengenali saya dan bertanya, ælho kok bos turun
sendiri menyebarkan pamflet,” ceritanya.

Dia melihat peluang dan jeli memanfaatkannya. “Hari Minggu ada
puluhan ribu PRT Indonesia di Marina Square. Mereka tak sanggup
makan di mal. Tanggapannya bagus. Saya buka cabang lagi di Far East
Plaza dan Citiplaza,”kata Sukyatno.

Sukses di Singapura, Sukyatno merambah ke Pulau Penang,
Malaysia, dan di Swanston Street di jantung kota Melbourne,
Australia.

Lelaki Pekalongan ini selalu kreatif mencari yang unik. Dia tak
malu untuk turun sendiri. Kini putra-putri keluarga Sukyatno yang memegang kendali. Andrew, lulusan MBA di Melbourne, yang mengendalikan Es Teler 77,
sedangkan Felicia membuka Cilantro, resto tertinggi di Indonesia, di
Wisma 46, Kota BNI.

Sebuah contoh bagaimana pengusaha mempersiapkan generasi
keduanya agar usaha tetap eksis dan bertahan dalam kompetisi bisnis
yang kian ketat. (ROBERT ADHI KSP)

Foto di blog ini Sukyatno Nugroho, diambil dari Cilantro di Wismna BNI 46 Jakarta. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s