Cinta Wenny Pada Semarang dan Eceng Gondok…

KOMPAS
Jawa Tengah
Selasa, 06 Jul 2004
Halaman: 3
Penulis: Ni Komang Arianti/Adhi Ksp

CINTA WENNY PADA SEMARANG DAN ECENG GONDOK…


SULIT dibayangkan apa yang akan dilakukan seorang perempuan muda
terhadap keberadaan tanaman eceng gondok yang dipandang sebagian
besar orang kurang bermanfaat. Belum lagi bila dilihat semangat dan cintanya terhadap tanaman ini dan Kota Semarang, pastilah tak menyangka jika Wenny Sulistiowaty (27), sosok perempuan muda itu berhasil menjadikan keduanya sebagai nafas kehidupannya hingga kini.

“Awal saya terjun dalam dunia kerajinan tangan dimulai di tahun
1997. Ketika itu saya sangat tertarik dengan produk-produk kerajinan
asal Yogyakarta yang dibuat dari bahan alami, seperti eceng gondok,
goni, dan akar wangi. Kemudian, saya putuskan untuk mencoba membuat
beberapa pernak-pernik dari bahan yang sama,” ujar Wenny, Presiden
Direktur PT Webe Inter Tirzada, ketika ditemui di Teratai Lounge,
Hotel Grand Candi, Sabtu (3/7) sore lalu.

Wenny, sapaan akrab perempuan muda ini mengaku dari remaja sudah
tertarik dan jatuh cinta dengan dunia kerajinan tangan. Kecintaannya
semakin kuat ketika ia berhasil memamerkan produk kerajinan tangannya
berupa tas berbahan eceng gondok, goni, dan akar wangi di sejumlah
tempat di Semarang dan Jakarta.

“Sebelum memiliki toko WeBe Art dan WeBe Gallery seperti saat
ini, saya masih menampilkan produk saya ini di stan-stan kecil yang
saya sewa di Mal Ciputra pada tahun 1998. Pada tahun itu, saya memang
bertekad untuk bisa menembus pasar ekspor untuk produk kerajinan
tangan dari bahan natural seperti ini,” kenangnya.

Di balik kecintaannya terhadap produk kerajinan tangan, Wenny
juga menyimpan sejuta impian untuk melihat produk-produk kerajinan
tangan dari Semarang juga mampu bersaing dan menembus pasar ekspor.
“Terus terang, selama ini masyarakat Indonesia, bahkan Semarang,
lebih mengenal dan menyukai produk kerajinan tangan dari Yogyakarta
dan Bali.

“Padahal, sebenarnya produk kerajinan tangan dari Semarang juga
tak kalah bagus kualitasnya,” ujarnya mengomentari apresiasi dan
pandangan masyarakat Semarang terhadap produk kerajinan tangan
berbahan alami asal Semarang.
***

Berbekal semangat, kemauan, dan perhatian yang besar untuk
mengangkat potensi produk kerajinan tangan dari Semarang, Wenny muda
mulai merekrut pegawai untuk dipekerjakan di industri rumah tangganya.

“Kala itu, saya masih duduk di bangku kuliah semester empat
Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana Salatiga. Saya merekrut
lebih kurang 100 ibu muda di sekitar perbatasan Semarang-Demak untuk
dipekerjakan membantu industri kerajinan tas eceng gondok yang saya
rintis di tahun 1999,” paparnya.

Perempuan kelahiran Purwokerto, 10 Oktober 1976 ini, terbukti
dicintai para pegawainya. Keuletan dan kesabarannya melatih dan
mendidik para ibu muda ini selama satu tahun membuahkan hasil yang
manis. Seratus orang pegawainya ini memiliki kemampuan yang handal
sehingga produksi tasnya pun makin disukai para buyer asing.

“Order pertama untuk pasar ekspor saya terima dari buyer asal
Jepang. Jumlah pesanan saat itu sekitar 100 unit tas bahan alami.
Dari buyer ini saya banyak belajar bagaimana meningkatkan kualitas
bahan, jahitan, dan ketelitian dalam membaca selera pasar luar
negeri,” ungkapnya.

Dari tahun ke tahun, usaha kerajinan tas alaminya makin dilirik
dan digemari pasar asing, seperti Amerika Serikat dan negara-negara
di kawasan Eropa. Pada tahun 2004 ini, kapasitas produksi tas eceng
gondok Wenny sudah mencapai angka 15.000 per 30-90 hari waktu
pembuatan. Sebelumnya, di tahun 1999, kapasitas produksi tasnya sudah
mencapai angka 7.500 unit per 30-90 hari waktu pembuatan.

“Saya mengakui usaha ini tidak main-main, saya kerjakan dengan
penuh kesungguhan. Usaha ini begitu berarti bagi saya karena seperti
kebanyakan orang ketahui, citra produk kerajinan tangan asal Semarang
masih belum banyak diketahui dan dikenal orang banyak. Lucunya,
produk tas alami buatan saya lebih dikenal warga Jakarta daripada
warga Semarang. Itu juga salah satu alasan saya untuk membuka galeri
di Kawasan Industri Candi supaya orang yang datang berkunjung benar-
benar tahu, tas yang mereka beli itu asli buatan Semarang, baik bahan
baku maupun tenaga pekerjanya,” jelasnya panjang lebar.

Dalam penuturan terakhirnya, istri dari Daniel Budi Husodo ini
mengaku sedang mempersiapkan diri untuk memiliki momongan. Baginya,
kebahagiaan terbesar datang dalam wujud kehadiran seorang anak di
tengah-tengah dirinya dan sang suami tercinta.

“Dulu, saya sempat hamil selama tiga bulan. Namun, karena saya
terlalu kecapaian, saya waktu itu mengalami keguguran. Tapi, saya
juga tetap berkeinginan membuka galeri produk tas alami saya yang
dipadu dengan konsep kafe di Pulau Bali,” tegasnya penuh harap.
(Ni Komang Arianti/Adhi Ksp)

LINK TERKAIT http://indonetwork.or.id/webe, http://www.e-smartschool.com/pnu/005/PNU0050010.asp

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s