Tersangka Pembunuh Basoeki Abdullah Tertangkap di Sukabumi

KOMPAS

Rabu, 10 Nov 1993

Halaman: 1

Penulis: KSP/VIK/RIE/OSD

TERSANGKA PEMBUNUH BASOEKI
TERTANGKAP DI SUKABUMI

Jakarta, Kompas

Teka-teki pembunuhan pelukis legendaris Basoeki Abdullah
terjawab sudah dan motif sementara pembunuhan adalah murni
pencurian. Tersangka pelaku pembunuh tunggal ternyata pemuda yang
tak punya pekerjaan tetap, yaitu Amd alias Nd (20) yang sudah enam
kali melakukan pencurian di wilayah Jaksel tertangkap Selasa (9/11)
dini hari. Peristiwa tertangkapnya pelaku pembunuhan ini langsung
dilaporkan Kapolda Metro Jaya, Mayjen (Pol) Hindarto pagi harinya
kepada Presiden Soeharto pada pagi hari itu juga.

Tersangka pelaku pembunuhan dalam aksinya berkomplot dengan Why
alias Waud (37), tukang kebun yang sudah bekerja sekitar 2 tahun di
rumah korban merupakan otak pelaku kejahatan. Sedangkan lainnya
adalah Abd bin Skt (29) penadah barang-barang hasil kejahatan.
Ketiganya kini ditahan di Polres Jaksel.

Memang tidak secara khusus Kapolda Hindarto melaporkan
perkembangan kasus pembunuhan itu kepada Presiden. Laporan itu
terjadi ketika Presiden Soeharto memanggil Kapolda, yang sedang
berada dalam antrian untuk memberikan ucapan selamat kepada para ahli
waris penerima gelar pahlawan di Istana Merdeka, Selasa (9/11) pagi.

Presiden ketika itu didampingi Ny Tien Soeharto. Saat Presiden
dan Ny Tien Soeharto mendengar laporan Hindarto, Wapres dan Ny Try
Sutrisno bergabung untuk mendengarkan laporan itu. Usai laporan,
Presiden Soeharto kemudian tampak mengatakan sesuatu sebelum
menyalami Hindarto. Kapolda juga kemudian disalami Ny Tien, Wapres
dan Ny Try Sutrisno sebelum kembali masuk ke antrian.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang apa yang dibicarakan
dengan Presiden Soeharto, Hindarto mengatakan ia melaporkan
perkembangan kasus pembunuhan Basoeki Abdullah.
Amd ditangkap langsung oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan,
Letkol (Pol) Drs Adang Rismanto dalam suatu penyergapan di daerah
Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa dinihari (9/11) kemarin.

Kasus pembunuhan Basoeki Abdullah yang terungkap hanya dalam
waktu empat hari, merupakan prestasi besar bagi jajaran Polda Metro
Jaya. “Saya merasa bersyukur ketika pada Selasa pagi pukul 06.30,
Kapolres Jaksel melapor kepada saya bahwa pembunuhnya sudah
ditangkap,” kata Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Drs M. Hindarto
kepada wartawan, Selasa (9/11) siang.

Kronologis kejadian
Kapolres Jaksel Adang Rismanto yang dikenal sebagai “orang
lapangan” ini menjelaskan kronologis kejadian. Pada Jumat dinihari
(5/11) pukul 01.30, Amd berangkat sendirian menuju rumah Basoeki,
dengan kendaraan omprengan.

Amd melompat pagar rumah sebelah, lalu menyusuri tembok menuju belakang rumah korban yang menembus ke kolam renang. Semula ingin lewat tangga belakang yang ditutupi tripleks, tapi setelah dilihat ada anjing tidur di bawah tangga, Amd memutuskan untuk lewat fiberglass di atas tempat pencucian piring, tapi ia tidak berani membukanya. Lalu ia mencari celah-celah kosong yang miring. Karena tempat itu kecil, Amd yang bertubuh kecil ini membuka baju dan celana dulu untuk bisa turun.

Setelah itu Amd yang lecet di wajahnya, membuka pintu dapur
yang tidak terkunci. Ia masuk sambil menenteng baju dan celananya.
Setelah pintu dapur dikunci dari dalam, Amd memakai baju di dapur.
Ia melihat ke ruangan sebelah. Dalam keadaan haus dan capai -karena
jalan melewati tembok dan turun ke bawah melelahkan, Amd menemukan
apel. Ia mau mencari minum tidak berani mengambilnya. Sambil makan
apel, Amd naik ke atas ke lantai dua, membuka pintu menuju teras di
lantai atas dengan tujuan persiapan emergency, untuk turun dan lari
lewat sana.

Sekitar 15 menit, Amd mengamati situasi. Ia turun lagi ke
lantai pertama. Di dekat meja makan itulah ia menemukan samurai
pajangan, walkman, tustel yang kemudian dibawa ke atas dan ditaruh
lagi ke atas. Lalu Amd memberanikan turun ke bawah, membuka pintu
kamar Basoeki.

Ketika Amd membuka pintu kamar Basoeki, ada pintu lemari yang
terbuka yang menghalanginya masuk. Amd merangkak mencari tempat
penyimpanan uang. Amd sudah diberitahu oleh Why bahwa uang ada di
dalam tas yang biasa disimpan di lemari, sedangkan jam di laci
kecil.

Pada saat lemari dibuka, Basoeki terbangun turun persis kena
badan Amd, dan sempat teriak “Maling”. Melihat posisi mayat, Basoeki
kelihatannya mencoba meraih kaca mata karena kaget. Saat Basoeki
berdiri melihat Amd, pelaku sudah ada di pojok tempat tidur dekat
senapan angin. Amd akhirnya mengambil senjata dan memukulkannya satu
kali sehingga membuat Basoeki terjatuh.

Amd lalu pindah posisi, tapi ia tidak bisa lari karena terhalang
oleh pintu lemari. Posisi berdiri Basoeki juga menghalangi Amd untuk
lari, sehingga pelaku kembali memukulkan senapan angin ke bagian
belakang kepala korban. “Popor senapan angin itu patah dari larasnya
karena kena tembok,” kata tersangka Amd ketika ditanya wartawan.

Setelah Basoeki tak berdaya, Amd menggeledah laci, lemari dan
tas memperoleh puluhan jam tangan serta korek api pistol, dan
dimasukkan ke dalam tas. Di tas itu -yang semula disebutkan Why ada
uang Rp 5 juta, ternyata hanya diperoleh uang Rp 200.000 dan uang
koleksi. Saat membongkar lemari, Amd menemukan baju piyama milik
Abdullah. Bajunya yang berdarah, ditutupinya dengan piyama Abdullah.

Amd naik tangga ke lantai dua, beristirahat sejenak kemudian
turun dari teras di pojokan ujung rumah melalui penangkal petir.
Amd berpikiran jika turun lewat pohon, takut bunyi gemerisik.
Setelah turun dengan selamat, Amd berjalan hingga ujung jalan
Fatmawati, menghentikan taksi dan turun di Jl Langsat I No 28,
Jaksel alamat Abd bin Skt. Amd sudah membawa kunci pintu pagar. Di
rumah itu, Why belum tidur dan masih menunggu, sedangkan Abd
dibangunkan.

Sesudah mandi membersihkan pakaiannya yang penuh darah, Amd
yang merasa situasi tidak menguntungkan, karena ia sudah lakukan
penganiayaan ini mengatakan, “Ini ada jam, tapi uang tidak ada.”
Padahal uang Rp 200.000 itu disembunyikan Amd untuk dirinya sendiri.
Amd mencoba pulang ke tempat tumpangannya di Jl Gandaria. Ia tiba
subuh hari, ketika sudah terdengar suara mengaji di sekitar
rumahnya.

Di Gandaria, Amd sempat ditanya oleh tukang martabak, dan
dijawab baru pulang begadang. Saat itu badannya sudah bersih.
Sekitar jam tujuh pagi, Amd kembali ke Jl Langsat, untuk mencek jam
curiannya. Di sana ia bertemu dengan Andi Sembiring (yang buron).

Amd yang gelisah ini lalu memutuskan ke rumah pacarnya di Sukabumi.
Sebelumnya Amd sempat memberi uang Rp 80.000 kepada Abd, yang hendak
pulang ke Brebes.

Tersangka Amd pernah dihukum selama 8 bulan karena mencuri uang
dollar di dekat Aldiron. Pada Oktober lalu, Amd sempat dijaring oleh
reserse Polres Jaksel ketika terjadi keributan di Jl Brawijaya.
Namun waktu itu Amd ditemukan tanpa barang bukti, sehingga ia
dilepas lagi.

Menurut pengakuan Amd, ia sudah mencuri di enam lokasi antara
lain di Jl Barito (depan kantor Berita Yudha), di samping kuburan
Pela Jl Radio, di depan mesjid Jl Benda dan di rumah WN Jepang di
bilangan Bulungan Jaksel. Modusnya dilakukan seorang diri, dan Amd
mengaku belum pernah melukai penghuni rumah. Sebelumnya, 24 Oktober
1993, Amd dan AS (belum tertangkap) pernah merencanakan aksi
pencurian di kantor galeri Basoeki Abdullah di Jl Sisingamangaraja,
tapi mereka gagal karena tak bisa masuk.

Butuh Rp 1,9 juta
Dalam penjelasan persnya, Kapolda Mayjen Hindarto didampingi
Kadispen Polri Brigjen (Pol) Drs IK Ratta, Kadit Reserse Polda Metro
Jaya Kolonel (Pol) Drs Gunawan, Kapolres Jaksel Letkol (Pol) Drs
Adang Rismanto, Kadispen Polda Metro Jaya Letkol (Pol) A. Latief
Rabar dan Kapolsek Tambora Mayor (Pol) Drs Sunaryono.

Latar belakang pembunuhan pelukis Basoeki Abdullah semata-mata
pencurian murni. “Tak ada motif lainnya, seperti yang kalian
(wartawan-red) tulis di surat kabar. Soal warisan dan lain-lainnya
itu adalah masalah privacy orang,” kata Hindarto.

Kapolres Jaksel Letkol (Pol) Adang Rismanto yang memberikan
keterangan kepada pers mengatakan, motifnya adalah tersangka Why
kepepet membutuhkan uang Rp 1,9 juta untuk mengganti kerugian
kerusakan mobil tetangga Basoeki yang ditabrakkan adiknya, Sumaedi
yang baru saja melamar jadi sopir tetangga depan rumah. Namun
Sumaedi sendiri -yang akhirnya tak jadi dipekerjakan oleh tetangga
Basoeki itu- tidak terlibat dalam kasus ini.

Untuk mencari uang Rp 1,9 juta itu, Why yang sudah dua tahun
bekerja di rumah Basoeki sebagai tukang kebun (dan juga merangkap
pekerjaan lainnya seperti mengepel, mengecat dan lainnya) ini
menjadi bingung. Why yang digaji Rp 150.000/bulan diharuskan
membayar kerusakan mobil tetangga depan rumah majikannya.

Menurut Hindarto yang lulus Akabri Kepolisian tahun 1972,
Why yang sering berkumpul di Jl Langsat I No 28 ini menceritakan
kesulitannya kepada Abd -penjaga rumah kosong itu- dan Amd yang
dikenal sebagai anak jalanan di kawasan Jl Barito. Dari tempat
itulah, Why kenal dengan Amd yang pekerjaannya tidak tetap. Kadang-
kadang jadi kernet metromini, kadang jadi penjual koran.

Kuatnya indikasi pembunuhan Basoeki Abdullah melibatkan Why,
setelah secara kebetulan ada seorang pria mantan preman mengoceh
dalam keadaan mabuk di Kalijodo, Jakbar mengaku ia tahu soal
pembunuhan Basoeki Abdullah. Semula Kapolsek Tambora, Mayor
Sunaryono tak percaya. Namun informasi itu didengar secara serius.
Setelah dikembangkan, akhirnya diketahui bahwa pria itu pernah sakit
hati pada AS lantaran pernah ditipu. Selain itu, kata mantan preman
ini, “AS orangnya kejam. Saya orang Solo dan Pak Basoeki juga dari
Solo.”

Pria itu kemudian menyebutkan sejumlah nama termasuk Why.
Setelah berkoordinasi dengan Polres Jakbar dan Polres Jaksel,
Kapolsek Tambora menyita sejumlah barang bukti arloji (jumlahnya 20
buah) yang dijual Amd di pedagang kaki lima di kawasan Jatinegara
Jaktim. Arloji antik ini diyakini sebagai milik almarhum Basoeki,
lalu diperlihatkan kepada pembantu Basoeki. Setelah dibenarkan,
polsi bergerak cepat.

Kapolres Jaksel, Letkol Adang Rismanto yang mengetahui jejak Amd
langsung mengejar tersangka di Cicurug, Sukabumi. Semula informasi
diperoleh, Amd berada di rumah pacarnya di Ciputat. Tapi setelah
dicek, ternyata sudah berangkat pada Senin siang ke Sukabumi.

Pernah mengecat kamar
Sekitar dua bulan lalu, Why pernah masuk ke kamar Basoeki
karena mendapat tugas mengecat kamar korban. Diperkirakan pada waktu
itulah, Why mengetahui di laci lemari ada puluhan koleksi arloji
milik Basoeki.
“Pengetahuan” Why ini disampaikan kepada Amd. Pada 4 November
1993 pukul 19.00, Amd berjumpa dengan Why di Jl Langsat,
merencanakan pencurian di rumah Basoeki. Malam itu juga Amd diantar
Why ke rumah Basoeki di Jl Keuangan, untuk membaca situasi rumah dan
lokasi. Namun Why hanya mengantar sampai di dekat masjid di ujung
persimpangan jalan Fatmawati-Jl Keuangan. Why tak berani masuk jalan
itu karena takut dikenali. Setelah itu, Why dan Amd kembali ke Jl
Langsat.

Why yang “menggambar” lokasi dan situasi rumah korban, misalnya
pintu kamar Basoeki tak pernah dikunci, Basoeki selalu tidur
sendirian di kamar lantai bawah dan Ny Basoeki tidur di lantai atas,
satpam di pos depan punya kebiasaan tidur, dan anjing-anjing di
rumah juga suka tidur pada malam hari. Waktu itu, saran tersangka
Why kepada Amd, jika korban terbangun dari tidurnya, “pukul saja”
daripada kasus ini terungkap.

Kecurigaan Adang Rismanto pada Why menguat setelah tukang kebun
ini memberikan jawaban berubah-ubah dalam alibinya. Semula ia
menjawab, pada malam kejadian ia tidur di rumahnya di Jl Hijau Raya,
Pondok Indah, tapi setelah ditanya lagi, jawabannya di rumah Jl
Langsat I No 28. Polisi mengejar ke Jl Langsat, tapi rupanya Abd
sudah berangkat ke Brebes. Polisi mengejar ke Brebes, dan ternyata
Abd pulang kampung karena memang ada surat.

Namun setelah ada informasi dari mantan preman yang mengoceh di
Kalijodo, titik terang mulai ada. Akhirnya dalam waktu empat hari,
kasus pembunuhan Basoeki Abdullah dapat terungkap berkat kerja sama
yang baik semua polisi di jajaran Polda Metro Jaya.

Sementara itu dua sekretaris Basoeki Abdullah, Ny Wiwien dan
Meiwati yang kemarin datang ke Polres Jaksel, tidak jadi dimintai
keterangan karena kasus ini sudah terungkap.

Presiden gembira
Sementara itu ketika ditanya bagaimana reaksi atau tanggapan
Presiden, Kapolda Metro Jaya Hindarto menuturkan, Kepala Negara
gembira karena kasus pembunuhan ini sudah terungkap.

Ketika dikemukakan bahwa ini merupakan prestasi bagi polisi
karena waktu kejadian dan waktu tertangkapnya pelaku relatif pendek,
Hindarto dengan tersenyum mengatakan,” Ya Kapolresnya tiga hari tiga
malam tidak tidur. Dia (Kapolres) sendiri yang menangkap pelaku di
Sukabumi.” (ksp/vik/rie/osd)

FOTO di blog ini lukisan karya Basoeki Abdullah, “Berjemur di Matahari”, dikutip dari http://www.bentarabudaya.com/lukisan.php?lg=&id=63

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s