Nattaya Nareerat Basoeki Abdullah: Saya Memaafkan Pembunuh Bapak…

KOMPAS

Senin, 15 Nov 1993

Halaman: 1

Penulis: KSP

Nattaya Nareerat Basoeki Abdullah:
SAYA MEMAAFKAN PEMBUNUH BAPAK…

NAMA Nattaya Nareerat (46) menjadi begitu populer dalam sepuluh
hari terakhir ini, setelah suaminya, pelukis Raden Basoeki Abdullah
(78) ditemukan tewas terbunuh di kamar rumahnya di Jl Keuangan Raya
No 19, Cilandak, Jakarta Selatan, hari Jumat (5/11) lalu.

Nattaya sempat menjadi bahan pembicaraan dan gunjingan
masyarakat luas karena pers mengkait-kaitkannya dengan surat wasiat
tentang harta warisan. Bahkan dirinya menjadi ikut terpojok akibat
pemberitaan media massa.

“Saya berterima kasih kepada polisi yang cepat mengungkap kasus
pembunuhan Bapak (maksudnya suaminya, Basoeki Abdullah). Saya cuma
mikir, kalau sampai terlambat, bagaimana nasib saya ini. Tentu jadi
bulan-bulanan terus…” tutur Nattaya pelan. Matanya berair. Wanita
cantik ini lalu terisak-isak.

Di sela-sela acara rekonstruksi pembunuhan Basoeki Abdullah
yang berlangsung sekitar dua jam pada hari Minggu dinihari (14/11),
Nattaya yang mengenakan gaun hitam menjawab pertanyaan wartawan yang
terus mengerumuninya sepanjang Minggu dinihari kemarin. Nattaya
didampingi putrinya Caecilia Sidhawati (21), keponakannya Hans
Abdullah, dua sekretaris almarhum Basoeki, Ny Wiwien dan Meiwati,
serta dua saudara kandungnya berasal dari Thailand.

Berikut petikan wawancara pers dengan Nattaya:
Polisi sudah menangkap tersangka pembunuh suami Anda dan dua
orang yang terlibat dalam pebunuhan ini. Pada malam ini Anda sudah melihat wajah tersangka pembunuh. Bagaimana perasaan Anda sekarang ?
Yah, saya sudah lihat orangnya (maksudnya tersangka Amd). Saya
lihat matanya, sepertinya dia pembunuh berdarah dingin ya…

Hukuman apa yang pantas untuk pelaku pembunuhan itu?
Saya tidak mau menjawab soal hukuman. Saya rasa masalah ini
sudah ditangani polisi. Saya rasa hukum di Indonesia cukup (adil)
untuk orang yang berbuat begitu. Apalagi yang jadi korban, suami
saya, Basoeki Abdullah yang sudah mengharumkan nama bangsa dan
negara lewat lukisan-lukisannya. Saya rasa semuanya kehilangan Bapak
(maksudnya Basoeki Abdullah). Ah, mestinya Bapak lebih lama bersama
kita. Sayang, Bapak meninggal dunia di tangan orang bodoh…

Terlepas dari persoalan hukuman yang sudah jadi urusan penegak
hukum, apakah Anda secara pribadi memaafkan pembunuh suami Anda ?

Ya, saya memaafkan pembunuh Bapak. Saya tahu Bapak orangnya
baik. Bapak selalu memaafkan, dan itulah yang selalu diajarkan Bapak
kepada kami semua. Saya ikuti ajaran Bapak.

Anda memaafkan ketiga tersangka semua ?
Ya, semuanya. Anggaplah mereka orang bodoh. Pembantu saya, Why,
wajahnya lembut. Dia sudah kerja dua tahun bersama kami. Masak dia
sampai hati. Kalau dia bilang tidak kenal tuan, tidak mungkin.
Keluarga kami selalu menolongnya, kalau dia membutuhkan bantuan.
Saya tak sangka dia (tersangka Why) berbuat begitu…

Mengapa Anda bersedia memaafkan pelaku yang sudah membunuh
orang yang Anda cintai ?

‘Kan Tuhan sudah memberikan petunjuk-Nya. Orang yang berbuat
salah, akan menerima hukuman yang setimpal dari-Nya.

Sebelum terjadi pembunuhan, apakah ada firasat sebelumnya ?
Ya, saya sudah dapat firasat. Banyak terjadi pada diri saya,
tanda yang aneh-aneh. Misalnya, saya tabrak orang dua hari
sebelumnya. Tapi itu bukan kesalahan saya, karena orang itu tiba-
tiba muncul, tapi tak ada apa-apa.

Media massa sempat menyorot Anda dalam kasus pembunuhan ini,
bahkan memojokkan Anda. Bagaimana komentar Anda ?
Waktu itu saya cuma memikirkan Bapak saya yang hilang
(maksudnya meninggal dunia). Saya sedihnya kayak apa. Mana ditimpa
begitu lagi (maksudnya berita-berita yang memojokkannya, yang
mengutak-atik kehidupan pribadinya, termasuk surat wasiat soal
warisan). Bapak orangnya begitu baik. Saya cuma berdoa, tunjukkanlah
orang yang jahat yang tega membunuh Bapak secepat mungkin. Saya
minta apa (dari wasiat soal warisan) ? Siapa yang mengerti posisi
saya ? (Nattaya kemudian menangis terisak-isak).

Anda puas dengan pekerjaan polisi yang mengungkap kasus ini
dalam waktu singkat ?
Ya, saya puas. Saya rasa masyarakat juga puas dengan pekerjaan
polisi yang begitu cepat. Saya berterima kasih kepada bapak-bapak
polisi. Kepada Pak Adang (maksudnya Letkol Adang Rismanto, Kapolres
Jakarta Selatan), saya sudah sampaikan terima kasih. Saya tahu
mereka tidak tidur sampai empat malam….
***

NATTAYA Nareerat lahir di Bangkok, Thailand 46 tahun silam.
Ayahnya meninggal dunia ketika Nattaya berusia 9 tahun. Bersama
empat saudaranya (dua di antaranya Manut dan Jin hadir dalam
rekonstruksi pembunuhan pada Minggu dinihari kemarin), Nattaya
bekerja keras membantu ibunya -yang menerima cucian laundry. Nattaya
sendiri ketika berjumpa pertama kali dengan Basoeki Abdullah tahun
1962, bekerja di salon kecantikan.

Bagaimana Anda bisa kenalan dengan Basoeki Abdullah ?
Ketika berusia 18 tahun, saya menjadi model ternama di Istana
Kerjaaan Thailand. Bapak jadi juri dan saya diminta jadi model
lukisan Bapak. Saya ‘kan belum tahu Bapak itu siapa. Waktu Bapak
menjadi juri, saya yang menjadi model lukisan, mendapat tempat
runner-up. Pesertanya berjumlah 200 orang. Waktu itu (tahun 1962)

Bapak tinggal di Bangkok sebagai pelukis istana Kerajaan Thailand.
Kok Anda bisa jatuh cinta dengan pelukis, bagaimana kisahnya ?
Bapak ‘kan pelukis ternama, yang bisa melukis wajah manusia
begitu persis. Saya jatuh cinta dengan lukisan Bapak dulu, dong.

Setalah dilukis lama, baru tahu Bapak seorang pelukis terkenal. Saya
‘kan senang dilukis, dan kebetulan saya sendiri suka melukis.
Apalagi melukis wajah yang persis itu, saya suka sekali. Saya ingin
belajar, tapi tetap tidak bisa karena menggambar wajah orang itu
susah, harus belajar anatomi. Jadi saya gambar yang lain, seperti
ikan, binatang…

Kapan Anda ke Indonesia pertama kali ?
Tahun 1963 saya sudah ke Indonesia. Sudah bolak-balik Thailand-
Indonesia. Saya sempat berkenalan dengan Presiden Soekarno dan Ibu
Hartini. Saya dan Bapak pernah menginap di Istana Bogor selama
seminggu, untuk melukis mereka.

Kesan apa yang sangat mendalam setelah hidup bersama Basoeki?
Berjuang bersama. ‘Kan sudah 30 tahun saya hidup bersama Bapak.
Saya diajak kemana-mana, keliling dunia. Pameran di mana-mana di
tiap negara. Saya jadi pintar setelah ikut Bapak.

Anda saat ini masih WN Thailand. Apakah rencana Anda tetap
berdiam di Indonesia ?
Ya, saya tetap tinggal di Indonesia. Tapi saya akan bolak-
balik. Kalau saya ada tugas, saya ke Indonesia. Di Thailand pun,
saya punya ibu, tinggal di Bangkok.

Dalam surat wasiat soal warisan, nama Anda konon tidak disebut-
sebut. Komentar Anda ?

Saya tidak mau berkomentar soal warisan. Biar pemerintah yang
mengurusnya. Pak Moerdiono (Mensesneg) sudah berjanji akan
mengurusnya.

Sesuai bunyi wasiat almarhum, rumah di Jl Keuangan No 19 ini
akan jadi museum. Apakah Anda setuju rumah ini dijadikan museum ? Lalu Anda akan tinggal di mana ?

Apa yang Bapak suka, saya ikuti saja. Dan saya bisa tinggal di
mana saja. Tapi yang jelas, saya akan merapikan dulu buku-buku Bapak
yang jumlahnya ribuan ini. Juga foto-foto dan klisenya.

Bagaimana dengan putri Anda, Sidhawati ?
Mungkin dia mau melanjutkan sekolah, tapi belum tahu persis di
mana. Sidhawati bisa melukis abstrak. Orangnya tidak begitu sabar
seperti Bapak. Tapi Bapak bilang, lukisannya bagus. Dia tahu
komposisi warna. Sidhawati mulai melukis sejak usia 5 tahun. Dia
bawa kertas selembar kepada daddy-nya, dan mengatakan bahwa dia bisa
menggambar seperti daddy. Walaupun tidak begitu baik, tapi warnanya
sangat bagus, kata daddy-nya. Dia masih muda, tapi tidak tahan
emosi. Dia sangat disayang dan dimanja ayahnya. (Caecilia Sidhawati
Bharani adalah satu-satunya anak kandung pasangan Basoeki Abdullah
dan Ny Nattaya Nareerat. Gadis ini lahir di Bangkok tahun 1972).

Dari semua lukisan Basoeki yang ada, mana yang paling disukai ?
Semua lukisan Bapak, saya sukai. Tapi yang paling saya sukai
adalah lukisan potret diri Bapak dengan topi khasnya. Lukisan itu
dihadiahkan kepada saya pada hari ulang tahun saya pada 9 Juni 1991.
Lihat saja pesan Bapak dalam lukisan itu (Nattaya menunjuk lukisan
potret diri Basoeki Abdullah yang dipasang di dekatnya, saat
rekonstruksi).

Komentar Bapak dalam lukisan ini ‘kan bagus. “Nat Darling,
Fight till the end”
. Nat adalah panggilan nama saya, Nattaya. Bapak
minta saya berjuang sampai akhir.

Mengapa Pak Basoeki selalu pakai topi ?
(Nattaya tertawa kecil). Bapak memang senang pakai topi,
seperti pejuang. Karena topi itu ‘kan simbol hanomannya. Topi Bapak
ada dua, semuanya beli di Belanda. Dipakai bergantian. Yah, memang
sengaja dimiringkan supaya lebih keren ‘kan. Kalau lurus nanti
kelihatannya ‘kan jelek….

Anda bangga pada Basoeki Abdullah ?
Saya sangat bangga pada Bapak. Ia selalu baik hati pada setiap
orang, dan humoris. Hasil pekerjaannya bisa dinikmati rakyat…
(robert adhi ksp)

FOTO ilustrasi di blog ini lukisan Basoeki Abdullah, “Nude”, dikutip dari http://www.nusantara.com/seart/Basoeki.jpg&imgrefurl=http://www.nusantara.com/seart/STRaden.html&h=179&w=136&sz=6&hl=id&start=12&tbnid=vVXEKHsjh2eGOM:&tbnh=101&tbnw=77&prev=/images%3Fq%3DBasoeki%2BAbdullah%26svnum%3D10%26hl%3Did%26sa%3DN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s