Catatan dari Aruba: Indonesia dan Peta Narkotika Asia

KOMPAS

Sabtu, 09 Oct 1993

Halaman: 7

Penulis: KSP


Catatan dari Aruba
INDONESIA DAN PETA NARKOTIKA ASIA

DIMANAKAH posisi Indonesia dalam peta perdagangan gelap
narkotika Asia dan dunia ? Salah satu tolok ukur kerawanan kejahatan
narkotika yang disepakati organisasi tingkat dunia adalah jumlah
pemakai narkotika di suatu negara.

Dibandingkan dengan jumlah pemakai di tiga negara ASEAN
lainnya, Indonesia tergolong relatif aman. Thailand misalnya, dengan
jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa, pemakai narkotika di negeri
ini tercatat sekitar 500.000 orang. Malaysia -yang berpenduduk
sekitar 16 juta-, jumlah pemakai narkotika sudah sekitar 150.000
orang, dan Singapura yang berpenduduk sekitar tiga juta jiwa,
pemakai narkotikanya mencapai 30.000 orang. Sedangkan Indonesia
dengan penduduk sekitar 170 juta jiwa, pemakai narkotikanya sekitar
200.000-300.000 orang.

Angka-angka ini kelihatannya biasa saja, tapi sebetulnya
memberikan gambaran di mana letak posisi Indonesia dalam peta
perdagangan gelap narkotika, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dari
segi kuantitas, jelas Indonesia masih “aman”. Bagaimana jika dilihat
dari segi kualitasnya ? Pemakai narkotika di Thailand, Malaysia dan
Singapura umumnya jenis heroin, sedangkan di Indonesia rata-rata
jenis ganja (cannabis).

Orang yang kecanduan heroin, akibatnya bisa lebih parah,
ketimbang pengisap ganja. “Jadi, dilihat dari kuantitatif dan
kualitatif, Indonesia lebih berhasil menanggulangi kejahatan
narkotika,” jelas Direktur Reserse Polri, Brigjen (Pol) Drs
Rusdihardjo –yang pernah menjabat Kasubdit Reserse Narkotika
selama 10 tahun.

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 170 juta masih
menghadapi berbagai masalah sosial, seperti masalah drop-out,
kesempatan kerja dan kesempatan belajar. Dibandingkan dengan negara-
negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia lebih ketinggalan karena
mereka tampak lebih sejahtera. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia
berhasil menekan jumlah pemakai narkotika –yang merupakan salah
satu tolok ukur masalah kejahatan narkotika di suatu negara.

Namun demikian, Indonesia tetap harus waspada. Sebab, berbeda
dengan negara di Asia Tenggara lainnya, para pemakai narkotika di
Indonesia saat ini sudah bergeser ke golongan menengah ke atas.
Sementara di Thailand masih pada golongan menengah ke bawah,
misalnya suku-suku pegunungan seperti Yao, Shan, Mon di kawasan Segi
Tiga Emas (Golden Triangle) di perbatasan Myanmar, Thailand dan
Laos. Di Malaysia dan Singapura juga masih pada tingkat lower class.

Hasil survai yang dilakukan Dinas Penelitian dan Pengembangan
(Dislitbang) Polri baru-baru ini menunjukkan, jumlah pemakai
narkotika di Indonesia secara nasional terbanyak dari golongan
pelajar (SMP dan SMA) dan mahasiswa, yang mencapai 70 persen.

Sedangkan pemakai narkotika dari lulusan SD “hanya” 30 persen. Dan
yang lebih merawankan lagi, peredaran ganja sudah merambah kampus.
Kalau mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa sudah terlibat
pengedaran dan pemakai ganja, ini berarti kewaspadaan harus kian
ditingkatkan.
***

POSISI Indonesia saat ini masih sebagai tempat transit,
sedangkan Australia tempat pemasaran, yang dilanjutkan ke AS. Selama
ini rute pengedaran narkotika dari Asia ke Eropa dan Amerika melalui
Khatmandu (India) dan Cina. Namun penjagaan yang ketat di bandara,
membuat para penyelundup memilih Indonesia sebagai alternatif baru.
Ini terbukti dengan ditangkapnya warga asing yang kedapatan membawa
heroin di Jakarta belum lama ini.

Heroin itu tampaknya memang bukan untuk konsumsi Indonesia.
Namun lantaran Indonesia dianggap jalur yang aman sebagai batu
loncatan, maka penyelundup narkotika memilih Jakarta dan Denpasar.
Bahkan kokain dari Amerika Latin pun dibawa melalui Denpasar, untuk
kemudian dibawa ke Australia. Sebab, untuk langsung lewat Australia,
pengamanan di bandara di negeri kanguru sudah terlalu ketat.

Boleh-boleh saja orang menganggap Indonesia masih relatif
aman, dan masih sebagai tempat transit para sindikat narkotika
internasional. Tapi jangan lupa, Malaysia pada tahun 1960-an dan
1970-an pun menganggap negara itu masih relatif aman dan hanya
dijadikan tempat transit penyelundup narkotika. Tapi sekarang,
tampaknya “perang melawan narkotika” terus dicanangkan di negeri
itu, karena makin banyaknya pecandu narkotika di sana. Bahkan
pemerintah setempat sudah mengancam menjatuhkan hukuman mati bagi
pengedar narkotika yang tertangkap.

Makanya, bisa saja terjadi pada tahun-tahun mendatang, posisi
Indonesia bergeser dari tempat transit, menjadi daerah sasaran
konsumsi sindikat narkotika internasional. Artinya, pengedar
narkotika akan mencari sasaran pemakai narkotika di Indonesia. Untuk
mencegah terjadinya situasi seperti Malaysia, tampaknya perlu
dipikirkan langkah-langkah apa yang dilakukan pemerintah Indonesia
untuk mengantisipasi “ancaman” tersebut, agar kondisi kejahatan
narkotika tidak terlanjur “parah” sehingga sulit “diobati”.
(Robert Adhi Ksp dari Aruba).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s