Basoeki Abdullah Dibunuh di Kamarnya

KOMPAS

Sabtu, 06 Nov 1993

Halaman: 1

Penulis: KSP/TJO/ARY/POM/HRD


BASOEKI ABDULLAH DIBUNUH DI KAMARNYA
* Puluhan Koleksi Arlojinya Lenyap
Jakarta, Kompas
Pelukis terkemuka Basoeki Abdullah (78) ditemukan tewas dalam
posisi tertelungkup di kamar tidur di rumahnya, Jl Keuangan Raya No
19, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat pagi (5/11). Basoeki diduga
keras dibunuh perampok, karena puluhan arloji koleksinya bernilai
ratusan juta rupiah dilaporkan telah lenyap. Bagian belakang
kepalanya luka parah, dan dahinya luka memar – yang diduga dipukul
dengan popor senapan angin. Senjata seberat 5 kilogram yang terpatah
dua dari larasnya ditemukan di dekat mayat korban.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan, Letkol (Pol) Drs Adang
Rismanto Jumat sore, sejauh ini latar belakang pembunuhan ini adalah
perampokan. Sedikitnya 43 arloji koleksi almarhum yang disimpan di
kamar telah lenyap. Tas almarhum yang berisi cek dan uang juga sudah
acak-acakan dan kosong. Yang tersisa di tas itu hanya selembar uang
Rp 10.000.

Sampai kemarin sore, polisi masih melakukan pelacakan terhadap
pelaku pembunuhan ini, dan sudah mendengarkan keterangan tujuh orang
saksi, masing-masing Jumiati dan Lasini (keduanya pembantu rumah
tangga), Yudi (satpam), Wahyudi (tukang kebun), Suwito dan Masuki
(sopir pribadi dan sopir kantor), serta Sumadi (adik ipar Wahyudi).
Sumadi ikut dimintai keterangan oleh polisi karena pria ini pernah
dibawa kakaknya singgah di rumah Basoeki ketika ia melamar kerja
sebagai sopir di kawasan itu. Sumadi, warga Telukgong Jakut ini,
tidak diterima jadi sopir Basoeki.

Peristiwa ini segera menjadi kabar duka nasional karena
popularitas Basoeki Abdullah dan posisinya yang kontroversial di
tengah perkembangan seni rupa modern. Dialah tokoh besar yang
“aliran” seninya, Mooi Indie, dikecam keras oleh para pelukis Persagi
(Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang dimotori oleh Agus Djaya dan
Sudjojono.

Posisinya kontroversial, karena banyak kritik menempatkannya di
pinggir kancah seni rupa modern, di pihak lain ujud seninya dengan
mudah mengkhalayak dan digemari secara luas terutama di kalangan
atas. Karya-karyanya yang tenar seperti Joko Tarub, Pangeran
Diponegoro, Rahwana dan Jatayu memperebutkan Dewi Sita, Nyai Loro
Kidul, banyak ditiru para pengagumnya. Kekaguman sampai pada tingkat
tindakan seperti ini tidak banyak “dinikmati” para seniman lain.

Dia tenar sebagai pelukis potret sejumlah kepala negara dan
berbagai orang penting, sehingga dianggap “tokoh duta budaya”.
Pelukis ini meninggalkan pekerjaannya membuat delapan buah lukisan
diri Menristek BJ Habibie dan pakar ekonomi Prof Dr Soemitro.
Sebelumnya, ia melukis tokoh-tokoh Konferensi Gerakan Non Blok di
Jakarta bulan September 1992.

“Praktis tak ada pelukis lain yang bisa menandingi dia dalam
melukis wajah,” kata pelukis kawakan Abas Alibasjah, yang dengan
nada serupa dikuatkan oleh pelukis Hardi. Keduanya termasuk di antara
sejumlah seniman lain yang melawat ke rumah duka kemarin.

Dimakamkan di Mlati, Yogya
Basokei Abdullah pernah menikah dengan wanita Belanda bernama
Josephine pada tahun 1937 di Den Haag, tetapi bercerai tiga tahun
kemudian. Dari perkawinan ini diperoleh seorang putri bernama
Saraswati. Tahun 1944 ia menikahi penyanyi seriosa Belanda, bernama
Maria Michele yang akrab dipanggil Maya.

Tahun 1962, ketika berada di Thailand sebagai pelukis istana
kerajaan, ia menikah dengan Noi, seorang warga negara Thailand.
Perkawinan itu hanya berumur setahun, tanpa membuahkan anak. Lalu,
tahun 1963, Basoeki menikah dengan Nattaya, peserta lomba ratu
kecantikan Thailand, yang sampai kini mendampinginya.

Menurut pihak keluarga, jenazah almarhum disemayamkan di rumah
duka hingga hari Minggu (7/11). Jenazah diberangkatkan ke Yogyakarta
pada hari Minggu pukul 10.00 WIB, setelah Misa Kudus menurut tradisi
Katolik. Jenazah akan langsung dimakamkan di pemakaman Melati, tempat
keluarga Dr Wahidin Sudirohusodo dimakamkan — ia memang salah
seorang cucu Pahlawan Nasional tersebut.

Ditemukan pembantu
Keterangan yang dihimpun Kompas dari tempat kejadian
menyebutkan, korban Basoeki Abdullah yang mengenakan kaos singlet dan
celana dalam ini ditemukan sudah tak bernyawa oleh seorang
pembantunya, Jumiati (30) kira-kira pukul 05.30 pagi kemarin. Waktu
itu Jumiati hendak mengantarkan minuman (kopi, Sustagen HP dan air
putih), serta obat-obatan kepada majikannya itu. Itu merupakan hal
rutin yang dilakukannya setiap pagi oleh pembantu rumah tangga
Basoeki.

Namun Jumiati merasa heran karena pintu kamar tidur majikannya
terkunci, sedangkan anak kunci tergantung di luar. Biasanya kamar
tidur yang berada di lantai pertama itu tidak terkunci. Jumiati
berpikir, mungkin majikannya tidur di kamar majikan perempuannya (Ny
Nattaya, istri Basoeki) di lantai dua. Jumiati lalu membuka pintu
kamar dan mendapatkan majikannya tertelungkup di karpet, posisi
kepalanya di dekat pintu. Darah juga memercik pintu dan lemari di
kamar itu.

Semula Jum -nama panggilannya- menganggap majikannya bercanda.
Namun setelah melihat genangan darah membasahi karpet di kamar yang
ber-AC itu, lemari dan pakaian acak-acakan, Jumiati baru tersadar,
majikannya sudah jadi korban penganiayaan. Pembantu wanita yang sudah
lima tahun bekerja di rumah itu, berteriak histeris, minta tolong.

Pembantu lainnya, Lusiana Lasini (20) dan satpam Yudi yang
menjaga di pos berdatangan. Demikian pula majikan perempuannya yang
tidur di lantai dua, terbangun mendengar jeritan pembantu-
pembantunya. Tubuh Basoeki yang tertelungkup itu sempat dibalikkan
sehingga terlentang oleh penghuni rumah, dengan maksud untuk diberi
pertolongan, karena dikira masih pingsan.

Namun rupanya pelukis kondang ini sudah tak bernyawa lagi.
Jumiati menelpon polisi, dan pada pagi-pagi itu juga petugas Polsek
Metro Cilandak dan Polres Metro Jakarta Selatan berada di tempat
kejadian.

“Kalau memang mau harta, mengapa Bapak harus dibunuh ?” teriak
Ny Nattaya histeris setelah tahu suaminya meninggal dunia karena
dibunuh penjahat.

Sudah tahu situasi
Polisi memperkirakan pelaku kejahatan sudah tahu situasi rumah
korban. Pelaku tampaknya sudah mengamati pagar depan, garasi dan
pintu kamar tidur korban, yang sering tidak terkunci. Tidak ada pintu
yang rusak atau dirusak.

Dengan fakta adanya tiga anjing di rumah korban yang rupanya
tidak menggonggong ketika pelaku masuk ke rumah, ada kemungkinan
pelaku sudah beberapa kali ke rumah atau pernah singgah di rumah
korban. Namun semua petunjuk dan informasi lainnya masih dikumpulkan
petugas reserse Polres Jaksel.

Keberanian pelaku masuk ke rumah korban juga dijadikan bahan
masukan bagi polisi. Pelaku sempat meninggalkan apel yang bekas
digigitnya dan samurai pajangan di lantai dua. Menurut keterangan,
ada dua apel di dapur lantai pertama, yang satu diperkirakan sudah
habis dimakan pelaku, yang satunya lagi digigit pelaku dan sisanya
ditaruh di lantai dua. Sedangkan samurai pajangan diambil dari ruang
tengah dan dibawa ke lantai dua. Diperkirakan, pelaku makan apel
dulu, kemudian naik ke lantai dua, turun ke lantai pertama dan masuk
ke kamar korban yang tidak terkunci. Pelaku juga meninggalkan kotoran
manusia di depan sedan BMW yang diparkir di garasi.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi selepas pukul 02.00 dinihari,
karena menurut pengakuan satpam Yudi yang bertugas malam itu, sampai
pukul 02.00 dinihari ia masih bangun. Tapi selewat jam itu, Yudi
mengaku tertidur.

Menurut sejumlah tetangga yang ditemui Kompas, sebenarnya
siskamling di kawasan Jl Keuangan cukup ketat, sehingga jika ada
orang tak dikenal masuk, cepat ketahuan.

Di tembok di atas tempat pencucian piring – di gang antara
garasi dan dapur – ditemukan beberapa jejak kaki pelaku. Fiberglass
di atasnya juga mudah dibuka. Namun polisi belum bisa memastikan
apakah pelaku masuk atau keluar lewat jalan itu. Bisa jadi jejak-
jejak kaki itu untuk mengelabui polisi.

Di dekat kamar pembantu Jumiati dan Lasini, ada tangga kecil
menuju tempat menjemur pakaian. Ada kemungkinan pelaku masuk atau
keluar melalui tangga itu, kemudian melompati genteng-genteng rumah
penduduk di sebelahnya juga bisa terjadi, kata polisi.

Dua kemungkinan
Tentang tewasnya Basoeki Abdullah, ada dua kemungkinan. Pertama,
pelaku langsung mengambil senapan angin di pojok kamar dan langsung
menghantamkannya ke arah korban.

Kedua, Basoeki terbangun ketika pelaku masuk, dan korban
mengambil senjata anginnya untuk melumpuhkan penjahat. Tapi karena
pelaku – yang usianya diperkirakan di bawah 30 tahun – lebih kuat,
maka senapan angin berpindah tangan, dan Basoeki yang akhirnya jadi
korban penganiayaan.

Nonton TV
Ketika peristiwa terjadi, di rumah itu ada lima orang, yaitu
korban Basoeki Abdullah, istrinya Ny Nattaya, petugas satpam Yudi di
pos depan, dan dua pembantunya Lasini dan Jumiati.

Menurut Lasini, majikan perempuannya, Ny Nattaya pulang ke
rumah sekitar pukul 23.30 menjelang tengah malam setelah menghadiri
undangan di rumah sahabatnya, Ny Martha di kawasan Pondok Indah
Jaksel. Ny Nattaya berangkat dari rumah pukul 20.15 Kamis malam.
Sebenarnya ia mengajak suaminya ikut undangan itu, namun Basoeki
mengatakan tidak ikut.

Malam itu, Basoeki Abdullah menonton TV bersama dua pembantunya,
Lasini dan Jumiati, sampai seusai acara Dunia dalam Berita. “Pokoknya
masih bercanda dan humor dengan kami,” kata Lasini.

Setelah itu, Basoeki masuk ke kamar dan tidur. Sedangkan Lasini
dan Jumiati meneruskan menonton TV sampai pukul 11-12 malam.
Menurut Lasini, sejak ia bekerja di tempat itu sejak empat tahun
lalu, ia belum pernah melihat majikannya Basoeki tidur satu kamar
dengan istrinya, Ny Nattaya. “Tidur mereka selalu pisah,” katanya.

Sedangkan Caecilia Sidawati (21), anak kandung Basoeki , sejak
tanggal 20 Oktober 1993 tidak tidur di rumah itu, dan tidur di sebuah
apartemen di Jakarta. Menurut keterangan, Sidawati yang berdarah
Thailand ini sempat ‘ribut mulut’ dengan orangtuanya. Gadis lulusan
sebuah SMA di kawasan Blok M ini belum bekerja. Ia sudah punya pacar,
George, yang juga belum bekerja.

Duka nasional
Sejumlah seniman yang dihubungi, dalam bahasa masing-masing
menyiratkan kesan bahwa meninggalnya Basoeki Abdullah mestinya
menjadi semacam “duka nasional”. Keempuan pelukis ini, dan
kontroversi yang mengiringi setiap langkah keseniannya, membuatnya
menjadi salah satu raksasa seni lukis Indonesia modern.

Ketenarannya sudah melampaui batas-batas yang lazimnya diperoleh
oleh seniman yang kuat, justru karena posisinya yang bertahun-tahun
diserang di dalam kerangka ideologi seni, dan ditunjang oleh
manifestasi seninya yang dianggap “gampang dinikmati”.

Kedekatannya dengan kalangan atas, yang glamour, dan
penampilannya yang selalu “necis” (apalagi dibandingkan dengan “trade
mark” Affandi berupa sarung dan kaos oblong), membuatnya menjadi
istimewa.

Pekerjaannya membuat lukisan potret sejumlah kepala negara atau
tokoh nasional berbagai negeri, semakin mengokohkan kehadirannya di
kalangan masyarakat elite. Ia disayang oleh Bung Karno, kemudian oleh
Pak Harto, dan pernah sekitar 10 tahun menjadi pelukis istana di
Bangkok.

Pelukis kelahiran Solo 27 Januari 1915 ini sangat teguh pada
pendirian, seperti diungkap oleh pelukis Sri Warso Wahono. Itu
sebabnya ia menjadi sasaran tembak ketika para pelukis sedang marak
semangat nasionalismenya seperti pada zaman Persagi di tahun 1930an.

Sikapnya yang tidak pernah membalas serangan ini, menurut
pelukis Hardi, membutuhkan tingkat kebijaksanaan yang luar biasa.
Sebaliknya, menurut pelukis Dede Eri Supria, almarhum tidak pernah
mengritik, tetapi malah ngemong terhadap gaya apapun dari pelukis
lain.

“Dia pelukis naturalis terbesar yang dimiliki Indonesia,” tandas
Hardi. “Dia raja di bidang teknik, meski barangkali pendalaman
terhadap obyeknya bisa dianggap agak kurang”.

Pada soal sama, pelukis Saptohoedoyo dari Yogya mengagumi
idenya yang berbeda dengan pelukis naturalis lain, juga berbeda dari
pelukis kawakan seperti Dullah.

Hardi malah minta agar lembaga kesenian resmi meninjau lagi
penilaian dan sikap mereka di dalam mendudukkan seorang seniman. Ia
menilai, Basoeki Abdullah yang hampir tidak pernah disertakan di
dalam berbagai pameran besar, karyanya dipuja dan memasyarakat.

Ungkapan duka cita juga berdatangan dari berbagai kota. Dari
Yogya, seniman lukis dan tari Bagong Kussudiardja terisak mendengar
kabar ini. “Saya gemetar mendangar Pak Bas dibunuh. Saya langsung
melukis dia dari foto yang saya miliki,” katanya.

“Budaya bangsa ini sudah dekade. Seniman kok dibunuh. Dia itu
tokoh panutan,” kata Nyoman Gunarsa, pelukis tenar di Yogya.
“Dia tidak boleh dilupakan, karena Pak Basoeki turut
memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional,” kata Suteja Neka,
dari Museum Neka di Ubud, Bali.

Tampak hadir melayat di rumah duka pada hari Jumat antara lain
Mendikbud Wardiman Djojonegoro, mantan Mendikbud Fuad Hassan, mantan
Menag Munawir Sjadzali, tokoh Angkatan 45 Jusuf Ronodipuro, dan
sejumlah seniman dari Jabotabek. (ksp/tjo/ary/pom/hrd)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s