Ayah Nurzanah: Kami Tak Pernah terima Uang dari Amd

KOMPAS
Selasa, 16 Nov 1993
Halaman: 1
Penulis: AA/KSP

Ayah Nurzanah:
KAMI TAK PERNAH TERIMA UANG DARI AMD
Jakarta, Kompas

Ditangkapnya Amd alias Nd (23) sehubungan dengan terbunuhnya
pelukis ternama Basoeki Abdullah, menimbulkan dampak buruk bagi
keluarga kekasih Amd tersebut, Nurzanah (16). Mereka takut dituduh
ikut “merasakan” hasil kejahatan yang dilakukan pria kelahiran Desa
Seusoh, Aceh Selatan itu.

“Sungguh, kami tak pernah terima uang sepeser pun dari Amd,
dan tak satu pun anggota keluarga yang tahu apa pekerjaan Amd selama
ini,” ucap Musthopa (51), ayah Nurzanah.

Sementara itu anggota Polri yang berhasil mengungkap kasus
pembunuhan Basoeki Abdullah akan mendapat penghargaan dari Kapolri
Letjen (Pol) Drs Banurusman dan Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Drs
M. Hindarto. Penegasan ini disampaikan dua jenderal polisi seusai
peringatan HUT ke-48 Korps Brimob Polri di Lapangan Pusbrimob Polri,
Cimanggis, Bogor, Senin pagi (15/11).

Musthopa menegaskan, merasa perlu menegaskan hal itu karena
takut dinilai masyarakat turut menikmati uang hasil kejahatan Amd
selama ini.

“Saya setiap hari banting tulang menjual jamu dan rokok dari
sore hingga pagi hari di Pasar Ciputat, demi memberi makan keluarga.
Kalau punya uang ngapain susah-susah, lebih baik beli toko hingga
tak perlu tiap malam begadang demi sesuap nasi,” lanjut Musthopa.
Musthopa menceritakan, sejak muda ia sudah terbiasa hidup dari
keringat sendiri dan halal. Ia pernah puluhan tahun menjadi tukang
becak di kawasan Karet Kubur, Jakpus, dan telah 14 tahun berdagang
jamu di Pasar Ciputat.

Itu penyebab mengapa ia sangat sakit hati terhadap pertanyaan
sinis kepada keluarganya tentang kasus tersebut. Bahkan ada yang
dengan tega bilang ia silau dengan uang yang disodorkan Amd,
sehingga tega “menjual” putrinya tersebut.

Tidak setuju
Nurzanah adalah anak keempat (dan satu-satunya perempuan) dari
tujuh bersaudara, putra pasangan Musthopa dan Maisitoh, yang
meninggal tahun 1990. Sebelumnya (13 tahun lalu), Musthopa menikah
lagi dengan Cicih (35) namun sama sekali tak dikarunia keturunan.

Cicih sudah dianggap ibu kandung oleh anak-anak Musthopa, bahkan
yang paling kecil, Ali Nurdiansyah (5) tak mau dipisahkan sejenak
pun dari ibu yang berasal dari Sukabumi itu.

Tentang kehadiran Amd dalam kehidupan Nurjanah, Cicih dan
Musthopa serentak menjelaskan bahwa sejak semula mereka tak
menyetujui hubungan yang dimulai sejak 7 bulan lalu itu.

“Sejak semula saya sudah punya firasat jelek terhadap hubungan
mereka. Gimana kita mau setuju, pekerjaan atau bahkan alamatnya saja
tak jelas. Setiap ditanya, Amd selalu mengelak dengan berbagai
alasan. Alhamdulillah, hingga saat ini menurut pengakuan Nurzanah,
tidak ada apa-apa bagi dirinya,” ucap Cicih.

Cicih mengungkapkan, bukti ketidaksetujuan itu adalah upaya
mereka untuk “menyembunyikan” Nurzanah setiap Amd ingin bertemu.
Bahkan mereka sudah berupaya memisahkan pasangan itu dengan
memasukkannya ke pesantren di Cikretek, Sukabumi, Jabar.

Seusai tamat SMPN, Nurzanah sudah mendaftar di SMEA Islamiyah,
Ciputat. Namun karena melihat semakin gencarnya upaya Amd menemui
Nurzanah, Musthopa memindahkan putrinya ke SMEAN Cicurug, Sukabumi.
Dan setelah Amd tahu tentang kepindahan Nurzanah, kembali ia
dipindahkan ke SMEA sebuah pesantren di Cikretek, Sukabumi hingga
sekarang.

Upaya itu sempat berhasil, Amd tak lagi menemui Nurzanah.
Karena setiap dirinya datang menanyakan kekasihnya, selalu mendapat
jawaban bahwa Nurzanah dibawa oleh kakeknya ke Sukabumi. Lebih dari
3 bulan sebelum pertemuan terakhir mereka, Amd dan Nurzanah tidak
pernah bertemu.

Baru sehari sesudah peristiwa pembunuhan, pukul 18.00 WIB Sabtu
(6/11), Amd tiba-tiba muncul di Pasar Ciputat, tempat Musthopa
berdagang. Ketika disapa oleh Musthopa, ke mana saja selama tiga
bulan ini, Amd menjawab baru pulang dari Sulawesi Selatan. Melihat
neneknya yang sakit.

Setelah ke pasar, Amd lalu ke rumah Musthopa. Ia bertemu
Nurzanah yang kebetulan sedang libur sekolah dan pulang ke Jakarta.
Di rumah itu Amd bercerita, sudah dijodohkan saudara-saudaranya di
Sulawesi, namun karena dirinya cinta sama Nurzanah ia tak mau dan
kembali lagi ke Jakarta.

Esok paginya, Amd kembali muncul di rumah itu dan memaksa ikut
mengantar Nurzanah kembali ke pesantren. Akhirnya, Cicih, Nurzanah,
serta Amd berangkat ke Cikretek, Sukabumi. Setelah sampai di
pesantren, Nurzanah tinggal, Cicih dan Amd ke Cicurug (tempat
Parmawi, kakek Nurzanah). Hari itu pula Cicih kembali ke Jakarta,
sedang Amd tinggal di Cicurug.

Adang Rismanto
Sehari kemudian (Senin 8/11 malam), Kapolres Jaksel Letkol
(Pol) Drs Adang Rismanto, yang sebelumnya bekerja keras melacak dan
mengumpulkan informasi, bersama tiga orang anak buahnya muncul di
rumah Musthopa. Setelah diberi tahu bahwa Amd di Cicurug, malam itu
pula Adang meminta agar diantar ke tempat tersebut. Abang Nurzanah,
Mulyo (22), bersedia mengantar rombongan Adang.

“Saya bersedia mengambil risiko dan dibenci oleh Amd karena
panggilan nurani saya untuk menunjukkan kebenaran, sekaligus
membuktikan bahwa keluarga kami tidak terlibat dengan kasus
tersebut. Walau tidak berharap penghargaan dari pihak kepolisian,
namun saya berharap agar Pak Adang memegang janjinya untuk
melindungi keluarga kami dari kemungkinan tindak kekerasan akibat
terungkapnya kasus pembunuhan Basuki tersebut,” ucap Mulyo.

Ia menceritakan, sesampainya di rumah Parmawi, Letkol (Pol)
Adang dan kawan-kawan segera membekuk Amd yang sedang tidur. Dalam
perjalanan ke Jakarta, Mulyo bahkan sempat diajak makan di warung
nasi pinggir jalan oleh Letkol Adang, sementara Amd tak bersedia
ikut makan dan cuma diberi sebotol Sprite saja.

“Dalam proses penangkapan saya lihat sendiri, Pak Adang tidak
pernah membentak Amd, apalagi membentak keluarga saya. Itu yang
juga membuat saya bersedia membantu polisi menangkap Amd,” tambah
Mulyo.

Dengan tegas Mulyo mengingatkan, Parmawi (kakeknya) memberi
tumpangan tidur kepada Amd, bukan berarti melindungi penjahat, tapi
karena rasa hormat terhadap tamu. Apalagi Amd adalah “kawan” cucunya,
Nurzanah, sehingga Parmawi bersedia memberi tumpangan bagi Amd.

Ditambahkannya, kalau kakeknya tahu bisa jadi Amd akan ditangkap
oleh Parmawi, sebab kakek berusia 70 tahun itu adalah pensiunan
anggota polisi (reserse) yang bertugas di Serpong, Tangerang.

Penghargaan
Anggota Polri yang berhasil mengungkap kasus pembunuhan Basoeki
Abdullah akan mendapat penghargaan. Bentuk penghargaan ini bermacam-
macam, antara lain kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih
tinggi. Kapolri Letjen (Pol) Drs Banurusman Astrosemitro dan Kapolda
Metro Jaya Mayjen (Pol) Drs M Hindarto mengungkapkan hal ini
menjawab wartawan seusai peringatan HUT ke-48 Korps Brimob di
Pusbrimob Cimanggis, Bogor, Senin pagi (15/11).

“Pimpinan Polri pasti akan memberikan penghargaan kepada tim
yang telah bekerja keras mengungkap pembunuhan ini. Karena
bagaimanapun keberhasilan tim ini sudah mengangkat nama Polri.
Mereka bekerja teamwork dan penuh kesungguhan. Saya akui keberhasilan
ini juga berkat bantuan masyarakat dan instansi samping. Saya akan
perhatikan semuanya,” kata Kapolri Letjen Banurusman.

Sedangkan Kapolda Metro Jaya Mayjen M. Hindarto yang dihubungi
terpisah pada acara HUT Brimob, juga menjanjikan akan memberikan
penghargaan kepada anggotanya, tapi semuanya disesuaikan dengan
peraturan yang berlaku.

Menurut Kapolda Hindarto, penghargaan itu bentuknya macam-
macam. Misalnya, bagi Kapolres diberikan kesempatan masuk Seskogab
atau Sekolah Staf Komando dan Gabungan, dan kepada para bintara
diberikan kesempatan masuk Secapa atau Sekolah Calon Perwira. “Ini
‘kan suatu penghargaan juga. Pokoknya kita lihat sesuai perannya
masing-masing, terutama mereka yang bergerak langsung di lapangan,”
kata Kapolda. Jumlah anggota Polri yang terlibat dalam tim ini
sekitar 50 orang.

Sementara itu polisi masih meneliti surat wasiat almarhum
Basoeki Abdullah mengenai harta warisannya. Nama Nattaya Narrerat
(46), istri Basoeki tidak tercantum dalam surat wasiat itu. Sumber
di kepolisian mengatakan, pihaknya masih meneliti keabsahan surat
wasiat tersebut.

Senin kemarin Tim LBH Generasi Muda Indonesia yang dipimpin
oleh Paskalis Pieter SH juga telah menjenguk tersangka Amd dan Why
di Mapolres Jaksel. Seorang tersangka lagi, Abd, pada hari yang sama
baru memberi surat kuasa kepada Tim LBH GMI tersebut. (aa/ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s