45 Tahun Polwan: Tak Ketinggalan dengan Profesi Lainnya

KOMPAS

Rabu, 01 Sep 1993

Halaman: 1

Penulis: KSP

45 Tahun Polwan
TAK KETINGGALAN DENGAN PROFESI LAINNYA

SIAPA bilang profesi Polisi Wanita (Polwan) tertinggal dari
profesi lain di lingkungan non-ABRI? Jika kita bandingkan, memang,
dalam profesi di luar lingkup ABRI, sudah banyak wanita yang meraih
sukses di berbagai bidang, menjabat pimpinan di instansi pemerintah
dan perusahaan swasta. Tapi benarkah karier Polwan agak tertinggal
dari profesi lainnya?

Kesan “tertinggal” itu tidak sepenuhnya benar. Toh Polwan
Indonesia sudah sepantasnya berbangga hati karena dalam usianya ke-
45, Rabu 1 September 1993 ini, sudah dua Polwan yang meraih pangkat
brigadir jenderal, yaitu Brigjen Polisi (Purn) Ny Jeanne Mandagi SH,
mantan Kadispen Polri yang sudah pensiun dan kini staf ahli Menteri
Kehakiman RI, serta Brigjen Polisi Dra Ny Roekmini Koesoemo Astoeti,
yang masih aktif bertugas di Mabes ABRI.

Lagipula, “Organisasi Polri yang sedemikian besarnya dengan
jumlah anggota sekitar 172.000 orang, tentu tidak bisa dibandingkan
dengan perusahaan yang jumlah karyawannya paling banyak 4.000-5.000
orang,” kata Brigjen Polisi Purnawirawan Ny Jeanne Mandagi SH,
Polwan pertama di Indonesia yang mendapat pangkat brigjen.

“Karier wanita di Polri atau ABRI tidak bisa disamakan dengan
perusahaan swasta. Bisa saja seorang wanita jadi direktur sebuah
bank, selain karena kepintarannya juga karena faktor lain, misalnya
ia memang dipercaya oleh ayahnya yang lebih dulu memimpin perusahaan
keluarga. Jadi ada faktor primordial. Sedangkan dalam karier di
Polri atau ABRI tidak bisa begitu. Tidak ada hal-hal primordial di
sini. Semuanya tergantung prestasi dan kesempatan yang ada,” kata
Kepala Sekolah Polwan Ciputat, Letkol (Pol) Dra Noldy Ratta.
***

JUMLAH anggota Polwan di jajaran Polri saat ini tercatat 5.364
orang atau sekitar tiga persen dari jumlah seluruh personel Polri.
Dari jumlah itu 259 orang perwira, selebihnya bintara. Mereka ini 40
persen di antaranya bertugas operasional dan 60 persen di bidang
administrasi dan pembinaan.

Lingkup pekerjaan Polwan bervariasi. Begitu lulus pendidikan,
baik Sekolah Bintara, Sekolah Calon Perwira maupun Sekolah Perwira
— semuanya dipusatkan di pendidikan Sekolah Polwan Ciputat —
seorang Polwan bisa ditempatkan di bidang lalu lintas, reserse,
bimmas (bimbingan masyarakat), intelijens dan sebagainya.

Seorang Polwan yang bertugas mengatur lalu lintas misalnya,
bisa kelihatan lebih simpatik di jalan raya. Mereka terlihat ramah
dan dekat dengan anak-anak ketika menjalankan Program Polisi Sahabat
Anak, juga akrab dengan para remaja dalam Program PKS (Pendidikan
Keamanan Sekolah). Atau seorang Polwan yang ditugaskan di bidang
reserse, tak segan-segan ikut begadang semalaman mengejar, menangkap
penjahat, memeriksa dan menggeledah penjahat wanita. Tidak ada lagi
perbedaan antara pekerjaan polisi laki-laki dan polisi wanita.

Jika kita lihat saat ini, memang Polwan yang memegang jabatan
komando operasional tercatat baru tiga orang yaitu Kepala Pos Polisi
Taman Mini Indonesia Indah di Polres Jaktim, serta Kapolsek di Bogor
dan Surakarta. Mengapa “hanya” segelintir Polwan yang baru diberi
kepercayaan menjabat komandan operasional? Apakah karena faktor
kodratnya sebagai wanita sehingga kesempatan jadi komandan lebih
banyak dipercayakan kepada polisi laki-laki?

Yang pasti, Polwan bukanlah sekadar pelengkap dan penghias
Polri. Dalam perjalanan usianya yang cukup panjang, Polwan sudah
banyak memberi warna dan denyut bagi Polri. “Kodrat sebagai wanita
bukanlah halangan bagi Polwan untuk berkembang. Jangan terpukau pada
kodrat. Kalau itu yang dilihat, Polwan tak akan maju-maju,” kata
Letkol Dra Noldy Ratta yang sudah 24 tahun menjadi Polisi Wanita. Ia
tetap berkeyakinan, kesempatan Polwan memegang jabatan komandan yang
lebih tinggi, seperti Kapolres dan Kapolda tetap terbuka. “Kalau
persyaratannya terpenuhi, mengapa tidak ?” lanjutnya.

Dalam kurikulum pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa)
Polwan misalnya, sudah diarahkan pendidikan untuk menjadi seorang
Kapolsek, Kepala Unit Sabhara dan penyidik reserse. Jadi, kata Noldy
Ratta, tidak ada alasan bagi seorang perwira Polwan untuk tidak
mampu memimpin Polsek, ujung tombak terdepan pelayanan polisi kita.

“Semua tergantung bagaimana yang bersangkutan mengaplikasikan
pendidikan yang diterimanya secara baik. Selain itu kemampuan kerja
untuk melaksanakan tugas harus diperlihatkan, agar bisa meyakinkan
pimpinan bahwa ia mampu. Selain kepribadian, mentalnya harus baik,
kejuangan dan disiplinnya harus tinggi,” kata Noldy Ratta.

Brigjen Purn Ny Jeanne Mandagi melihat, untuk menjadi seorang
Kapolres atau Kapolda, seseorang tidak bisa mendadak begitu saja
karena harus melalui jenjang karier yang bertahap. Untuk menjadi
Kapolres misalnya, seorang polisi harus lulus Sespim (Sekolah Staf
dan Pimpinan) Polri dulu. Pendidikan Sespim Polri di Lembang dilalui
selama sembilan bulan. Demikian pula seseorang yang akan jadi
Kapolda, harus mengikuti pendidikan Seskogab atau Lemhannas.

Dengan kenyataan masih sedikitnya Polwan yang menjabat Kepala
Kepolisian Sektor (Kapolsek) dan Kepala Pos Polisi, tentunya sulit
untuk mewujudkan keinginan adanya seorang Polwan menjabat Kapolres,
Kapolwil atau pun Kapolda dalam waktu dekat ini.

Dalam kalimat lain, Jeanne Mandagi mengungkapkan, berhasil
tidaknya seorang polisi jangan cuma dilihat jika ia sudah duduk
menjadi komandan seperti Kapolsek, Kapolres, Kapolwil atau Kapolda.
Sebab, tugas-tugas di bidang keadministrasian pun sama pentingnya.

“Keberhasilan tugas di lapangan, tidak akan berarti jika tidak
didukung tugas di bidang administrasi. Jadi tidak benar jika ada
pendapat tugas lapangan lebih jago dibandingkan tugas sebagai staf.
Kan banyak sekarang tugas seorang staf adalah seorang pemikir. Jadi
jangan meremehkan polisi yang bertugas di staf,” katanya.

Pernyataan ini tentu bisa berarti, keberhasilan tugas seorang
polisi tidak hanya dilihat jika yang bersangkutan sudah menjadi
seorang komandan operasional di lapangan, seperti Kapolres misalnya.

Meskipun kesan kebanyakan orang saat ini memang masih demikian.
Sebab, toh banyak juga beberapa perwira menengah Polwan yang
saat ini bukan menjabat Kapolres, Kapolwil atau Kapolda, tapi mereka
menduduki posisi cukup penting dalam Polri. Ambil contoh, misalnya
Sekretaris Direktur Pendidikan Polri Kolonel (Pol) Dra Endang
Yudhana, Sekretaris Dinas Penelitian dan Pengembangan Polri Kolonel
(Pol) Dra Erda Tarigan, Kasubag Registrasi dan Identifikasi
Ditlantas Polri Kolonel (Pol) Dra Watie Sumarsono, Kepala Sekolah
Bahasa Polri Letkol (Pol) Dra Rosiana dan beberapa Kepala Cabang
Laboratorium Forensik di daerah dijabat perwira menengah Polwan.

Mereka bisa saja disebut sebagai manajer-manajer menengah di
lingkungan Polri. Artinya, profesi Polwan pun tidak kalah dan
ketinggalan dari profesi lainnya di lingkup non-ABRI. Tapi mampukah
Polwan-Polwan lainnya menjadi manajer-manajer tingkat menengah,
bahkan lebih tinggi di lingkungan Polri? Semuanya tergantung pada
masing-masing Polwan, apakah bisa menjawab kesempatan yang diberikan
pimpinan Polri atau tidak…(adhi ksp)

FOTO ilustrasi di blog ini

LINK TERKAIT http://www.polri.go.id/aboutus/polwan.php

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s