Renungan Hari Bhayangkara: Polisi Jakarta yangCepat dan Tanggap, Hanya Angan-angan?

KOMPAS

Kamis, 01 Jul 1993

Halaman: 7

Penulis: KSP


Renungan Hari Bhayangkara:
POLISI JAKARTA YANG CEPAT DAN TANGGAP, HANYA ANGAN-ANGAN?

PENJAMBRETAN yang menimpa diri Santi sangat mengejutkan
mahasisiwi itu. Di siang bolong yang terik, ia baru saja turun dari
bus kota, kemudian berjalan kaki di sekitar perempatan Grogol
Jakarta Barat. Tiba-tiba tas yang disandangnya, dijambret dari
belakang oleh pria tak dikenal. Santi kaget, tapi cepat tersadar,
dirinya telah jadi korban kejahatan. Yang diingatnya, penjambret
menggunakan motor warna hitam kabur ke arah Jl Kyai Tapa.

Dalam keadaan shock, Santi mencoba melapor ke kantor polisi
terdekat. Ia berharap polisi langsung tanggap. Dalam bayangan Santi,
polisi punya alat komunikasi handy-talky, pasti bisa mengontak
polisi di lapangan, agar memblokir jalan di arah barat. Tapi ketika
ia melapor ke kantor polisi, petugas berkesan ogah-ogahan. Sersan
itu mendengarkan kronologis kejadian singkat. Sang bintara menggeser
mesin tik tua dengan pita yang sudah buram, lalu mengetik laporan
penjambretan. Setelah mengetik, bintara itu cuma bilang, laporan itu
akan disampaikan ke atasannya, untuk dipelajari lebih jauh.
***

Santi, mahasiswi fakultas hukum universitas swasta di Jakarta
ini, lalu ingat cerita kakaknya yang baru pulang belajar dari
London, Inggris, tentang bagaimana cepatnya polisi New Scotland Yard
tiba di TKP (tempat kejadian perkara). Hanya dengan menekan nomor
telepon 999, dalam waktu tiga menit polisi tiba di lokasi kejadian.

Santi masih ingat betul cerita sang kakak. Suatu ketika rumah
induk semang kakaknya kedatangan “tamu tak diundang”, pemilik rumah
tak berada di tempat. Waktu hendak pulang, ia melihat sebuah mobil
diparkir di depan pagar dan kelihatan seorang pria mengendap-endap.

Sang ibu bergegas ke telepon umum, lalu menghubungi nomor telepon
999. “Ada mobil mencurigakan di depan rumah di kawasan Bromley,”
lapor sang ibu ke operator CCC (Central Command Complex), New
Scotland Yard, London.

Operator mencatat detil-detil peristiwa, dan menasihati pelapor
untuk tetap diam di boks telepon umum dengan tenang, sampai mobil
polisi tiba. Sang operator kemudian mengidentifikasi callbox,
mengecek daerah Bromley dengan kamus geografi. Setelah diketahui
Bromley yang dimaksud adalah Bromley di daerah Kent, bukan di daerah
Bow, sang operator menenangkan pelapor, “Tetaplah tinggal di tempat,
akan tiba mobil polisi beberapa menit lagi…”

Betul saja. Sekitar dua-tiga menit kemudian, sebuah mobil
patroli tiba di tempat kejadian. Polisi sempat melihat burung-burung
di rumah nyonya pelapor berterbangan. Tetangga sebelah rumah mengaku
melihat sebuah mobil van meninggalkan tempat itu satu menit yang
lalu, hampir pukul 16.30. Petugas patroli melapor ke kantor pusat,
yang kemudian memberitahukan kepada semua patroli jalan kaki lokal
agar mengamati sebuah mobil van yang dicurigai membawa barang hasil
curian.
***

KISAH Santi yang dijambret di perempatan Grogol Jakarta Barat
dengan segala kecuekan polisi menerima laporan, dan cerita bagaimana
cepatnya polisi metropolitan London New Scotland Yard menanggapi
laporan warga, bukanlah mengada-ngada. Memang, tidak pada tempatnya
membandingkan polisi Indonesia yang usianya baru 47 tahun dengan
segala keterbatasan yang ada, dan polisi Inggris yang sudah berusia
150 tahun dengan segala kecanggihan teknologinya.

Tapi seperti kata Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Drs Moch
Hindarto, masalah kekurangan dana atau kalahnya teknologi dari
polisi Inggris dan Jepang, bukanlah suatu excuse. Meskipun masih
dihadapi masalah kekurangan bahan bakar dan kendaraan operasional
yang suka mogok (karena sudah tua), polisi Jakarta harus menggunakan
otaknya untuk bisa bergerak cepat ke TKP dan melayani masyarakat
sebaik-baiknya. Ini kembali pada suatu jiwa Tekadku Pengabdian
Terbaik. Berbagai kiat harus diupayakan untuk menumbuhkan tekad itu
di seluruh anggota Polri.

Kapolda Metro Jaya mengakui, banyak polisi yang belum sadar
untuk sungguh-sungguh melayani masyarakat. Mereka suka menunda-
nunda, pokoknya nanti dululah. Padahal, mudah atau sulitnya
pengungkapan suatu kasus, dilihat dari cepat lambatnya polisi datang
ke TKP. Kecepatan tiba di TKP memang merupakan salah satu kunci
berhasil tidaknya mengungkap kasus. Tapi kenyataan menunjukkan,
anggota polisi kita masih suka ogah-ogahan, kata Kapolda.

Tampaknya, yang perlu diingatkan kembali, pentingnya “buku
penjagaan” di kantor-kantor polisi. Kalau misalnya ada warga melapor
pukul delapan, pukul berapa perwira jaga memberangkatkan anggotanya
ke TKP ? Berapa jam (bukan hitungan menit) setelah korban kejahatan
melapor ke polisi ?

Selain itu, selama ini masih ada anggapan yang melekat dalam
masyarakat, “melapor kehilangan ayam, akhirnya bisa kehilangan
kambing.” Artinya, masyarakat yang sudah kesusahan, harus pula
mengeluarkan uang jika melapor ke kantor polisi.

Kalau mengingat-ingat cerita dan pengalaman beberapa rekannya,
Santi jadi berpikir dan berangan-angan, kapan polisi metropolitan
Jakarta bisa cepat menangani laporan masyarakat korban kejahatan ?
Gadis itu ingat pesan mantan Kapolri Jenderal Kunarto beberapa
waktu lalu, “Ini semua kembali pada mental anggota Polri. Mereka
harus memiliki ikrar, Tekadku Pengabdian Terbaik.” Tapi apakah itu
semua cuma angan-angan belaka ? Entahlah. (robert adhi ksp)

FOTO di blog ini kunjungan ke Akademi Kepolisian Semarang saat peringatan Hari Bhayangkara, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.polri.go.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s