Kolom Blog Adhi Ksp: Polisi (1)

Kolom Blog Adhi Ksp

Polisi (1)

Pengantar
Mulai hari ini, blog ini tidak hanya memuat kliping berita saya yang pernah dimuat di Surat Kabar Harian Kompas maupun di Kompas online. Isi blog ini akan diselingi dengan catatan harian, renungan reflektif dan uneg-uneg pribadi tentang apa saja. Sebenarnya saya ingin membuat blog lain agar blog ini tidak terganggu. Tapi setelah saya pikir-pikir, lebih baik isi blog ini dikombinasi, agar orang tak bosan membacanya. Terima kasih untuk Susi Ivvaty, rekan saya dari Kompas, yang memberi saran soal ini. Juga komentar Pak Haji Nasir dan beberapa teman lain di Kompas (EKI, WSI, MDN, thanks ya) soal blog ini, memberi saya semangat untuk melanjutkan dan terus meng-update blog ini. (Adhi Ksp)

Hari ini saya ingin menulis tentang polisi. Mengapa polisi? Saya “bergaul” dengan polisi cukup lama. Maksudnya menjadi wartawan bidang kepolisian sejak Kepala Polri dijabat Pak Moch Sanoesi, dan Kepala Polda dijabat Pak MH Ritonga. Waw, sudah lama sekali ya.

Kalau saya baca ulang tulisan saya tentang Bapak Polisi Indonesia Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang meninggal dunia tahun 1993 silam, wah sungguh Pak Soekanto polisi yang luar biasa. Saya teringat pernah mewawancarai Pak Said Soekanto yang duduk di kursi rodanya dalam suatu acara di Jakarta, dua atau tiga tahun sebelum beliau wafat. Rambutnya putih dan suaranya kurang terdengar jelas lagi. Usia Pak Said Soekanto waktu itu sudah 80-an. Tapi masih sering muncul dalam acara-acara akbar kepolisian. Saya masih menyimpan foto kenang-kenangan sedang berdua dengan Pak Said Soekanto. Waktu itu kami dipotret oleh fotografer Dispen Polda Metro Jaya.

Sungguh itu foto kenang-kenangan, karena Pak Said Soekanto, polisi yang luar biasa, pemimpin pertama Kepolisian kita, peletak dasar-dasar Kepolisian, yang sangat dihormarti. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Polri di Kramatjati. Saya baca lagi komentar Pak Awaloedin Djamin yang menyebutkan Pak Said Soekanto polisi yang sederhana. Sampai akhirnya hayatnya, beliau hanya punya rumah sederhana di Kompleks Polri Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Dalam hati saya berpikir, sungguh berbeda nasibnya dengan kondisi saat ini. Betul-betul polisi langka. Saya merasa “beruntung” bisa menulis in memoriam Pak Soekanto di Kompas, tahun 1993 lalu.. Pak Said Soekanto memang tak ada duanya. Disegani, dihormati, punya kharisma besar.

Saya juga pernah menulis panjang tentang Pak Awaloedin Djamin, yang pernah menjadi Sekretaris Pak Said Soekanto dan menjabat Kepala Polri, Menteri Tenaga Kerja, Duta Besar Indonesia untuk Jerman. Semasa Pak Awaloedin menjabat Dekan PTIK, saya beberapa kali meminta komentar beliau. Suaranya cepat dan beliau tetap selalu bersemangat. Pak Awal menginginkan wajah Polri semakin baik.

Pernah suatu hari kami bertemu di Bandara Schipol Amsterdam, eh Pak Awal masih ingat lho sama saya. Ingatannya luar biasa. Pak Awaloedin ini polisi yang luar biasa. Saya pernah datang ke kantornya di Menara Jamsostek, bersama senior saya Bapak Indrawan SM, untuk mewawancarainya. Hasil wawancara itu bisa dibaca di blog ini mailto:adhikusumaputra.blogspot.com/search/label/University%20of%20Pittsburg%20Pensylvania. Pandangannya tentang Polri jauh ke depan, menginginkan Polri maju dan berkembang seperti halnya di negara maju.

Saya juga beruntung bisa berkenalan dengan Pak Kunarto. Beliau Kepala Polri yang sederhana, yang menginginkan Polri menjadi polisi yang bisa diandalkan. Mottonya Tekadku Pengabdian Terbaik dipasang di seluruh markas polisi sampai ke pospol.

Saya kutip pernyataan Pak Kunarto, “Menciptakan polisi baik, setidaknya harus ada lima hal dipenuhi.Inputnya baik, orang-orangnya yang terpilih. Dididik baik, dilatih baik, dilengkapi dengan metoda yang baik, dan welfare yang baik. Meskipun welfare pas-pasan, tapi dilandasi pengabdian terbaik,hasilnya bisa juga baik. Ini yang kami pompakan terus. Tapi apa bisa terus-terusan ? Mungkin satu tahun, mereka muntah juga. Kok cuma disuruh ngabdi terus, ya...”

Mungkin sampai sekarang, 15 tahun setelah wawancara Pak Kunarto itu diterbitkan, kesejahteraan polisi masih pas-pasan. Saya pernah ke Brunei bersama Pak Kunarto. Waktu itu kami sempat berkunjung ke kantor polisi dan rumah polisi. Waw, anggota polisi di Brunei punya rumah sendiri dan minimal satu mobil sendiri. Begitulah kalau menjadi polisi di negara kaya seperti Brunei.

Suatu hari kelak, kesejahteraan polisi kita pasti lebih baik. Tapi mungkin nggak sih? Ya mungkin saja kalau keuangan negara kita dikelola benar. Tutup semua kemungkinan uang negara dikorupsi. Uangnya dialokasikan untuk kenaikan gaji. Kalau gaji polisi cukup, kesejahteraan terjamin, mungkin anekdot sinisme “lapor ayam kehilangan kambing” berangsur akan hilang.

Bukan hanya gaji polisi, tapi gaji anggota TNI dan PNS harus dinaikkan. Sekarang gaji dan tunjangan anggota DPR terus-terusan naik, anggota DPRD di daerah-daerah juga demikian, bagaimana dengan penghasilan prajurit TNI, anggota Polri dan PNS?

Banyak yang bilang, gaji yang rendah ada ada kaitan dengan kinerja, juga munculnya oknum polisi yang “nakal”. Dulu polisi Hong Kong dikenal korup, sering kongkalikong dengan penjudi, mafia Triad. Ini bisa kita amati dalam film-film Hongkong bertemakan kisah kehidupan polisi. Tapi setelah ada political will yang kuat, polisi-polisi nakal di Hong Kong, berangsur berkurang. Pasti tetap ada satu-dua, tapi lebih banyak yang baik.

Polisi Indonesia? Kalau kita tanya Kepala Polri, Kepala Polda atau pejabat Polri yang berwenang dari dulu sampai sekarang pun, mereka semua punya keinginan kuat mengubah wajah Polri ke arah lebih baik. Dari dulu, selalu ada upacara pemberhentian tidak hormat polisi nakal, yang disaksikan banyak polisi lainnya. Sekarang zaman lebih transparan. Pengawasan lebih ketat. Kita berharap lebih banyak polisi “lurus”.

Tapi di zaman serba konsumtif di mana banyak orang mendewakan uang, sungguh sulit menemukan polisi seperti Pak Said Soekanto atau Pak Hoegeng Iman Santoso, polisi langka dan sederhana. Salah siapa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s