Sebuah Gebrakan Baru PTIK

KOMPAS

Rabu, 12 Feb 1992

Halaman: 12

Penulis: KSP


SEBUAH GEBRAKAN BARU PTIK

MENGINJAK usia ke-46 pada tahun 1992 ini, Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian (PTIK) yang selama ini terbatas sebagai pendidikan
lanjutan bagi polisi dari Akademi Kepolisian (Akpol), dinyatakan
terbuka untuk anggota Polri yang bukan lulusan Akpol. Kebijakan ini
merupakan satu gebrakan dan langkah baru serta bersejarah, sekaligus
menunjukkan PTIK tidak lagi akan “dimonopoli” para perwira lulusan
Akpol saja.

Kebijaksanaan itu juga berarti bahwa para perwira Polri non-
Akpol seperti polisi yang bergelar insinyur kimia, dokter, sarjana
hukum, sarjana ekonomi, sarjana ilmu sosial dan lain-lainnya, mulai
tahun 1992 bisa mengikuti program pendidikan di PTIK.

“Zaman sudah berkembang. Kalau kami hanya menerima lulusan
Akpol, orangnya cuma sedikit. Kami membutuhkan orang-orang yang
memiliki kemampuan akademis lebih banyak. Sekarang spektrum ilmu
pengetahuan yang menyangkut tugas kepolisian makin luas,” tandas
Gubernur PTIK Mayjen (Pol) Drs Moch Affandi kepada Kompas.

Dahulu, jika orang belajar ilmu kepolisian, intinya sosiologi
dan hukum pidana. Sekarang harus mempelajari hal-hal yang lebih jauh
dari itu, lebih luas dan mendalam. Dulu polisi mempelajari ekonomi
cukup yang makro, tapi sekarang yang bersifat mikro pun harus
dipelajari juga. Banyak hal baru yang tidak diperkirakan sebelumnya,
misalnya tumbuhnya kejahatan ekonomi menyangkut kartu kredit, uang
giral, pasar modal, bursa efek dan sebagainya.

Demikian pula dengan ilmu hukum. Kini tidak sekadar belajar
hukum internasional, tapi harus lebih jauh dan dalam. Soal
pariwisata yang menyangkut wisatawan mancanegara misalnya, bagaimana
polisi bisa mengamankan turis-turis asing yang datang ke Indonesia
sekaligus mencegah terjadinya kejahatan yang dilakukan mereka.

Pendek kata, Polri yang diserahi tanggung jawab menjaga
keamanan dan ketertiban, harus pula mampu memecahkan masalah-masalah
sosial yang terus akan meningkat, yang tidak cukup hanya
mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan
ilmu pengetahuan. Menghadapi jenis dan bentuk kejahatan berdimensi
baru misalnya, polisi harus mampu mengantisipasinya. Jangan sampai
polisi selalu ketinggalan selangkah, sementara kejahatan sudah
sedemikian majunya.

Menurut Mayjen Affandi, kebutuhan akan polisi yang cakap dan
terampil dewasa ini sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Seorang
perwira yang menduduki jabatan di kantor Polres (Kepolisian Resort)
misalnya, selain berkemapuan profesional kepolisian juga harus
mengerahkan kemampuan akademiknya. Ia harus mampu merumuskan dan
mengembangkan sesuatu yang bersifat invention dan inovation bagi
kemajuan satuannya.
***

KEINGINAN PTIK “membuka” diri bagi anggota Polri non-Akpol ini
tampaknya mendapat reaksi berbagai pihak. Di satu sisi, bagi
pengembangan ilmu kepolisian dan bagi PTIK sendiri, kebijakan baru
ini bermanfaat. “Siapa pun boleh mempelajari ilmu kepolisian. Dengan
demikian, makin terbuka kesempatan untuk mengembangkan ilmu ini
lebih jauh,” kata seorang perwira menengah.

Menurut Kapolri Letjen (Pol) Drs Kunarto, kebijakan ini sudah
lama dipikirkan dan baru dapat direalisasi tahun 1992, pada saat
penerimaan mahasiswa PTIK angkatan ke-29. “Langkah pimpinan Polri
ini memberikan kesempatan bagi polisi dari disiplin ilmu lain untuk
memperdalam ilmu kepolisian dan memperluas jenjang karier mereka di
kepolisian,” tandas alumnus PTIK angkatan IX/Rajawali itu.

Di sisi lain, kebijakan baru ini menimbulkan kecemasan bagi
sejumlah perwira, yang khawatir kebijakan ini malah akan “merusak”
sistem pengembangan karier kepolisian. Seseorang yang lulus dari
Akademi Kepolisian umumnya melanjutkan pendidikan ke PTIK yang sudah
merupakan satu paket, meskipun tidak semua orang mendapat kesempatan
masuk perguruan tinggi tersebut.

Sejumlah perwira menengah mengatakan, perwira non-Akpol yang
diterima di PTIK dikhawatirkan tak bisa menyesuaikan diri dengan
perwira lulusan Akpol yang sudah terjun ke lapangan. Diperkirakan
akan ada kesenjangan antara perwira dari Akpol dan perwira non-Akpol
ketika sama-sama belajar di PTIK. “Karena ilmu kepolisian yang
diserap dari Akpol dan PTIK merupakan satu paket,” ungkap beberapa
perwira Polri melontarkan pendapat.

Sebagian perwira mengungkapkan, pendidikan di Akpol jelas
berbeda dengan pendidikan di kampus lain, terutama kedisiplinannya.
“Apakah seorang sarjana muda atau sarjana yang mengikuti pendidikan
perwira militer sukarela selama sembilan bulan dapat disamakan
dengan lulusan Akpol yang mengenyam pendidikan selama empat tahun ?”
tanya mereka.
***

TERLEPAS dari komentar tersebut, yang jelas, dengan terbukanya
PTIK bagi anggota Polri non-Akpol, persaingan masuk PTIK makin ketat
dan tajam. Tapi beberapa mahasiswa PTIK yang ditanya Kompas umumnya
menyatakan tidak perlu merasa khawatir dengan ‘persaingan’ tersebut.

“Justru hal ini akan menumbuhkan iklim kompetisi yang sehat. Dengan
demikian suasana tak akan monoton dan diharapkan PTIK makin
berkualitas. Sudah bukan zamannya lagi sarjana kepolisian itu minded
kepolisian. Dan kami yakin, PTIK di masa mendatang mampu
menghasilkan polisi-polisi modern era baru,” kata sejumlah mahasiswa
PTIK yang tak mau disebut jati diri mereka.

Kolonel (Pol) Drs M. Wresniwiro, Kepala Sub Dinas Penerangan
Umum Mabes Polri juga berpendapat, kebijakan baru ini akan membuka
peluang bagi pengembangan ilmu-ilmu terapan bagi kepentingan Polri
di masa mendatang. Tentang kekhawatiran sejumlah perwira yang
mencemaskan “rusaknya” sistem pengembangan karier, Kolonel M.
Wresnewiro yang juga sarjana ilmu sosial Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta lulusan tahun 1966 itu mengatakan, pendidikan di PTIK
hendaknya tidak dikaitkan dengan karier kepolisian. “Soal karier
adalah soal kemampuan melaksanakan tugas dan soal nilai manusia,”
ujarnya.

Kapolda Jawa Timur Mayjen (Pol) Drs Koesparmono Irsan juga
sangat antusias dan menyambut baik rencana PTIK terbuka bagi anggota
Polri non-Akpol. “Ilmu-ilmu kepolisian tidak hanya bersumber dari
polisi. Kita harus punya wawasan yang luas. Bisa saja seorang
Kapolri di masa mendatang itu seorang sarjana hukum atau sarjana
ekonomi yang juga lulusan PTIK,” kata alumnus PTIK angkatan
VIII/Mintaraga itu di sela-sela acara satu seminar di Jakarta
beberapa waktu lalu.

Gubernur PTIK Mayjen (Pol) Drs Moch Affandi sendiri menegaskan,
PTIK sebagai sekolah kedinasan justru dipersiapkan untuk lulusan
Akpol yang terseleksi dan terpilih. “Jadi tidak semua lulusan Akpol
bisa ke PTIK. Mereka yang terbaiklah yang harus memikirkan masa
depan Polri ini,” kata alumnus PTIK angkatan IX/Rajawali itu.

Affandi membantah kesan bahwa para pejabat teras Polri harus
lulusan Akpol dan PTIK. “Itu tidak mutlak. Buktinya ada Brigjen
dokter Hadiman, Kapolda Sumatera Utara. Ada Brigjen Jeanne Mandagi
SH, Kadispen Polri. Ada Kolonel Taufiq Effendi, Sekretaris Deputi
Operasi Polri,” jelasnya. “Persoalannya sekarang, apakah berprestasi
atau tidak. Bagi lulusan Akpol dan PTIK yang tidak berprestasi, yah
sorry saja. Jadi soal jabatan, tidak ada kaitan dengan PTIK atau
bukan PTIK,” tandas Affandi yang pernah menjabat Direktur Pendidikan
Polri.
***

PTIK kini memang berbenah diri. Perguruan tinggi ini
mempersiapkan tenaga-tenaga perwira polisi yang selain memiliki
kemampuan profesional kepolisian, juga kemampuan akademik, sehingga
mereka mampu memimpin kesatuan dengan mengantisipasi dan memecahkan
masalah-masalah baru yang muncul.

Menurut Dekan PTIK Jenderal Pol (Purn) Prof Dr Awaloedin Djamin
MPA, PTIK yang saat ini berkapasitas sekitar 200 orang, dalam waktu
dekat akan berganti menjadi Institut Ilmu Kepolisian, sesuai Undang-
undang No 2 tahun 1989. Dalam UU itu dijelaskan, Institut merupakan
perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang
menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam
sekelompok disiplin ilmu yang sejenis.

Hal ini berarti institut ini akan memiliki fakultas-fakultas
administrasi kepolisian, hukum kepolisian dan kriminalistik. “Polisi
masa depan harus ahli di bidang tertentu, harus memiliki
spesialisasi,” kata Awaloedin, alumnus PTIK angkatan III yang juga
mantan Kapolri periode 1978-1982.

Memang, untuk menjawab tantangan masa depan, terutama
mengantisipasi kejahatan dimensi baru yang makin maju dan canggih,
Polri mau tak mau dari sekarang harus mempersiapkan tenaga-tenaga
perwira yang cakap, mahir dan terampil dalam bidangnya masing-
masing. Jangan sampai terjadi, kejahatan sudah maju dua-tiga
langkah, polisi masih saja terus ketinggalan selangkah di belakang,
seperti yang pernah dikatakan Kapolri Letjen Kunarto beberapa waktu
lalu. Tentunya ini “pekerjaan rumah” bagi PTIK untuk menjawab
tantangan tersebut… (Robert Adhi Ksp)

FOTO ilustrasi di blog ini, kampus PTIK, diambil dari http://www.ptik.ac.id/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s