PTIK Selayang Pandang

KOMPAS

Rabu, 12 Feb 1992

Halaman: 12

Penulis: KSP


PTIK SELAYANG PANDANG

HAMPIR semua pejabat teras Polri pernah mengenyam pendidikan
tinggi di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian), dan kenyataan itu
tak dapat dipungkiri. Selama ini PTIK memang merupakan salah satu
pencetak sumber daya manusia bagi Polri.

Dari sebelas Kepala Kepolisian RI (Kapolri), enam di antaranya lulusan PTIK. Lima mantan Kapolri, Jenderal Hugeng Iman Santoso (angkatan I), Jenderal Widodo Budidarmo (angkatan III), Jenderal Awaloedin Djamin (angkatan III),
Jenderal Mohammad Hasan (angkatan V), Jenderal Moch Sanoesi
(angkatan VII) dan Kapolri sekarang Letjen Kunarto (angkatan IX).
Bagaimana riwayat perkembangan PTIK ?

Sejak zaman penjajahan, pendidikan perwira polisi berada di
Sukabumi, disesuaikan dengan keinginan pemerintah kolonial. Pada
awal revolusi, kelompok instruktur polisi masing-masing RS Soekanto,
Broto Murdokoesoemo, Boestami Aman, Djojodirdjo berusaha membangun
kepolisian di Indonesia. Waktu itu timbul gagasan, kepolisian tak
boleh ketinggalan dalam menghadapi kejahatan.

Lalu muncul pemikiran, bagaimana mendidik kader dan pimpinan
kepolisian yang dapat berpikir sistematis, metodik, mampu mencari
dan mengungkap berbagai kejahatan dengan pengetahuan modern sehingga
mampu menanggulangi segala bentuk kejahatan dengan tuntas.
***

TANTANGAN itu mendorong pendirian sekolah polisi dengan standar
akademi. Gagasan itu pun dengan gigih diperjuangkan, sampai akhirnya
terwujud Sekolah Polisi Bagian Tinggi di Mertoyudan, Magelang
melalui pengesahan Menteri Dalam Negeri, 17 Juni 1946. Nama itu
berganti menjadi Akademi Polisi yang peresmiannya dihadiri Presiden
Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta.

Saat itu Akademi Polisi Mertoyudan dilengkapi dengan dosen dan
dewan guru besar antara lain Prof Dr Soepomo, Prof Mr Soenario
Kolopaking Sanjaya Wijaya, Prof Dr Prijono dan Ki Hajar Dewantara.
Pada akhir September 1946, situasi negara mempengaruhi kelancaran
pelaksanaan pendidikan Akademi Polisi, sehingga memaksa akademi itu
dipindahkan dari Mertoyudan ke Yogyakarta.

Pelaksanaan pendidikan Akademi Polisi tidak selancar yang
diharapkan, karena “terganggu” dengan berbagai peristiwa yang
mengharuskan para mahasiswa ikut berjuang bersama rakyat menghadapi
Agresi I Belanda (21 Juli 1947), Pemberontakan PKI di Madiun (1948)
dan Agresi II (1949).

Setelah pengakuan kedaulatan RI pada 27 Desember 1949, Akademi
Polisi dipindahkan ke Jakarta seiring dengan perpindahan pusat
pemerintahan dari Yogyakarta ke Jakarta. Di Ibu Kota Jakarta, nama
Akademi Polisi diubah menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
(PTIK) dengan ketua dewan guru besar dijabat Prof Mr Djokosoetono
SH. Pada tahun 1952, untuk pertama kalinya PTIK merayakan dies
natalisnya sekaligus mewisuda 16 orang sarjana ilmu kepolisian
dengan gelar doktorandus. Sampai tahun 1992 ini, PTIK sudah mewisuda
perwira dalam 26 angkatan.
***

PENGELOLAAN bidang akademik pendidikan tinggi yang
diselenggarakan PTIK diserahkan Kapolri kepada Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan. Hal ini tercantum dalam Surat Keputusan Bersama
Mendikbud dan Kapolri No 1214/0/1980 No Pol Kep/12/VII/1980 tentang
Pembinaan, Pengembangan dan Tanggung Jawab bidang Akademi Perguruan
Tinggi Ilmu Kepolisian oleh Depdikbud, yang ditandatangani tanggal
11 Agustus 1980 oleh Kapolri Jenderal (Pol) Prof Dr Awaloedin Djamin
MPA dan Mendikbud Prof Dr Daoed Joesoef. Untuk mewujudkan keputusan
ini ditunjuklah Universitas Indonesia sebagai universitas pembina
PTIK.

Beberapa nama tercatat sebagai pengajar dan guru besar PTIK
seperti Prof Dr Harsja W. Bachtiar, Prof Dr TO Ihromi, Prof Dr
Juwono Sudarsono, Prof Dr Satjipto Rahardjo, Dr Bachtiar Aly dan
lain-lain.

PTIK dipimpin seorang Gubernur dengan pangkat Mayor Jenderal.
Pendidikan di PTIK berlangsung selama satu tahun (dua semester).
Materi kurikulum, metode dan pengajarannya diorientasikan pada
pemecahan masalah-masalah kepolisian yang berkembang dalam
masyarakat modern. Polri dituntut untuk memiliki banyak bidang
keahlian dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Antara lain bidang
administrasi kepolisian, hukum kepolisian, lalu lintas, kriminologi,
kenakalan remaja dan sebagainya.

PTIK juga bertugas sebagai lembaga pengembangan ilmu dan
teknologi kepolisian, didukung dengan berdirinya Pusat Pengembangan
Ilmu dan Teknologi Kepolisian (PPITK).

Untuk mendalami bidang-bidang tertentu, PTIK menjalin kerja
sama dengan kepolisian negara-negara asing, seperti dengan Inggris,
Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, Australia. Amerika Serikat,
Singapura dan lain-lain.

Itu semua untuk memantapkan keberadaan PTIK sebagai lembaga
pendidikan tinggi yang mengembangkan ilmu kepolisian di Indonesia
dan menghasilkan polisi-polisi modern era baru. (ksp)

LINK TERKAIT http://www.ptik.ac.id/, http://www.polri.go.id/riset/jwbptik.php


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s